Harga Sesuatu: Tergantung Siapa yang Mengenalnya bagian (1)

Pagi pagi sekali, saya buka Handphone, saya menemukan satu postingan di berbagai group WhatsApp tentang sebuah nilai. Saya teringat pada kuliah seorang Profesor di UGM, ketika mengajarkan semiotik. Bahwa arti sebenarnya adalah apa yang anda pahami tentang sesuatu itu. Kemudian dalam beberapa Minggu terakhir, publik Indonesia dibuat ternganga oleh diskusi publik mengenai Arti Pancasila. Rocky Gerung memberikan komentar mengenai betapa lemahnya sebuah makna ketika kita hanya melihat sebuah konsep secara etimologi, Rocky menawarkan konsep hermeneutika, atau dalam konsep Jacques Derridda menawarkan konsep penelusuran jejak, sebagai bentuk cara untuk memberikan nilai terhadap sesuatu.

Konsep itu merupakan salah satu cara untuk memberikan makna terhadap sesuatu. Dalam cerita mengenai harga seekor ikan, yang beredar dalam dunia pesantren, sang kyai mengajari santrinya untuk menawarkan seekor ikan kepada khalayak. Begini cerita santri dan harga seekor ikan. Cerita ini banyak beredar di grup WhatsApp.

****

Santri dan Harga Seekor Ikan

Seorang santri sedang membersihkan aquarium Kyainya, ia memandang ikan arwana merah dengan takjub..
Tak sadar Kyainya sudah berada di belakangnya.. “Kamu tahu berapa harga ikan itu?”. Tanya sang Kyai..
.
“Tidak tahu”. Jawab si Santri..
.
“Coba tawarkan kepada tetangga sebelah!!”. Perintah sang Kyai.
.
Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga..
Kemudian kembali menghadap sang Kyai. .
“Ditawar berapa nak?” tanya sang Kyai. .
“50.000 Rupiah Kyai”. Jawab si Santri mantap..
.
“Coba tawarkan ke toko ikan hias!!”. Perintah sang Kyai lagi..
.
“Baiklah Kyai”. Jawab si santri. Kemudia ia beranjak ke toko ikan hias..
.
“Berapa ia menawar ikan itu?”. Tanya sang kyai..
.
“800.000 Rupiah Kyai”. Jawab si santri dengan gembira, ia mengira sang Kyai akan melepas ikan itu..
.
“Sekarang coba tawarkan ke Si Fulan, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan itu sudah pernah ikut lomba”. Perintah sang Kyai lagi..
.
“Baik Kyai”. Jawab si Santri. Kemudian ia pergi menemui si Fulan yang dikatakan gurunya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang guru.
.
“Berapa ia menawar ikannya?”.
.
“50 juta Rupiah Kyai”.
.
Ia terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang bisa berbed-beda..
.
“Nak, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat..”.

.
“Oleh karena itu, jangan pernah kamu tinggal di tempat yang salah lalu marah karena tidak ada yang menghargaimu.. Mereka yang mengetahui nilai kamu itulah yang akan selalu menghargaimu..”.
Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita.
Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita.
Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita.
Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita.
Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah-lelah agar tampak baik di mata orang lain.

Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang takkan pernah tergapai sampai kapanpun.
Sedangkan Ridha Allah, destinasi yang pasti sampai, maka tinggalkan segala upaya mencari keridhaan manusia, dan fokus saja pada ridha Allah .

****

Dalam kajian filsafat, makna sesuatu akan ditentukan oleh seberapa jauh penelusuran jejak kita terhadap sesuatu itu (Deridda), sementara Gadamer  akan menawarkan game atau permainan antara teks dengan sejarah yang membentuk teks itu. Bahwa makna sesuatu Makna adalah pemainan bolak balik antara teks dengan sejarah yang membentuknya. Makna akan bermain pada ranah itu. Sementara Bourdieu melihat bahwa kemampuan seseorang (actor)u  memahami sebuah ranah ditentukan oleh apa yang disebutnya dengan modal budaya, modal sosial, modal simbolik dan modal finansial yang dimilikinya.

Harga seekor ikan yang ada dalam cerita di atas merupakan hikmah yang diajarkan oleh seorang kyai kepada muridnya, tetapi dari segi paradigma sebenarnya sang Kiai sedang mengajarkan tentang makna semiotika, yang dalam kajian Gadamer disebut dengan  hermeneutik, atau dalam istilah Deridda dikenal dengan konsep penelusuran jejak.

Baca Juga Intrik Kuasa: Memicu Seteru, Memacu Konflik Wuna–Buton

Seseorang akan mengenal sesuatu berdasarkan pengalaman dia tentang sesuatu itu, atau pengetahuan dia tentang sesuatu itu. Jika ia tak mengenal sesuatu itu dengan baik, tidak melakukan penelusuran jejak atas sesuatu itu, maka ia tidak akan mampu memberikan nilai apa-apa terhadap sesuatu itu.

Seseorang yang kaya-raya akan mengajarkan anaknya untuk tidak bekerja keras, bukan karena dia tidak mau mewariskan hartanya kepada anaknya, tapi dia akan mengajarkan betapa bernilainya sebuah prestasi atau harta yang ditempuh dengan jalan yang baik, kerja keras, karena seseorang yang kaya-raya mengerti dan memahami bahwa nilai harta yang dimilikinya akan dipahami oleh anaknya kalau ia mengajari anaknya bagaimana caranya mengumpulkan uang. Seseorang yang tidak pernah memahami atau tidak pernah mengalami bekerja keras untuk sukses tidak akan pernah menghargai kesuksesannya.

Mengapa orang sangat bersyukur? Karena dia memiliki jejak untuk dapat mencapai kesuksesan. Ia memiliki jejak betapa beruntungnya dia jika dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya. Cerita di atas menunjukkan bahwa, semakin dalam anda memahami sesuatu, maka anda akan semakin kuat dalam memberikan nilai dan makna terhadap sesuatu itu.

Baca Juga BERHARAP Cinta dalam Sarung

Ada aspek yang perlu dipahami dalam cerita di atas, sang kyai mengajarkan sebuah hikmah kepada santrinya, bahwa jangan mencari ridho dari manusia, tetapi carilah ridho dari Allah. Ini adalah hikmah dari sang Kiai, bahwa menilai sesuatu itu, akan tergantung dari bagaimana pemahaman manusia terhadap sesuatu. Jika seorang manusia melihat sesuatu dari perspektif cinta, maka semuanya akan memberikan nilai yang bagus, sebuah nilai yang berlandaskan kasih sayang. Tetapi jika seorang manusia, memiliki perspektif yang berbasis kebencian, maka semua nilai akan dibangun atas kebencian, mengapa? Karena perspektif dibangun oleh sebuah paradigma. Dan paradigma akan berbasis pada sebuah nilai yang ada dalam kepalanya, dan nilai ditentukan oleh sejarah yang dibentuk pengetahuan atau kesadaran seseorang.

Mengapa Allah menjadi destinasi akhir? Karena sesungguhnya, Allah memiliki keluasan paradigma dalam melihat sesuatu, dan berbagai paradigma yang digunakannya semua berlandaskan nilai-nilai Rahman rahim, yaitu nilai kasih sayang.

Dengan demikian, cerita di atas sebenarnya, perspektif barat itu adalah cerita tentang semiotika dan hermeneutika. Sebuah konsep yang mengajarkan tentang bagaimana sesuatu itu bernilai. jangan pernah berpikir untuk menanyakan sebuah nilai kepada orang yang tidak memiliki jejak terhadap sesuatu itu. Mereka yang pernah memiliki jejak terhadap sesuatu, memberikan nilai sebagaimana ia mengenal sesuatu itu.

Bagaimana dalam konteks Indonesia? Tentunya sejarah perjuangan bangsa, harus tetap diajarkan kepada generasi, agar mereka bisa memahami atau mengajak mereka untuk menelusuri jejak sejarah perjuangan bangsa dari hari ke hari. Nasionalisme akan berkurang jika mereka tidak mengerti tentang sejarah perjuangan kemerdekaan. Kreativitas dan inovasi akan berkurang ketika mereka tidak memiliki jejak persaingan global. Kerja Sama tidak akan pernah dihargai, jika mereka tidak pernah menelusuri jejak betapa banyaknya orang yang gagal dalam berbagai usaha ketika mereka bermain sendiri sendiri. Generasi Indonesia juga akan gagal dalam berbagai kehidupan mereka termasuk dalam dunia bisnis, jika mereka tidak pernah memahami tentang pentingnya modal budaya dan modal sosial yang menjadi pondasi dari bisnis mereka.

Baca Juga Algoritma La Morumoru (Bagian 1)

Seorang anak pun tidak akan mampu menghargai orang tuanya, ketika ia belum pernah merasakan, kenapa sepi dan sunyi hidupnya jika ia tidak memiliki orang tua. Oleh karena itu, apa yang diajarkan oleh sang Kiai, merupakan hikmah, dan sesungguhnya sang kyai sedang mengajarkan para santrinya tentang semiotik barat yang di dunia Islam dikenal ilmu hadist ilmu hadits atau tafsir ilmu tafsir.

Baca Juga Tindoi: Jejak Peradaban (ini Catatan untuk Kadis Pertanian, tentang Kebijakan Pertanian Raja Liya)

Permandian Bantimurung: Sumber Devisa Kabupaten Maros

Ara Nobhae na Gendi: Nokoru Nawokirano (Kalau beringin itu masih berbuah, merpati mutiara akan banyak yang datang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *