Harga Kelapa Terjun Bebas: Bagaimana Nasib Petani di Desa?

96a179da-5b85-486d-a3e1-910f719d68f8.jpg
Sariadin, SH saat meninjau Petani kelapa Binaan di Kolono Sultra 

Kolono – Beberapa hari terakhir, harga kelapa di beberapa pasar di Sulawesi Tenggara sangat tertekan. Ketika dikonfirmasi pada pengumpul kelapa yang ada di Wakatobi misalnya, harga kopra perkilo gram dikisaran Rp.3.750 perkilogram. Ini sangat berat bagi petani kelapa. Sehingga kalau tidak ada inovasi, petani kelapa dapat patah semangat. Direktur CV. Putra Mahkota Sariadin, SH. yang bergerak dibidang ekspor impor hasil bumi mengatakan bahwa “Kelapa sebenarnya merupakan potensi ekonomi yang besar, hanya saja belum terkelola dengan baik”, tuturnya.

Kalau kita melihat perbedaan harga kopra hitam atau biasa yang sangat signifikan dengan harga kopra putih yang berada pada kisaran Rp. 8.000-9.000 /kg, maka ada jarak yang sangat besar. “Ini sangat menguntungkan jika dikelola dengan inovasi, hanya mengelola kopra menjadi kopra putih, petani dapat untung. Di sini, perlu penyuluhan dan intervensi pemertintah agar petani dapat memiliki keterampilan dalam pengelolaan kopra putih”.

Baca Juga Pinang: Tanaman yang Jangka Panjang yang Bernilai Ekonomis

Sariadin, SH. juga menambahkan bahwa pada komoditas kelapa sebenarnya yang dapat diolah itu bukan hanya kopranya, tetapi juga termasuk serabut, tempurung, dan semuanya itu sudah ada yang akan membelinya. Untuk serabut, beberapa negara yang akan membeli itu adalah Arab Saudi dan Libanon, sementara arang tempurung atau brikat, yang menerima produk ini adalah Libanon, Qatar, Arab Saudi, dan Kanada”, sambil tersenyum. Itu artinya, bahwa kalaupun harga kelapa jatuh saat ini, tetapi kebutuhan dunia akan hasil pertanian ini masih ada harapan.

b6514527-a699-47af-823b-3c4e0eb02b3e.jpg
Petani Pengolah Kopra Putih di Kolono

Oleh karena itu, Sariadin, SH. mengatakan bahwa petani kelapa yang saat ini sedang terpuruk, memerlukan inovasi untuk mengelola kelapanya, misalnya pembuatan kopra putih, sabuknya juga sudah harus diolah, sementara tempurungnya juga sudah harus diolah, sehingga ada penghasilan tambahan, jika dibandingkan dengan cara pengolahan kopra tradisional, yaitu kopra hitam.

Baca Juga Mengembangkan Tanaman Hortikultural: Menuju Kemandirian Pangan Wakatobi

Dia juga menambahkan, ketika arang tempurung dan atau brikat ini dikelola, maka sebenarnya negara ini masih memiliki asset yang sangat luar biasa besarnya. Kebutuhan karbon dunia, itu terlalu besar, hanya 5-20% karbon yang dapat dipenuhi oleh dunia. Sementara hasil riset tahun 2014 yang lalu, temuan karbon yang memiliki kekuatan 100 kali kekuatan baja, menunjukan bahwa dunia di masa yang akan datang akan sangat tergantung dari bahan karbon, yaitu arang tempurung. Artinya dimasa depan, arang tempurung akan memiliki harga yang baik dan kompetitif. Sehingga melihat harga kopra yang jatuh, petani jangan patah semangat, karena masa depan kelapa ini akan sangat menentukan perekonomian bangsa, dan dapat menyerap tenaga kerja yang banyak”, tuturnya saat dihubungi melalui telpon (su001).

Baca Juga Kelapa: Salah Satu Komoditas yang Terabaikan

Transformasi Mitos ke Konsep Konservasi Modern: Bank Ikan pada Desa Wisata Kulati (bagian 1)

Ikan Asar menjadi salah satu Oleh-Oleh Khas Raja Ampat

4 thoughts on “Harga Kelapa Terjun Bebas: Bagaimana Nasib Petani di Desa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *