Harapan dan Cinta: Dua Sayap untuk Mewujudkan Mimpi Anak yang sedang Sekolah di Rumah

Sejak Indonesia menghentikan proses belajar mengajar di sekolah dan berubah menjadi pendidikan berbasis online, maka banyak yang hilang dalam proses pendidikan anak-anak kita. Mereka akan kehilangan kontak dengan guru dan teman-temannya. ANak-anak kita kehilangan dunia sosial mereka, juga kontak dengan gurunya. Mereka hanya bertemu dengan guru dalam proses tranfer pengetahuan, dan kehilangan kontrol dan perilaku dan juga mimpi-mimpi yang dapat dibangun bersama di sekolah.

Di sisi yang lain, orang tua juga akan semakin banyak tugasnya. Mengerjakan pekerjaan yang juga dilakukan dari rumah, akan semakin berat bagi seorang orang tua yang bekerja dan juga harus mengajar dan juga mendidik anak-anak mereka. Sehingga walaupun sekolah di rumah, anak-anak tidak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seperti mereka masih di sekolah. Anak-anak harus tetap mendapatkan jadwal dari sekolah dan juga silabus, sehingga ada indikator materi yang harus ditempuh oleh semua anak didik selama mereka berada di rumah.

Di era teknologi informasi seperti ini, materi tentunya sangat banyak. Orang tua dapat mendapatkannya dengan mudah, tetapi anak-anak tetap butuh pengawasan dan pendampingan. Terutama dalam mengakses internet, dan juga ketika di rumah tidak memiliki perpustakaan dan ruang baca yang nyaman.

Di sisi yang lain, pendidikan juga harus membangun jiwa anak-anak kita, maka di sini, peran orang tua akan tampil sebagai seorang pendidik. Harus tampil untuk membangun motivasi kepada anak-anak yang sedang sekolah dari rumah. Ini paling penting, karena untuk menggerakkan anak-anak, orang tua harus mampu membangun harapan untuk anak-anaknya. Ini sangat penting, agar anak-anak bergerak dari dalam, mereka belajar untuk mencapai harapan dan mimpi yang sudah kita bangun bersama. Di sini, mimpi atau harapan ini harus dibangun bersama-sama, sehingga seorang anak menemukan mimpinya sendiri. Setelah itu, setelah anak itu mendapatkan mimpi dan harapannya, maka tugas orang tua adalah merawat mimpi itu, dengan menyiapkan semua perangkat dan sistem agar anak itu dapat mewujudkan mimpinya.

Untuk mewujudkan mimpi itulah, tentunya akan berhadapan dengan berbagai kendala dan tantangan, maka orang tua harus memberian kasih sayang sebagai peneguh dari harapan atau mimpi-mimpi anak. Mereka membutuhkan dua saya itu untuk membangun mimpi suksesnya di masa depan.

Dengan demikian, orang tua perlu memiliki dua sayap kesuksesan ini, sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran yang dilakukan selama sekolah berbasis online. Orang tua juga harus mampu mewujudkan harapan dan dukungan kasih sayang kepada anak-anak didik yang sedang belajar di rumah. Perilaku mendidik dapat menjadi perhatian bagi seluruh orang tua.

Kita bisa mengenang satu cerita tentang ibu Thomas Alfa Edison yang mendapatkan surat dari sekolah anaknya, yang dititip guru pada anaknya. Berdasarkan hasil rapat dan pertimbangan guru di sekolah, maka Edison adalah murid yang bodoh dan tidak dapat lagi dididik di sekolah, karena bodoh. Lalu sekolah memberikan surat kepada ibu Edison yang dititip melalui Edison. Edison dilarang untuk membuka surat tersebut, hingga ibunya yang membuka surat itu. Sesampai di rumah, Edison memberikan surat itu kepada ibunya, dan dengan hati-hati ibunya membaca surat itu. Hatinya begitu terpukul, karena Edison sudah dikeluarkan dari sekolah, karena kemampuan Edison di bawah rata-rata dan dikhawatirkan untuk tidak dapat menyelesaikan sekolahnya. Melihat surat itu, ibu Edison begitu terpukul dan kemudian ia sadar bahwa surat itu tidak boleh dibaca oleh Edison. Dan kemudian ia membangun harapan pada Edison. Ia harus merahasiakan isi surat itu.
Ketika Edison bertanya mengenai isi surat itu setelah makan, ibunya mengatakan bahwa mulai besok, kau tidak boleh lagi ke sekolah! kata ibunya melemas.
Edison kemudian bertanya, “Mengapa tidak bisa lagi ke sekolah? maka ibunya memeluknya dan berkata, bahwa “Sejak besok, kau tidak bisa lagi ke sekolah, karena kau adalah murid yang cerdas dan pintar, sehingga kau cukup belajar sendiri di rumah dan juga di luar rumah”. Ibunya berbohong mengenai isi surat, tetapi ia balik untuk membangun harapan putranya yang bodoh itu. Sepanjang waktu, itu Edison mendukung dengan memberikan kasih sayang dan harapan. Hingga Akhirnya Edison menemukan Bola lampu, yang dipersembahkannya kepada dunia.

Tiga puluh tahun kemudian, Edison di tengah kesuksesannya, ia teringat pada surat yang diberian sekolah puluhan tahun itu. Ia pergi mencari surat yang diberikan sekolah itu dilaci pribadi almarhum ibunya. Ia membuka surat hebat itu, karena sekolah mengakui kehebatannya, surat yang menggerakkan semangatnya untuk tetap belajar di rumah dan luar rumah. Ia berpikir, betapa hebat surat itu, hingga ia mengejar harapannya siang malam, selalu bangkit pada setiap kegagalan. Hanya karena ia adalah orang yang hebat, yang dikeluarkan sekolah hanya karena kehebatannya.

Ia membuka surat itu penuh semangat, lalu ia membacanya, ternyata surat itu adalah surat pemecatan dia sebagai murid karena ia adalah murid terbodoh di sekolahnya. Ia begitu terpukul, dan ia menangis, mengenang ibunya, pahlawannya. Andaikan ia diberitahu isi surat sebenarnya, maka ia mungkin akan putus asa untuk mewujudkan semua percobaannya yang gagal. Edison begitu bersyukur, karena ibunya mampu memanipulasi keadaan untuk membangun harapan dan kasih sayang padanya. Ia mengenang almarhum ibunya, karena ibunyalah yang mampu membangun harapan dan memberikan kasih sayang, sehingga Edison menjadi sukses dan memberikan kontribusi pada kehidupan manusia modern.

Oleh karena itu, cerita itu dapat mendorong kita sebagai orang tua dan sekaligus guru di rumah selama pandemi ini. Kita dapat belajar bagaimana Ibu Edison menjadi contoh untuk membangun harapan bagi anak-anak yang sedang belajar di rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *