Generasi Milenial vs Kesiapan Sekolah dan Lingkungan di Era 4.0

Setiap zaman ada tokohnya, setiap zaman ada generasinya. 20 sampai 40 tahun yang lalu, anak-anak tanpa listrik di berbagai desa di Indonesia adalah anak-anak yang selalu bermain dengan alam, memasang jerat di semak-semak, bermain layang-layang, bermain sembunyi-sembunyi, bermain perang-perangan, dan berbagai permainan lainnya menghiasi generasi 70-an dan generasi 80-an. Mereka terlahir sebagai generasi yang memiliki kedekatan dengan alam, keakraban sosial, serta terbangun persahabatan, dimana anak-anak membangun kelompok-kelompok sosial yang saling berhubungan satu sama lainnya.

Era generasi milenial hari ini, kehidupan anak-anak sudah berhubungan dengan gadget, mereka bermain dengan sistem, akhirnya mereka tidak memiliki pengalaman sosial yang cukup baik, anak-anak milenial tidak memiliki teman di dekat mereka, mereka cenderung bermain sendiri dan individualis. Kalau mereka berteman, pasti mereka bermain dan berteman dengan berbagai orang yang jauh dan bahkan mereka belum pernah temui, mereka mengikuti berbagai informasi yang ada dalam berbagai media yang ada di internet.

Dua tipe generasi yang berbeda, generasi pertama adalah generasi yang kaya dengan kehidupan sosial di kampung, di sekolah, dan juga keakraban di dalam rumah. Sementara generasi kedua adalah generasi yang tidak memiliki pengalaman untuk bermain dengan sahabat-sahabat mereka, generasi yang tidak memiliki pengalaman untuk menjelajahi semak-semak, menjelajahi hutan, menjelajahi lautan, tidak punya pengalaman memancing, tidak punya pengalaman memasang jerat, tetapi mereka memiliki pengalaman yang sangat luar biasa, berselancar pada dunia Internet, mengerti tentang dunia yang jaraknya ribuan kilometer, mengerti tentang berbagai persoalan yang ada di dunia lainnya, tetapi mereka tidak mengerti tentang dunia di sekitar mereka, apalagi lingkungan dimana mereka akan berhubungan di masa depan. Mereka tidak memiliki referensi tentang itu.

Kedua generasi itu kemudian memiliki zaman yang berbeda, generasi pertama membutuhkan teori dan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah, karena referensi mereka sangat terbatas, mereka membutuhkan tuntutan ke berbagai sumber literasi, agar mereka memahami dunia yang lebih luas. Sementara generasi kedua, mereka memiliki banyak akses berbagai sumber literasi yang tersedia di internet. Kelemahannya generasi kedua adalah tidak punya pengalaman dengan dunia nyata. Ini adalah sebuah realitas yang harus disadari oleh dunia pendidikan kita hari ini, sekolah dan masyarakat harus mampu menciptakan sebuah ruang yang berisi tentang pengalaman, yang berhubungan dengan nilai-nilai, pengetahuan yang berhubungan dengan berbagai hal harus dihubungkan dengan kenyataan atau dunia realitas. Generasi kedua membutuhkan pengalaman dalam dunia nyata, dunia kerja agar bisa mengerti dan memahami berbagai referensi yang mereka temukan di internet. Sekolah dan guru harus mampu menciptakan ruang pengalaman yang bisa membentuk pengetahuan, keterampilan dan sikap dari generasi kedua atau generasi milenial.

Tentunya, ini harus disadari bersama oleh sekolah dan masyarakat tempat generasi milenial hidup hari ini. Harus terbentuk ruang lingkungan yang mendukung terciptanya atau terpenuhinya pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang akan membentuk karakter generasi milenial sebagai generasi yang produktif, dan memiliki daya saing global.

Program merdeka belajar yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, merupakan sebuah program yang dapat mendukung terciptanya lingkungan bagi generasi milenial hari ini. Pertanyaannya adalah apakah lingkungan sudah siap untuk memberikan dukungan kepada generasi milenial, misalnya bagaimana dukungan orang tua, kesiapan infrastruktur telekomunikasi, dan juga ketersediaan sumber daya dalam mendukung merdeka belajar sebagai ruang untuk berikan pengalaman kepada generasi milenial yang kaya kepada referensi atau literasi yang berbasis digital hari ini.

Semua ini adalah pertarungan yang bisa memberikan harapan dan sekaligus bisa memberikan gambaran kekalahan generasi kita hari ini. Kesiapan sekolah dan lingkungan serta dukungan infrastruktur, dan sumber daya untuk membangun ekosistem generasi milenial yang cukup, akan memberikan ruang kepada generasi milenial untuk tumbuh sebagai generasi yang produktif dan mampu memainkan peran mereka di era industri 4, 0.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *