Weli’a sebagai Sistem Pertanian Tradisional Masyarakat Wakatobi

Dalam Disertasi yang berjudul “Kajian Welia sebagai Model Pertanian Berbasis Kearifan Lokal di Pulau Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi” yang dipertahankan dalam ujian terbuka di Aula Pascasarjana Universitas Haluoleo, mengatakan bahwa Welia adalah salah satu kearifan lokal yang harus dipertahankan sebagai model pengelolaan lingkungan berkelanjutan di pulau pulau kecil, terutama yang memiliki vegetasi seperti di pulau Wangi-Wangi.

Dengan pola Welia, ditemukan keunggulan baik dari sisi pengelolaan lingkungan berkelanjutan maupun dari sisi sosial budaya. Dari sisi pengelolaan lingkungan berkelanjutan, dapat dilihat bahwa sistem Welia merupakan kearifan lokal masyarakat pulau Wangi-wangi dalam pertanian. Melalui Welia, tanaman bisa tumbuh terutama kacang merah, dan sekaligus sebagai konsep pengelolaan lahan pertanian yang berkelanjutan. Sementara dari sistem sosial budaya, Welia adalah konsep pertanian yang berbasis kearifan lokal yang dapat meningkatkan peran masyarakat lokal dalam pengelolaan lingkungan.

Secara ekonomi, Welia dapat meningkatkan produksi kacang merah di pulau-pulau kecil, seperti pulau Wangi-Wangi. Dengan demikian, sistem felia diharapkan dapat dikembangkan sehingga menjadi salah satu strategi pengembangan kacang merah sebagai salah satu produk pertanian di pulau-pulau kecil.

Dalam tanggapannya, Aminuddin Kandai menilai bahwa sistem Welia dapat dikembangkan sebagai salah satu konsep agrowisata yang dapat dikembangkan di pulau pulau kecil, seperti pulau Wangi-wangi. Menanggapi pertanyaan itu, Harviaddin sebagai promofendus menjawab bahwa “Welia bisa menjadi salah satu kearifan lokal yang dapat dilihat oleh wisatawan yang datang ke Wakatobi. Bahkan ia mengatakan bahwa Welia dapat dijadikan atau dikembangkan dalam pengelolaan lingkungan pertanian di pulau pulau kecil.

Tentunya, pola pengembangan Welia sebagai kearifan lokal, harus dapat dikembangkan secara ekonomi dan lingkungan. Harus dapat dikembangkan secara baik, sehingga wisatawan dapatt melihat sistem pertanian dan juga dapat menikmati hasil pertanian yang dilakukan pasca panen, termasuk jagung dan kacang. Misalnya, bisa menikmati saurondo kacang merah, atau soami kasa sebagai olahan tradisional masyarakat Wakatobi.

Tentunya, untuk bisa mengembangkan sistem Welia, perlunya dilakukan pengembangan pasca panen, sehingga sistem ini dapat berkelanjutan. Salah satunya adalah pengembangan produk berbasis kacang merah dan jagung, sebagai salah satu kuliner yang ada di dalam masyarakat Wakatobi.

Melalui kajian Welia sebagai sistem pertanian berbasis kearifan lokal, ditemukan bahwa ternyata masyarakat Wangi Wangi masyarakat dapat mengurangi perubahan iklim khususnya di pulau Wangi-Wangi.

Pembakaran lahan yang biasa dilakukan oleh masyarakat, dapat dikurangi oleh sistem Welia yang disisakan oleh masyarakat di dalam kebun mereka. Ada partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan, mengingat Wakatobi adalah taman nasional dan sekaligus salah satu cagar biosfer di Indonesia.

Promofendus kemudian berharap bahwa sistem pertanian ini dapat dikembangkan oleh pemerintah daerah, karena ini akan mendukung konservasi lingkungan, sebagai salah satu kekuatan Wakatobi sebagai salah satu daerah 10 Bali baru yang dikembangkan oleh pemerintah RI. Di sisi yang lain, sistem ini akan dapat berkontribusi pada pencapaian terget untuk mengurangi emisi karbon Co2 dan sekaligus untuk memperlambat pemanasan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *