Ekstraordinari Wolanga Ritti

Oleh: Selah Hanan

Bagian 7, fiksi wabah kolera 1970 an, adaptasi dari potongan-potongan fakta wabah korona 2020 di Kepulauan Tukang Besi, Wakatobi.


Pada belanga menghitam
yang mendidihkan air, 
lalu uap panas air itu
membuat masak makanan

Kita tak cerita tentang 
rasa kenyang.
Sesudah perjamuan kita pergi.

Aslinya ia belanga kuningan. Perkakas dari Wolio, buatan kampung Lamangga, di lereng benteng Kesultanan Buton.
Asap dan api, telah membuatnya menghitam di atas tungku.

Memilikinya suatu keistimewaan. Orang kebanyakan, masak pake belanga tanah liat. Itu sebabnya. Hanya kaum berkelas seperti kepala kampung, Bapak La Ode Makansano, memiliki wolanga ritti . Belanga kuningan, berbunyi ting jika jari menjentiknya. Ritti , ting.

Setiap hari ada saja tetangga mau melihat wolanga ritti . Dengan berbagai cara. Misalnya ibu-ibu datang menemani Ibu Makansano cerita di dapur, sambil sekonyong-konyong membantu mengiris sayur, memuji sana-sini, dan semacamnya. Padahal matanya selalu mampir ke wolanga ritti .
Begitu pula para lelaki, anak buah Bapak Makansano, memikul cergen air dari sumur, dan menuangnya ke dalam guci dapur, dimana tungku yang menyimpan belanga diatasnya terlihat dari situ.
Para bapak dan ibu itu, sebenarnya sedang memotifasi diri untuk seberuntung tuan rumah. Mereka bermimpi bisa membeli wolanga ritti . Kekeru ritti dalam bahasa di pulau-pulau seberang, Pulau Kaledupa, Tomia, Kaledupa.

Hari ini hari Kajiri’a , tepat dua puluh enam puasa. Wolanga ritti berperan lebih dari biasanya mengukus soami , makanan pokok orang pulau. Wolanga ritti pada hari besar ini dipakai mengukus nasi ketan, isi liwo .
Kajiri’a salah satu hari besar dalam tradisi Ramadhan di pulau. Bahkan hari paling penting. Dihubungkan dengan malam lailatul qadar. Malam ibadah setara seribu bulan versi muslim pulau ini.

Disamping membuat liwo , tradisi tutungi dan hepatirangga dilakukan tiga malam berturut-turut, untuk memperingati Kajiri’a .
Sejak sore hari, penduduk menyiapkan kulit kima kecil, mengisinya dengan minyak kelapa dan sumbu dari kapas pilin sebesar lidi. Properti itu seluruhnya disebut dengan satu nama: tutungi .
Prosesi tutungi dimulai dengan menyalakan sumbu kapas, lalu tutungi diletakkan dekat tiang pada empat sudut rumah, dan di atas tangga di depan pintu, juga di kuburan anggota keluarga.

Selepas makan malam, para ibu mengunyah daun pacar sampai halus, lalu menempelkan bubur daun pacar itu di atas kuku jari tangan dan kaki anak-anaknya. Daun pohon ara digunakan untuk membungkus tiap jemari, dan mengikatnya dengan janur agar bubur daun pacar di atas kuku tidak jatuh. Tradisi ini hepatirangga namanya.
Tidak banyak penjelasan kenapa semua orang hepatirangga , ketika anak-anak yang bersukaria bertanya. Konon, itu tanda ummat Nabi Muhammad. Hanya begitu.

Biasanya, saat pagi tiba, halaman dan jalan-jalan sangat ramai. Anak-anak, pemuda-pemudi keluar rumah, mendahului ayam turun dari dahan pohon.
Mereka saling mendatangi menunjukkan kuku, bertanding kuku siapa paling merah. Seakan pagi menjelma menjadi festival warnai kuku. Sampai-sampai sisa minyak kelapa dalam kulit kerang di sudut-sudut rumah, berebut mereka oleskan ke kuku, supaya semakin kilap.
Akan tetapi keramaian itu terakhir terlihat tahun lalu. Karena banyak penduduk mengungsi, kini hanya sedikit anak-anak, murung di tangga rumah-rumah. Tak berani menginjak jalan.
Wabah kolera mengganggu festival mewarnai kuku mereka tahun ini. Entah kapan berakhir. Rumah sakit darurat dekat pantai masih penuh pasien. Mantiri Kapala, perawat senior, yang berlomba dengan waktu, berebut keselamatan para pasien, sering kewalahan. Obat-obatan dan cairan inpus kadang habis. Beberapa orang pintar, tukang tiup, dipersilahkan terlibat mengobati pasien, paling tidak mengurus anggota keuarga mereka.
Tugas tukang tiup meramu daun tumbuhan obat dan berdoa. Meniupkan doanya ke tubuh pasien.
Cairan inpus yang habis, disubstitusi air poto , air kelapa muda yang dagingnya masih sangat tipis, licin serupa lendir. Itupun dengan bantuan doa. Tukang tiup membaca doa dan meniup ke dalam lubang pada buah kelapa. Mensugesti.

Lain dengan lima pemuda jamaah langgar kami. Lepas sholat subuh tadi, mereka pergi ke rumah kepala kampung. Bukan untuk memperlihatkan kuku mereka. Tidak juga untuk mengintip wolanga ritti .
Diantar Sauri sejak jam wila rupu , lima pemuda itu akan mengurus sura kataranga, surat keterangan berlayar. Surat tanda perjalanan legal keluar pulau. Berguna untuk melapor kepada pemerintah di tempat tujuan, selaku subjek berasal-usul jelas.
Wila rupu dan wila daoa ialah pembagian waktu dini hari dalam tradisi penduduk sini. Wila berarti pergi, berjalan, dalam bahasa pulau ini. Daoa berarti pasar, rupu berarti kebun.
Diucapkan berpasangan, misalnya wila daoa, maknanya menjadi jam atau waktu ketika penduduk mulai pergi ke pasar lebih dini, untuk berburu komoditi segar dari tangan pertama. Kira-kira wila daoa adalah waktu antara tengah malam dan sebelum fajar menyingsing.

Bila burung kepodang sudah buka suara, berkicau begitu melihat fajar, itu waktu yang disebut wila rupu . Waktu para petani lebih awal menuju kebun di luar kampung agar masih tersentuh embun.

Kajiri’a tiba, lebaran akan tiba, Ramadhan akan berlalu. Lima pemuda itu ingin segera berlayar. Meninggalkan kampung, juga meninggalkan langgar.
Para pemuda yang telah mengisi langgar kosong selama lusinan hari-hari mencekam ditengah wabah kolera. Hari-hari ketika para pemuka agama di langgar mengungsi.
Sauri yang kerap mondar-mandir dengan sepeda kumbang singapura membawakan pilihan-pilihan.
“Sekolah hanya bikin harta di rumah habis. Banyak waktu terbuang,” kata Sauri selalu.
Sauri menghitung, “Enam tahun sekolah dasar, enam tahun sekolah lanjutan pertama dan atas, ditambah sekolah sarjana muda, sudah lebih dua puluh tahun umur habis di bangku sekolah. Terlalu lama.”
Sambil duduk di atas bangku batu, di samping sepedanya, di pinggir jalan depan rumah Ibu Samonde, suatu hari Sauri terus membuat perbandingan.
“Pemuda wajib kerja saat ini. Boleh lanjut sekolah meraih sarjana muda, tapi setelah pumya pengalaman kerja dulu. Jika berlayar dan berdagang dari masa muda bisa segera membawa wolanga ritti untuk ibu.”

Pagi ini, saat pulang dari rumah kepala kampung, Sauri dan lima pemuda yang mendapat kesempatan bergantian naik sepeda kumbang milik Sauri, bertemu Ibu Samonde jalan berdua dengan La Kamba.
Mereka dari rumah tuan guru muda, Ibu Samonde minta tolong dituliskan surat, untuk anaknya yang merantau di Samarinda. Kebiasaan penduduk kampung ini, apabila ingin mengirim surat untuk anggota keluarga di rantau, akan minta tolong para guru menulis.
Tuan guru muda paling banyak didatangi. Disamping murah hati, mudah senyum, kalimatnya kaya sajak, tuan guru muda sudah tercap punya doa pembuat rindu. Bisa membuat anak atau suami yang malas pulang menitikkan air mata saat membaca surat, lalu rindu menemui pengirim surat.
Ibu Samonde ini ingin memanggil anaknya pulang, untuk kerja pada usaha pertanian, peternakan, perikanan massal di pulau. Tuan Guru Isa yang memotori usaha itu, idenya untuk menghadapi musim kelaparan seperti saat terjadi wabah dan cuaca buruk. La Kamba disini orang kepercayaan, tangan kanan. Mandor.
Surat Ibu Samonde akan dikirim melalui orang-orang yang merantau setelah lebaran.
Pertemuan di jalan kali ini, pertemuan dua pikiran. Berlayar ke Singapura dengan sponsor Sauri. Bertani, beternak, dan jadi nelayan dengan sponsor La Kamba. Keduanya bisa menghasilkan wolanga ritti.
Pertemuan ini mengingatkan debat-debat Sauri dan La Kamba di beranda rumah Ibu Samonde sebelumnya.
“Apalah arti wolanga ritti . Setelah terpakai, kita tinggalkan. Menghitam di atas tungku. Panas, bersamanya bara dan abu. Dingin, temannya beratus semut, nyamuk, cicak, kecoa, kalajengking, dan kutu-kutu.
Tanpa makna wolanga ritti hanyalah sebuah alat masak makanan kita.” kata La Kamba ketika itu.

Lima pemuda jamaah langgar menemukan La Kamba dan Sauri, melampauhi imaginasi memiliki alat memasak wolanga ritti. Lima pemuda melihat ruas jalan tranformasi belanga menghitam, untuk bersanding wiibawa dengan makna guci-guci naga di rumah.

Wolanga ritti ruas jalan ekstraordinarimu.

# CeritakanWakatobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *