Ekowisata Mangrove di Desa Tampara Wakatobi Dilaunching

Untuk mewujudkan Wakatobi sebagai destinasi wisata unggulan Indonesia, sebagai Bali baru. pemerintah kabupaten Wakatobi meluncurkan satu destinasi ekowisata mangrove di desa Tampara, Kecamatan Kaledupa Selatan, Wakatobi. Ekowisata mangrove yang memiliki luas 37 hektar ini memiliki ekosistem yang sangat luar biasa. Ekosistem mangrove ini dapat menjadi rumah bagi banyak jenis ikan dan kepiting. Ini merupakan konsep ekowisata berkelanjutan yang dikelola oleh  komunitas masyarakat yang bergabung dalam Kelompok Ekowisata AKKA MOOLUd yang bekerja di dalam Taman Nasional Wakatobi.

Baca juga Festival Lalo’a: Kearifan Masyarakat Adat Liya dalam Pengelolaan Sumber Daya Laut

Dengan pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat dalam bentuk pariwisata berkelanjutan ini, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menguatkan komitmen budaya masyarakat dalam pengelolaan mangrove sebagai hutan adat. Selain itu, pemerintah kabupaten Wakatobi juga berharap, dengan adanya ekowisata mangrove ini dapat meningkatkan partisipasi masyarakat untuk mengembangkan berbagai aspek ekonomi yang ada di sekitar mangrove.

Baca juga Keragaman Kuliner dan Inovasinya: Dapat Menjadi Produk Unggulan Wakatobi di Bidang Kuliner

IMG_20191127_172255Ekowisata mangrove di desa Tampara ini, saat ini dikelola berbasis masyarakat. Dengan model pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat, diharapkan mereka dapat berpartisipasi, mulai dari upaya untuk menjaga kebersihan, menjaga keamanan hutan, serta berpartisipasi untuk membangun berbagai aspek ekonomi yang berhubungan dengan ekowisata mangrove ini.

Sehubungan dengan itu, Bakri kabid destinasi  Dinas Pariwisata Wakatobi mengharapkan bahwa dengan adanya ekowisata mangrove di desa Tampara ini,  pengelolaanya dapat dilakukan oleh pihak masyarakat bekerja sama dengan pemerintah desa. Bakri juga mengatakan bahwa eco wisata mangrove ini dapat memberikan tambahan nilai ekonomi bagi masyarkat desa Tampara. Karena peningkatan nilai tambah ekonomi untuk masyarakat setempat, dapat menguatkan komitmen masyarakat untuk menjaga kelestarian dan kenyamanan wisatawan yang datang ke tempat ini.

Selanjutnya, Bakri juga menyatakan bahwa dengan konsep pengelolaan ekowisata ini, hutan mangrove yang ada di Kaledupa Selatan ini, tetap lestari dan berkelanjutan, sehingga dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

La Bakri, juga mengatakan bahwa ekowisata mangrove ini dapat menjadi lokasi edukasi bagi masyarakat setempat, khususnya masyarakat Wakatobi dan masyarakat dunia. Dengan memanfaatkan hutan mangrove ini sebagai lahan pembelajaran tentang lingkungan untuk anak-anak sekolah di pulau Kaledupa, maka anak-anak akan lebih mudah memahami ekosistem mangrove yang ada di lingkungannya. Di satu sisi, masyarakat yang mengelola ekowisata mangrove ini akan mendapatkan wisatawan pendidikan dari anak-anak sekolah setiap minggunya. Tentunya ini butuh komitmen dan kemampuan untuk merealisasikan pidato menteri pendidikan Nasional, bahwa pendidikan bukan hanya di dalam kelas, anak-anak harus dibawa keluar kelas untuk mendapatkan pengalaman.

Model pengembangan berbasis masyarakat ini, salah satu konsep pembangunan pariwisata yang berwawasan lingkungan dan budaya. Model pengelolaan ekowisata mangrove ini, diharapkan dapat menguatkan Wakatobi sebagai cagar biosfer bumi.

Baca juga Daun Kau Banjara: Obat Tradisional yang tidak Banyak Dikenal Orang

Ke depan, aspek kesejahteraan ekonomi masyarakat menjadi hal yang perlu diperhatikan, karena secara fungsional, jika ekowisata mangrove ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka secara tidak langsung akan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata mangrove ini. Dengan demikian, peran pemerintah kabupaten Wakatobi dan peran pemerintah pusat, dapat memberikan pelatihan pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat kepada masyarakat sekitar.

Di samping itu, untuk meningkatkan daya tarik wisata, atraksi budaya dan keragaman kuliner yang murah dan hegienis perlu digalakkan di sekitar ekowisata mangrove ini. Sehingga wisatawan bukan hanya menyaksikan mangrove, tetapi juga dapat menyaksikan berbagai atraksi budaya masyarakat di sekitar mangrove (su010). 

Baca juga Resto Desa Berbasis Hutan Adat Kadhia Wanse

Pengembangan wisata Pantai Yoro

Inovasi desa Wisata dan Pengembangan Sultra Menjadi Bali Alternatif

One thought on “Ekowisata Mangrove di Desa Tampara Wakatobi Dilaunching

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *