Dunia Navigasi (dan) Nusantara

Oleh: Abd. Rahman Hamid

Setiap kali membaca buku dari catatan pengembaran Eropa, saya selalu tertarik pada aspek maritim. Sebab, ke mana pun mereka pergi di wilayah Nusantara, pastilah akan mengarungi lautan.

Hari ini, 3 Ramadhan 1441 H, bertepatan 26 April 2020, saya kembali mengarungi lautan kata dari mantan Risiden Inggris di Jawa (Yogyakarta) dalam masa 1811-1816, yakni JOHN CRAUWFURD, buku berjudul SEJARAH KEPULAUAN NUSANTARA, diterjemahkan dari History of the Indian Archipelago (1820) yang diterbitkan kembali oleh Ombak Yogyakarta (2017).

1. Mulai Berlayar
“Dari sifat negeri-negeri yang mereka tinggali, penduduk kepulauan tersebut [Nusatara] tentu saja merupakan masyarakat maritim”, demikian pembuka paragraf di satu bab buku ini.

Untuk memahami jalan pikiran Crawfurd, kita lanjutkan pelayaran. Kondisi geografis Nusantara sangat menguntungkan penduduknya, antara lain laut tanda badai, jarak antar pulau begitu dekat sehingga setiap pelayaran hampir selalu berada di sepanjang pesisir, dan pastian dan kemantapan angin musim.

Kondisi itu membuat penduduknya berlayar dengan kapal-kapal kecil yang ramping, dan di antara mereka terdapat para navigator terbaik. Mereka berlayar sampai ke Siam, negeri yang terletak di antara yang terakhir dengan Cina. Juga berlayar sampai ke pesisir New Holland [Australia]. Aktivitas tersebut telah melampaui wilayah perairan mereka sendiri.

Dengan mengecualikan dua informasi tersebut, menurut Crawfurd, navigasi penduduk Nusantara hampir sepenuhnya bercorak pelayaran di pesisir. Pantai, tanjung dan penunjuk lainnya adalah pembimbing utama mereka. Ketika masa angin musim paling keras, atau demi perlindungan melawan cuaca buruk yang kadang-kadang muncul, maka kapal-kapal mereka diseret ke darat atau dibawa ke anak sungai. Pelabuhannya berada di setiap anak sungai atau teluk kecil.

Para pelaut dari Sulawesi sangat percaya pada kemantapan angin, baik kecepatan maupun arahanya. Mereka berlayar ke perairan yang lebih menantang dan jauh dari daratan, lalu membuat jalur langsung menuju pelabuhan yang dituju. Kapal-kapal Eropa sering menemukan prao (perahu) kecil mereka berlayar dengan percaya diri di tempat yang jauh jaraknya dari daratan.

Mereka memperoleh pengetahuan praktis dari pengalaman lokal yang panjang (lama) sebagai pembimbing utama mereka. Mereka mampu mengamati pergerakan benda-benda angkasa, dan kadang juga menggunakan alat navigasi modern (kompas). Belum diketahui sejak kapan mereka mengenal kompas, namun diperkirakan saat mereka mulai menjalin hubungan dengan para pelaut Eropa.

Jauh sebelum kedatangan pelaut Eropa, penduduk Nusantara telah menjalin hubungan dengan orang Arab, India, dan Cina. Kendari demikian, mereka tidak menggunakan istilah “kompas” seperti digunakan oleh orang Arab. Penduduk Nusantara justeru menggunakan istilah pribumi, yakni PANDOMAN, secara etimologi berasal dari kata kerja dalam bahasa Jawa yaitu DOM (membagi atau menyekat).

Orang Melayu membagi horizon dalam beberapa bagian barikut:
1. Utara (Utara)
2. Selatan (Salatan)
3. Timur (Timur)
4. Barat (Barat)
Kemudian Timur dibagi tiga:
5. Timur laut (Pading)
6. Timur (Jati)
7. Tenggara (Tanggara)
Juga Barat dibagi tiga lagi:
8. Barat Laut (Laut)
9. Barat (Tapat)
10. Barat Daya (Daya)
Sering kali kata-kata tersebut ditambahkan kata “samata” (mata) untuk tujuan-tujuan teknis, yang mengekpresikan satu ujung kompas, seperti “Barat sa-mata Utara” atau Barat barat Laut.

Orang Melayu menggunakan istilah “Atas angin” (di atas angin) dan “Bawah angin” (di bawah angin). Kata yang terakhir untuk menyebut negeri mereka sendiri, sedangkan kata pertama untuk negeri asing yang berada di bagian barat negeri mereka.

Penduduk Nusantara membagi setahun atas dua yakni: setengah kering dan setengah basah, yang diekpresikan dengan kata “Masa” atau “Mangsa” yang berarti “musim”. Dalam istilah Arab, kata itu memiliki signifikansi dengan kata “Musim”, suatu kata yang kemudian diubah oleh orang Eropa menjadi “monsoon”.

2. Nama Pulau-pulau
Hal lain yang menarik mengenai penamaan pulau, biasanya dipinjam dari aspek fisiknya. Misalnya, Pulau Pinang, karena bentuknya hampir sama dengan buah pinang. Juga, beberapa pulau kosong di Nusantara, disebut dengan kata “ubi” atau “uwi” yang berarti ubi rambat, meskipun di pulau itu tidak menghasilkan ubi rambat. Itu adalah kiasan untuk bentuk pulaunya.

Saya (ARH) teringat dengan nama-nama pulau di Selat Makassar, yang saya kunjungi tengah tahun 2018. Ada pulau Samataha, diambil dari bahasa Bajo, yang berarti Lonjong. Ya, bentuk pulau itu memang lonjong. Ada juga nama yang lebih spesifik, seperti Saboyang, dari bahasa Bajo yakni “bohe” atau tawar, karena hanya di pulau itu dari Kepulauan Balabalakang yang mempunyai Air Tawar. Selain merujuk ciri fisik dan karakteristik pulaunya, nama-nama tersebut menyibak sejarah pendudukan pulau tersebut oleh orang Bajo di masa lampau.

Pola lain yang digunakan dalam penamaan pulau ialah nama sebuah suku yang tergolong penting dari sisi peradaban atau jumlah. Pulanya disebut “tanah” dari penduduknya, atau buka disebut “pulau”. Ambil contoh, Amboyna dan Bali, — bukan tanahnya orang Ambon dan Bali –, disebut dengan tanah dari orang Ambon atau “Tanah Ambun” dan Bali atau “Tanah Bali”. Selanjutnya, nama pulau diambil dari suku yang beradab atau dominan, seperti Jawa atau Nusa Jawa sebagai Tanahnya orang Jawa dan Celebes sebagai Tanahnya orang Bugis. Demikian pula Semenanjung merujuk pada Tanahnya orang Melayu.

Pada beberapa kasus, tanpa kehadiran suku yang dominan, nama sebuah tempat kadang dipakai sebagai istilah umum untuk keseluruhan pulau. Misalnya, Palembang untuk Sumatera dan Banjarmasin untuk Borneo (Kalimantan).

3. Catatan Akhir
Masih banyak hal yang bisa kita pelajari dari rangkaian kata dan kalimat yang dihasilkan John Crawfurd. Yang pasti bahwa Nusantara punya banyak cerita menarik, seperti dalam beberapa cuplikan di atas. Saya percaya, jika buku ini dibaca dengan seksama, pengetahuan kita akan semakin kaya. Kendati pun sudah berusia 200 tahun, namun informasinya tetap aktual. Kalau penasaran, lekas angkat sauh dan berlayarlah dengan perahu (baca: buku) ini.

Hanya dengan sering berlayar maka kita akan banyak melihat, mengetahui, dan memahami Nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *