Dunia Baru Pasca Corona Virus (Covid 19)

Dunia hari ini merupakan dunia yang semuanya seolah direfresh ulang, oleh sebuah materi kecil yang sangat kecil, hanya virus. Dunia yang membuat lebih dari 213 negara di dunia harus kembali merenungkan nasib manusia. Jumlah orang yang terpapar sampai dengan tanggal 26 April 2020, sudah mencapai 2.724.809 orang di seluruh dunia, dengan 187.847 kematian di seluruh dunia (data covis19.go.id). Sebuah jumlah yang besar dan membutuhkan renungan bersama. Virus melumpuhkan sistem pertahanan semua negara di dunia, mulai negera miskin, sampai negara paling maju seperti Eropa dan Amerika Serikat.

Ini adalah acamana global yang selama ini diserukan oleh berbagai ahli di dunia, dan kaum moralis yang menyerukan akan adanya keadilan dan kerja sama global dalam konteks saling menghargai dan menghormati. Dalam diskusi yang dilakukan oleh direktur Ombak Muhamad Nursam melalui Media Sosial, Prof. Syafii Maarif ketika dikirimi link tulisan Yuval Noah Harari, “The World After Coronavirus” ke Prof. Syafii Maarif. Tiga puluh menit berikutnya, beliau memberi komentar berikut.

“Serangan musuh yang tidak kasat mata memang dahsyat, hampir semua negara keteteran dibuatnya. Lock down atau tidak sama-sama punya risiko. Senjata nuklir tidak mampu melawan wabah ini. Tapi disiplin, sabun, dan air mengalir bisa menaklukkannya. Say asetuju dengan Bill Gates agar umat manusia hendaknya mau melihat ancaman wabah ini dalam perspektif spiritual: lumpuhkan kesombongan dan pongah diri! Maarif.”

Dalam tulisan yang diposting oleh Direktur Ombak itu, mengatakan bahwa “Pada alinea terakhir tulisannya di atas, Yuval Noah Harari menulis: “Umat manusia perlu membuat pilihan. Apakah kita akan menempuh jalan perpecahan, atau akankah kita mengadopsi jalan solidaritas global? Jika kita memilih perpecahan, ini tidak hanya akan memperpanjang krisis, tetapi mungkin akan menghasilkan bencana yang bahkan lebih buruk di masa depan. Jika kita memilih solidaritas global, itu akan menjadi kemenangan tidak hanya terhadap virus korona, tetapi juga terhadap semua epidemi dan krisis di masa depan yang mungkin menyerang umat manusia di abad ke-21.”

Nursam kemudian mengatakan bahwa “Seruan solidaritas global untuk menahan laju ancaman kepunahan global bukanlah suara yang baru terdengar. Suara-suara semacam itu sudah berulangkali didengungkan oleh para cerdik pandai dunia, salah satunya sering disampaikan oleh Soedjatmoko dalam berbagai tulisannya sejak awal 1970-an sampai akhir hayatnya. Persoalannya, suara-suara semacam itu hanya berhenti sebagai renungan dari para cerdik pandai dan kaum moralis, tetapi tidak mampu menjadi bagian kekuatan dalam tatanan global. Negara-negara adikuasa tetap saja ingin menguasai negara-negara lemah. Negara-negara kapitalis dengan berbagai istilah yang tampak beradab, padahal tetap mengeksploitasi alam dan manusia negara-negara lain. Dengan kata lain, ada tatanan dunia yang tidak setara, adil”.

Seruan solidaritas global bisa menjadi solusi bagi keselamatan global dengan sejumlah syarat. Di antaranya, menegakkan prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan global negara-negara di dunia.

Bagaimana gambaran dunia pascacorona? Apakah dunia masa depan akan lebih baik dari sebelumnya? Itu sangat terkait dengan keputusan-keputusan kita sebagai umat manusia hari-hari ini.

Sebagai contoh, ketika Indonesia selama ini mengandalkan impor berbagai hal yang menyangkut pangan, alat kesahatan, tranportasi, migas, semuanya selalu mengandalkan impor, saat terjadinya covid 19, semuanya menyadarkan kita untuk berpikir ulang, bahwa betapa rentannya bangsa ini dalam berbagai hal. Teknologi pangan kita tidak pernah kita hiraukan, kita selalu mengandalkan impor, termasuk cangkul dan garam. Dengan Covid 19, menyadarkan kita semua untuk membangun industri manufaktur kita, industri kesehatan kita, industri pangan kita, semuanya harus diusahakan dalam konteks membangun solidaritas berbangsa dan bernegara. Kita harus membangun kemandirian dalam berbagai lini kehidupan kita.

Saatnya bangsa ini mulai menyadari bahwa betapa sikap kenegarawan itu harus ditanamkan kepada seluruh warga negara, mulai dari petani, nelayan, birokrasi, buruh dan para politisi juga harus memiliki kesadaran bersama untuk membangun bangsa Indonesia yang mandiri. Karena kedaulatan pangan, manufaktur, alat kesehatan, migas, listrik dan teknologi informasi akan membuat bangsa Indonesia dapat dihitung dalam kancang global.

Dalam konteks global, covid 19 merupakan ruang untuk menata ulang cara kita membangun tatanan yang adil dan berpihak pada kemanusiaan. Jika dalam konteks menangani covid 19 masih mengandalkan ego sektoral maka tidak akan menambah kemungkinan untuk semakin beratnya masa masa susah ini. Tetapi jika paradigmanya adalah solidaritas bersama, maka ada kemungkinan untuk kita dapat menemukan ruang untuk keluar secara bersama-sama dari masalah ini.

Namun, kalau kita melihat ekskalasi selat Hormus dan Laut China Selatan, maka ada kemungkinan yang akan mengarah pada sebuah dunia baru yang belum kita bayangkan. Semoga ekskalasi di kedua tempat itu, tidak meningkat menjadi jalan menuju untuk dunia baru yang lebih berbahaya. Semoga dunia global menyadari bahwa saat ini, kita membutuhkan solidaritas bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *