Doa Ibu (bagian 1)

Cerita Bersambung, Terbit Setiap Sabtu)

Pagi itu, udara sangat dingin, musim panas April 2020. Orang kampungnya menyebutkan musim kabara bara. Ia duduk di halaman rumahnya yang membelakangi pantai, telinganya sesekali mendengar suara ombak memecah sunyi. Hidungnya mencium aroma laut. Suaminya di kejauhan hanya berdiri menatap bodinya atau perahunya. Ia bergegas untuk pergi melaut.

Perempuan itu terdiam, membanyangkan mau makan apa besok, suaminya sudah tak bisa berbuat apa apa lagi. Mesin bodinya mati waktu pulang dari laut tiga hari yang lalu. Uang yang dipegangnya sudah menipis. Ia baru saja membelanjakan uangnya untuk harga pakaian sekolah anak gadisnya. “Satu mimpi ku, kalian jangan ikuti langkahku, saya menikah sejak SMP, pada hal ayah dulu ingin menyekolahkan aku” lamun perempuan itu dalam hati.

Di ambilnya Handphone nya, menatapnya beberapa kali, tertulis di SMS bahwa sisa hari ini bonus telponnya juga sudah akan habis. Ia ingat dapurnya, sejak subuh tak juga berasap, beras habis, kayu bakar ada. Mesin bodi rusak. Ia memikirkan kebun ubi kayunya, yang juga baru saja ditanam di musim hujan tiga bulan yang lalu. Butuh beberapa bukan lagi baru bisa di panen.

Perempuan itu menunduk, bulir bulir air menetes di pipinya yang tidak lagi putih dan mulus seperti beberapa waktu silam. Ia melapnya dengan punggung tangannya. Ia melihat keadaan orang tuanya yang juga sakit sakitan, tak mungkin minta uang lagi, yang hanya diberikan oleh anak anaknya di kota. Ia hanya mencoba menelpon adiknya yang sedang berjualan di Papua, sekali dua kali juga ia hanya bisa mengirim, karena adiknya juga harus bertahan untuk hidup di dalam keluarganya. Ia tertegun, semua keluarga lagi terluka, penuh dengan masalahnya masing masing-masing. Satu tekadnya, ,”Anak anak ku harus sekolah, satu satunya yang bisa mengubah masa depan mereka, mereka harus sarjana” pikir perempuan itu dalam hati.

Ia bergerak lagi tangannya untuk menelpon adiknya, untuk minta pinjaman, tetapi tangannya berhenti, karena barusan kemarin ia menelpon, dan adiknya juga hanya menyampaikan bahwa ia juga sudah kesulitan dalam hal keuangan. Dagangan bermasalah dengan covid ini. Terngiang kata adiknya. Perempuan itu terdiam. Ia mengingat kakak yang selalu membantu, tetapi juga lagi merawat istrinya yang sakit sudah berbulan bulan. Tangannya berhenti lagi, “Andaikan aku bisa pinjam uang 500 ribu, saya bisa menjual lagi roti, setiap pagi. Kembali saya menjual untuk makan, dan harga buku dan jajanan anakku.

Ia tak mungkin memaksa suamiku, ia juga binggung memikirkan kondisi ini, di luar banyak orang yang sedang juga pusing, sementara video dan tv setiap jam menyiarkan tentang kematian yang disebabkan oleh covid. Perempuan itu semakin diam, mulutnya berhenti, tapi otaknya keliling. Ia mengingat untuk jadi buruh tani, menjadi orang gajian, tetapi di kampungnya ini bukan bulannya, nanti Agustus dan September baru ada lapangan kerja itu.

Ia masuk ke dapur, melihat periuk yang kosong, hatinya hancur, sementara suaminya masih tetap menatap bodinya yang rusak. Suaminya tak bisa berbuat apa-apa. Ia harus menelpon kakaknya, ia tidak berani, karena beban kakaknya sangat berat. Menghadapi keluarganya yang sakit.

“Saya harus melakukan sesuatu, untuk mengubah semua ini, saya harus mengambil langkah. Saya harus dapat mampu menyelamatkan keluargaku. Saya harus melakukan suatu tindakan agar bisa menjadi kekuatan keluargaku. Saya harus menjual kue lagi, untuk dapat menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat. Anak-anakku harus sekolah, harus berpendidikan, sebab hanya pendidikanlah yang bisa mengubah masa depan mereka”, pikir perempuan itu termenung.

Ia menatap jauh ke tengah laut Banda, melewati jendela rumahnya yang ditutupi oleh diding dari daun kelapa. Ia menatap burung pipit yang sedang bertengger di atas tiang kayu. Ia merasakan tubuhnya lapar, seperti burung itu, mungkin seperti kehilangan makanan saat itu dapat menjadi sebuah kehidupanku, kelaparan.

Perempuan itu, menutup jendela rumahnya, ia menatap lagi tiga tungku batu di atas perapian dapurnya. Menatap, tungku itu sambil memikirkan tentang masa depan anak-anaknya. Satu-satunya harapan yang dapat menjadikannya harapan hidup adalah melanjutkan kehidupan demi masa depan anak-anakku. Mereka harus kuliah, mereka harus menjadi manusia. Biarkan saya dan Bapaknya yang bodoh, mereka harus pintar, agar mereka bisa menjadi manusia lainnya. Mereka harus bisa kuliah, karena hanya satu-satunya yang dapat mengubah kehidupan hanyalah untuk mengubah kehidupan.

Perempuan itu kembali terbungkam, dengan apa ia harus membuat hidupnya untuk bisa tetap bertahan dalam setiap badai hari ini. Hari ini perempuan itu, hanya terbungkap, tetapi pikirannya menjadi tetap merdeka. Ia hanya bisa berdoa, karena mimpilah yang membuat perempuan itu, tetap merdeka walau tubuhnya masih terbungkam dalam kehidupan, karena kemiskinan.

Ia bergegas ke pintu rumah, mengambil motor buntutnya, untuk menuju kios, ia ingin mengajukan utang pada bahan-bahan kue, terigu, gula dan telur. Ia akan membuat roti lagi, untuk dijual keliling kampung. Gadis kecilnya akan dilatihnya menjajakan kue-kue itu keliling kampung. “Ini harus saya biasakan, agar kelak ia bisa mandiri. Ia harus bisa berbisnis, jangan lagi seperti saya”, pikirnya dalam hati, sambil melangkah meninggalkan motornya di halaman rumah. Ia menatap kios itu, seperti menatap gunung, sebab ia sangat khawatir, jangan sampai ia tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan utang. Ini soal hidupnya, memulai bisnisnya sebelum berangkat ke Bangka Belitung untuk menambang timah. Ia harus sukses menjual hari ini, terutama besok pagi, agar ia bisa menyambung nyawa. Keluarganya masih bisa beli beras lagi.

Kekhawatiran yang berlebihan itu, rupanya terbukti, tukang kios belum berani memberikan utang, perempuan itu kembali ke rumah dengan tangan kosong. Ia memutar pikirannya untuk menggadaikan sepeda motornya, seharga lima ratus rupiah sebagai jaminan. Ia kembali ke rumah seorang guru SD, ia mengajukan masalahnya. Ia mendapatkan pinjaman dengan jaminan, bisa merawat ayam dan kambing dengan catatan bagi dua kalau ada anaknya. Perempuan itu menyanggupi, ia memikirkan untuk datang ke sara untuk meminta lahan tempat akan memelihara kambing dan ayamnya. Ia juga akan bertanam sayur mayur.

Pulang ke rumah, perempuan itu langsung ke kios untuk membeli bahan-bahan kue jualannya. Ia harus sukses besok agar ia bisa mengembalikan pinjaman pak guru. “Saya harus bekerja keras besok, saya harus menjual ini sampai lagi semuanya. Agar bisa menjadi dasar anak-anak saya sekolah. Tidak boleh ada yang tidak sekolah. Mereka harus Sarjana, bila perlu menjadi doktor.

Permpuan itu kembali terbungkam di depan perapian dengan tiga tungku batunya.

Bersambung ……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *