Doa Ibu (Bagian 3)

Sore itu, suasana pantai di desa itu begitu ramai di tengah banyaknya anak anak dan ibu ibu turun ke padang lamun untuk mencari kerang kerang dan bulu babi. Mereka mencari bulu babi dan kerang kerang untuk makanan mereka sebentar malam. Ibu itu mengajak kedua anaknya untuk mencari kerang kerang. Suasana pantai yang indah, apalagi membawa bekal soami, kerang kerang dan cacing laut langsung dimakan. Ibu muda itu membawa kedua anaknya untuk mencari bulu babi dan kerang kerang. Anak lelakinya yang sudah SMA itu membawa linggis, ia mencari cacing laut.

Menjelang sore, bulan di ufuk timur sudah mulai nampak, sementara matahari sudah mulai menciumi punggung gunung di barat. Ketiganya menuju batu besar yang ada di tengah padang lamun itu. Mereka naik ke atas dan duduk untuk makan cacing dan bulu babi bersama dengan soami.

Suaminya masih di laut, yang membawa body yang baru saja dibelinya beberapa hari yang lalu. Yang mencari ikan cakalang, sudah musimnya beberapa bulan ini.

“Saat saat ini kita sangat terbatas, ayah dan mama hanya memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia secara alami, kita datang ke laut untuk mencari kerang dan bulu babi. Kita sudah bisa makan dan kenyang, tetapi suatu waktu nanti, tidak mungkin hidup seperti ini lagi. Untuk itu, kalian tidak boleh lagi mengandalkan alam, manusia sudah terlalu banyak. Kita bertiga hanya mendapatkan hasil yang hanya begini. Waktu Mama masih kecil dulu, bulu babi dan terang-terangan banyak ditemukan di sini, kita harus mengumpulkan bulu babi dalam hitungan jam sudah 1 Sampan”, ibu itu memberitahu kedua anaknya untuk sekolah. Ia begitu khawatir kepada anak-anaknya, telek alam tidak akan mampu memberikan manusia secara cuma-cuma seperti ini.

“Dulu bagaimana mama? Apakah dulu masih banyak karang dan bulu babi di sini? Anak perempuannya.

“Ia, dulu kalau hanya mencari satu ember seperti ini itu paling hanya di sekitar situ, perlu jauh-jauh seperti ini. masyarakat hanya membutuhkan waktu beberapa jam sudah bisa pulang kerumah membawa terang dan bulu babi. Apa artinya itu Nak? Daya dukung lingkungan sudah tidak ada. Itu artinya kalian harus sekolah, bumi ini sudah tidak akan mampu memberikan makanan kepada seluruh penduduk desa ini”. Anak perempuannya menatap mamanya dengan serius.

Setelah mereka makan, kembali mengambil loyang dan embernya. Mereka berencana untuk pulang ke rumah, pulang di sebelah timur semakin terang, matahari baru saja lengkap di punggung bukit. Ibu itu merenungkan, betapa banyaknya anak-anak yang akan menggantungkan hidupnya pada padang lamun ini. Ia teringat waktu kecil dulu, ketika masyarakat menggunakan bom dan potas dalam menangkap ikan di desanya. Waktu itu sumber daya alam begitu melimpah. Teringat pada waktu seorang nelayan melakukan pemboman pada kumpulan ikan sarden di desa tetangga. Ikan sarden yang datang untuk bertelur langsung di bom dengan 6 kali sekaligus. Seluruh masyarakat yang ada di Wangi Wangi timur delapan untuk mengambil ikan di tempat teman itu, laki perempuan, tua muda semua hadir ke tempat itu. Puluhan ton ikan sarden mati, seluruh masyarakat memiliki ikan sarden. Padahal sebelumnya, kalau menangkap ikan sarden dengan jaring atau datang berjalan-jalan di pinggir pantai, sedang bermain di pinggir pantai. Ikan sarden bermain bersama ombak, sehingga kadang ada yang terdampar ke daratan. Ibu itu membayangkan betapa melimpahnya sumber daya pada waktu itu. Sementara bapaknya dulu selalu membeli telur maleo yang didapatkan oleh petani di hutan.

Ibu itu juga berpikir tentang sumber karbohidrat yang didapatkan di hutan dengan gratis. Banyak ubi-ubian, opa, kapi, manga, semuanya tersedia dengan gratis di hutan. Tapi hanya 25 tahun persediaan sumber daya alam itu hilang. Saat itulah ia mulai sadar bahwa di masa yang akan datang anak-anaknya tidak akan lagi mendapatkan sumber daya alam secara gratis.

“La Rio, kalian saatnya harus sekolah dari sekarang, yang tidak mungkin hidup seperti ayah dan ibu sekarang. Kalian dibesarkan dengan sumber daya alam yang tersedia secara gratis, ke depan semua ini sudah tidak akan kita nikmati. Tidak akan sanggup lagi memberikan makan kepada manusia, karena kita merusaknya dan kita tidak merawatnya,” ucap ibu itu kepada Rio, saat anaknya mendekatinya.

Suasana senja itu sangat indah, ssementara anak perempuannya, mencari kerang berapa meter dari ibu dan Rio. Sekali anak perempuan itu menatap bulan yang terang, ia jika menyanyi tentang, “Mou ane na mbena mbena, kumetao la nsumikola” Walaupun ada kilauan emas dan permata, aku akan menunggu yang berpendidikan”, sambil berjalan mencari kerang kerang dan bulu babi.

Ia membayangkan, suatu waktu nanti dia akan kuliah di perguruan tinggi seperti paman-pamannya. Saya ingin belajar bahasa Inggris agar bisa memasuki universitas yang baik. Untuk masuk ke sana, tentunya membutuhkan doa ibunya, karena dalam doa itu ada semangat dan cinta.

Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di pinggir pantai, di belakang rumahnya yang belakangnya pantai, mereka mendapati beton yang dibangun oleh pemerintah desa berapa tanggal untuk mencegah abrasi rumahnya. Gadis remaja itu menatap kembali, sesekali matanya menyapu orang-orang kampung yang baru pulang juga ada di laut.

Suasana pantai nelayan itu sangat indah saat itu, kebanyakan penduduk baru saja pulang dari laut. Mereka mandi di sumur di samping kanan rumahnya. sementara beberapa kelapa yang baru ditanam oleh ibu itu di halaman rumah juga sudah mulai tumbuh.

Suaminya, belum bisa langsung ke rumah, karena ia harus menunggu air pasang baru bisa masuk bodynya ke halaman rumah. Ia harus menunggu di luar karang sampai air pasang. Ia membawa beberapa ikan, yang akan dijual oleh ibu itu keliling kampung. Banyak mereka akan pergi timbang di tempat penampungan ikan di kota, ibu kota kecamatan. Mereka harus menyiapkan tabungan untuk sekolah anak-anaknya.

“Saya harus memikul ikan ini biar tiba di darat lebih awal, bisa dijual malam ini. Nanti Subuh baru diantar ke pasar oleh istri,” pikir lelaki itu. Ia mengisi tangkapannya ke dalam tong kemudian ia menarik tolong itu di padang lamun menuju rumahnya.

Setibanya di rumah, istrinya mengambil ikan, kemudian mengambil motor untuk pergi menjual hasil tangkapan suaminya. Kampung ke kampung ia berteriak “ikan-ikan, ibu-ibu yang tidak sempat untuk mencari bulu babi dan kerang, atau mereka yang baru pulang dari kebun biasanya akan membeli ikan hasil tangkapan nelayan di kampung mereka.

Malam itu, menjual ikan tangkapan suaminya cukup hanya keliling di dua desa, semua ikan sudah laku dan tidak perlu ia ke pasar besok pagi.

Tiba di rumah, anak perempuan sudah memasak ikan yang disimpan untuk dimasak, sementara Rio, membakar ikan di halaman rumah pas di pinggir pantai. Ayahnya yang baru selesai mandi, ingatkan tangannya dan punggungnya, di api unggun yang dinyalakan Rio.

“Ayah, saat ini Rio sudah kelas 3 SMA, dan Rio ingin kuliah perguruan tinggi di kota Kendari,” tutur Rio sambil memperbaiki ikan di depannya. “Sudah hampir masak.

“Ya, kau harus kuliah, Nak. Itu adalah mimpi ayah dan ibumu, karena kau tidak akan sanggup untuk menjadi ayah, berlayar di perahu Karoro, kapal membawa body untuk mencari ikan tuna di tengah laut panda. Di musim tenang seperti ini, kapan saja anda mendapatkan ikan, tetapi jangan kau bayangkan di mesin timur, di tengah badai, gelombang laut Banda tidak bisa dibayangkan. Itu sangat berat untuk kamu”, ucap lelaki itu sambil menikmati hangatnya api unggun yang menyentuh tulang belakang punggungnya.

Sementara Rio menyiapkan colo-colo dan kasoeami untuk memakan ikan tuna yang dibakarnya. Perempuan yang membawa sayur danke suami dari dapur. Semua bersantai di bawah sinar bulan, sambil memakan ikan bakar dengan ke suami, ditambah dengan colo colonya. Airnya adalah air kelapa muda.

Tidak berapa lama kemudian, ibu itu tiba di dekat gue gode. Ia turun dengan tersenyum cari motornya dan memegang beberapa ember tempat ikan tadi. Siapa membawa pulang uang hampir Rp1.000.000, hasil yang cukup lumayan malam ini.

Keempatnya kemudian duduk, menikmati ikan bakar, dengan kasoaminya, ditambah colo colo.

“Nak, tabungan ibu, sudah cukup untuk kau pergi mendaftar kuliah sekarang. Saya yakin kau harus menggunakan uang ini dengan baik, karena kuliah adalah tangga untuk merubah masa depan kita. Kau harus kuliah untuk bisa merancang masa depanmu Nak!” Kami akan berjuang dengan ayahmu untuk mendukung semua itu, ibu tahu, bahwa satu-satunya jalan untuk mengubah kehidupan adalah pendidikan.

Suasana pantai malam itu sangat indah, bulan bersinar sangat terang, karena musim hujan masih beberapa bulan lagi, mati pantai, aroma laut yang khas, serta rasa ikan cakalang yang masih baru, ditambah air kelapa muda yang segar, membuat suasana keluarga kecil itu sangat bahagia.

Bersambung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *