Desa Wisata Penglipuran Bali: Model Wisata Desa Internasional

Tepat, setahun yang lalu, saya membawa anakku keliling pulau Bali. Hari ini sahabatku, Husni mendatangi tempat itu, sebuah tempat wisata dengan jumlah pengunjung yang banyak. Satu pikiranku waktu itu, anakku harus mengenal tempat wisata, untuk memikirkan dan merasakan berbagai tempat wisata kelas dunia itu. Tepat menjelang tengah hari, mobil kami memasuki tempat itu, beberapa meter dari pintu gerbang desa, kami membeli tiket masuk sebesar Rp.15.000/orang. Di ruang parkir, saya tertegun, menyaksikan tata kelola ruang parkir yang begitu teratur. Saya berhenti sejenak, berfoto, dan kami masuk ke dalam desa Penglipuran.

Dalam pesawat menuju Bali, tepat setahun yang lalu

Dari tempat masuk, kiri kanan jalan desa itu sudah penuh dengan ruang makan, bisa menikmati kesegaran udara desa yang ada dipuncak pegunungan pulau Bali. Tepat di simpang tiga, kami memilih menyelusuri desa wisata itu ke arah kiri. Di kiri kanan jalan ada rumah rumah adat yang dilestarikan oleh warga desa. Di belakang rumah adat, ada rumah modern yang ditinggali oleh warga desa. Di sana Anda bisa melihat jualan, makanan, kain dan beberapa souvernir yang bisa kita beli. Ada juga warga yang menjual makanan. Sekitar seratus meter ke kiri, kami singgah untuk membeli minuman khas Penglipuran, di rumah diujung jalan bagian kanan, tak jauh dari tanah tempat bercinta bagi mereka yang terbukti selingkuh dimana adat membangun rumah untuk mereka di kawasan adat itu. Di sana ada sebuah taman kecil, tertata rapi, yang konon kabarnya tempat rumah bagi mereka yang berselingkuh. Namun, hingga saat ini tak satu pun rumah di tempat itu. Di kios di ujung jalan ini, menyajikan minuman khas karena mereka sendiri yang mengolah nya dari daun tawaloho (Tolaki), kauolo (Wakatobi) dan Kedondong Hutan (Indonesia). Daun itu diblender dan disajikan di dalam botol plastik.

Di hari seperti ini, tepat setahun yang lalu, durian kita bisa nikmati di rumah rumah penduduk di desa Penglipuran. Duriannya berdaging kuning, rasanya enak sekali. Anda bisa menanyakan buah ini ke masyarakat, kalau Anda sempat ke sana. Warganya ramah, dan mau menuntun kita untuk memahami cerita desa itu. Anda bisa juga membeli souvernir berupa baju dan lain lainnya, tas juga bisa dibeli di sana. Harganya tidak begitu mahal, sangat bersahabat.

Anak-anak sekolahan yang datang dari pulau Jawa juga hadir saat itu. Tepat setahun yang lalu, mereka berkunjung ke desa ini. Tentunya sangat bagus untuk mendukung “merdeka belajar” sebagaimana dimimpikan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan RI. Dengan satu rombongan 6 bus, desa ini mendapatkan kunjungan, yang luar biasa perhari.

Dari tempat kami masuk, kami terus memotret dan menuju ke arah kanan dari tempat masuk pertama, Anda akan menyaksikan rumah rumah adat yang seragam. Tak ada motor atau mobil di dalam desa ini, semuanya ada di ruang parkir di luar desa. Di ujung jalan yang tidak terlalu jauh itu, Anda akan menyaksikan bangunan tempat ibadah. Di belakangnya ada rumpun bambu yang rimbun, berkontribusi dalam suplai oksigen sehingga desa Penglipuran menjadi sejuk. Anda bisa pulang dan kembali ke tempat masuk tadi.

Jika Anda lupa atau ada barangnya yang ketinggalan, tidak usah Anda risau, karena modal budaya dan modal sosial di desa ini sudah terbangun. Setelah melihat barang asing di tempat mereka, pemilik rumah akan mengambil barang itu dan langsung dibawa ke pusat informasi. Mengapa? Sistem sosial desa ini sudah terbangun. Mereka akan dihukum jika ada barang pengunjung yang hilang di tempat atau rumah mereka. Anda pasti nyaman, berkunjung ke desa ini.

Konon kabarnya, desa ini adalah desa yang sudah lama berdiri, dan sudah lama dijadikan desa wisata. Datanglah ke sana, orang orang desa tahu cerita tentang desa mereka. Meraka kemudian memiliki komitmen untuk mempertahankan orisinalitas desa dengan komitmen. Anda juga tak akan melihat sampah berserakan, desanya sangat bersih, tak ada sampah.

Bagaimana dengan pemukiman tradisional di desa desa wisata di Indonesia? Wakatobi memiliki banyak desa desa tradisional? Tapi jarang yang memiliki komitmen, untuk mempertahankan orisinalitas desa mereka. Di Wakatobi misalnya, ada desa budaya yang orisinal, hanya komitmen untuk membangun desa wisata, tidak ditemukan masyarakat atau belum menemukan konsep untuk menjual desa adat mereka. Pembangunan rumah batu tak bisa dielakkan. Akhirnya wajah kampung itu sudah sangat modern.

Kasus yang sama juga ditemukan pada pengelolaan benteng Buton. Orisinalitas pemukiman akan memberikan warna tradisional yang dapat dijadikan sebagai komoditas wisata budaya. Hanya saja pembangunan benteng ini juga penuh dengan ketidakpastian. Mesti belajar dari desa wisata budaya Penglipuran Bali.

Hari ini, temanku, Husni berkunjung ke desa Wisata Internasional ini, menikmati pemandangan desa wisata yang eksotik. Ia tentunya akan banyak bercerita, karena desa ini sangat inspiratif untuk pengembangan desa desa wisata di Buton, dan desa desa lainnya di seluruh Indonesia.

Catatan etnografis yang kutunggu, sebagai acuan dalam pengembangan desa wisata. Menariknya lagi adalah adanya kerja sama dengan dinas pendidikan, agar anak anak sekolah bisa belajar di desa wisata. Karena mereka bisa belajar banyak hal, antara lain, tata kelola lingkungan, modal budaya dan modal sosial, tata kelola desa wisata. Siswa berkunjung ke desa ini, dapat memberikan kontribusi pada pengembangan desa wisata, di sisi yang lain, sekolah juga dapat belajar pada dunia nyata. Sebuah konsep sinergitas desa dengan lembaga pendidikan. Karena wisata desa ini dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *