Desa Haka: Catatan Tradisi Lisan (1)

Oleh: Saleh Hanan

Burung walik kembang keluar dari semak belukar. Bulunya basah. Saat terbang ke dahan pohon, butiran-butiran air terpencar dari kepakan sayapnya.

La Haka dan dua saudaranya, yang duduk melepas lelah, menikmati sepoi sejuk dibawah pohon, seperti sedang menemukan sayap bidadari tersembunyi di balik belukar. Mereka bergegas, menyusuri arah munculnya burung walik kembang. Ada sumber air dalam belukar, tergenang di dasar goa.

Rasa bahagia tak tertandingi. Mengakhiri pencarian sumber air berhari-hari. Salah seorang dari mereka turun menyentuh permukaan air, mencoba meneguk.
Setelah lama tak kembali ke atas, seorang lagi menyusul terjun. Memenuhi keingintahuannya, sedalam apakah mata air yang membuat saudaranya begitu lama menyelami itu?

Kesulitan panjang akan berakhir dari sini, jika kabar penemuan sumber air ini segera sampai kepada warga yang menunggu di kampung. Sekian lama kampung mereka hanya mengandalkan air hujan yang ditampung dalam guci, kulit kerang besar, atau cekungan alami bebatuan.
Namun orang kedua yang turun, pun tak kunjung naik ke atas goa. Keduanya hilang ditelan air.

Pulau Tarian (bagian 1)

Tinggal La Haka sendiri. Ia berlari, melewati tebing, bukit, lembah dan dataran di timur goa, lalu tiba di kampung. Orang-orang, para pencari sumber air, yang berpencar sejak dini hari, telah kembali lebih awal. Semua dengan kabar buruk. Tak menemukan sumber air. Orang-orang menyambut La Haka, berharap kabar terakhir darinya baik.

Dana Desa: Menginspirasi Dunia dalam Pementasan Kemiskinan

Akan tetapi La Haka membawa keduanya, kabar baik dan buruk: sumber air telah ditemukan dalam goa, dimana dua saudaranya juga hilang kedalamnya, tak ditemukan.

Properti Masyarakat Adat Itu, Ini?

Warga kampung menuju goa pada hari berikutnya. Memperingati dua kabar dari La Haka bersaudara dengan satu prosesi adat picucurangi. Dimulai dengan pemuka adat memimpin doa di atas goa. Bait pertama persembahan rasa syukur atas penemuan sumber air. Bait berikutnya permohonan kepada Tuhan, pemilik air, tanah dan udara, agar sumber air itu tak menelan korban lagi.

Hari, bulan, dan tahun-tahun berganti. La Haka, sang penemu air, tinggal sebuah kisah. Abadi pada nama goa, desa dan untuk menyebut identitas para pewaris sejarah itu sebagai orang Haka. Dan tafsir baru, mengenal Haka sebagai tempat orang-orang melawan kesulitan dengan keikhlasan.

Catatan Tradisi Lisan

Hampir semua peradaban manusia memiliki tradisi lisan sebagai rumah peradaban mereka. Dalam penelitiannya mengenai masyarakat Afrika Selatan, Jan Vansinna mengalami kesulitan untuk menemukan dokumen yang bisa mendukung penulisan sejarah masyarakat yang ada di Afrika Selatan. masyarakat Afrika Selatan tidak memiliki dokumen sejarah yang cukup kuat untuk menelusuri kehidupan mereka. Namun Jan Vansina, menemukan jejak peradaban masyarakat Afrika Selatan dalam berbagai tradisi lisan mereka. Dalam bukunya oral tradition as history, Jan Vansina mengemukakan bahwa tradisi lisan merupakan salah satu sumber sejarah yang dapat dipercaya setelah mendapatkan proses penelitian yang teliti dan panjang. Sejak penelitian itu dipublikasikan, maka banyak penelitian serupa yang menjadikan tradisi lisan sebagai sumber sejarah dari peradaban manusia di berbagai belahan dunia.

Tulisan saleh Hanan di atas, merupakan salah satu jejak peradaban yang mereka ingatkan kolektif atau memori masyarakat Haka tentang asal mula perkembangan yang ada di desa Haka. sebuah catatan yang paling penting agar generasi kemudian dapat menghargai betapa pentingnya sumber daya air dari sebuah perkampungan. Catatan kecil dari Saleh Hanan adalah upaya untuk melihat bagaimana sumber daya yang memegang peran penting dalam peradaban masa lalu.

Kalau kita menelusuri jejak peradaban masyarakat Wakatobi, hampir seluruh jalan perkampungan tradisional memiliki sumber air. dan sumber-sumber air tersebut selalu dihubungkan dengan lingkungannya yang berhubungan dengan burung. Misalnya kita melihat air Ehuu yang ada di hutan Lagiampa yang saat ini sudah menjadi sumber mata air yang ada di pulau Wangi-wangi bagian timur. Dalam cerita rakyat yang berhubungan dengan air tersebut, dijelaskan bahwa ketika Wa Surubhaende, istirahat di bawah pohon beringin. Dalam keadaan haus, tiba tiba matanya menangkap, seekor burung burung lembuko bhaka atau Delimukan Zamrud atau Welik yang keluar dari dalam gua. Ia melihat burung jajan basah. Saat itu, Wa Surubaende memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa apa yang ada di dalam gua, siapa tahu ada air minum.

Setelah diperiksa, ternyata kadar air yang besar, dan ia meminum air yang begitu segar, dan kepuasan hatinya hingga ia mengeluarkan “ehu’u” sejak saat itulah air itu disebut ehu’u.

Tentunya hampir seluruh jejak peradaban masyarakat di cerita. itulah yang kemudian menjadi catatan kolektif masyarakat setempat untuk mengenal berbagai sumber daya yang ada disekitar mereka. Bagi Jan Vansinna, berbagai memori kolektif yang tersimpan dalam tradisi lisan itu, dapat digunakan sebagai sebuah sejarah dan menyimpan pemikiran, gagasan, nilai-nilai, moral, yang ada dalam sebuah kebudayaan.

Dengan demikian, upaya untuk membangun sebuah desa sebagai desa peradaban harus mampu mengungkap berbagai sejarah yang membentuk desa itu. Desa-desa yang ada di Wakatobi, hampir semuanya memiliki cerita yang tersimpan dalam memori kolektif masyarakat. Tulisan Seleh Hanan mengingatkan sebuah mimpi yang sudah lama untuk menulis historiografi desa-desa sebagai upaya untuk membangun peradaban berbasis desa yang ada di Wakatobi. Sebuah gagasan yang perlu ditindaklanjuti dalam penulisan historiografi desa. Karena adanya istri orang desa akan membentuk sikap dan karakter masyarakat desa terutama dalam memperlakukan sumber daya yang ada di desa masing-masing.

Banyak sumber-sumber! air yang ada di Wakatobi, sudah tidak terawat lagi di malam hari setelah banyak air yang dikelola melalui sistem perpipaan. Salah satu contohnya adalah air Ladeu, yang ada di sekitar kantor PLN lama di Mandati. Air itu sudah tidak dirawat, pada hal itu bisa jadi menjadi artefak kebudayaan yang penting untuk merawat ingatan kolektif kita. Air LaDeu semestinya dapat dijadikan sebagai cagar budaya, karena hilangnya air itu, akan memberikan kontribusi pada hilangnya memori kolektif masyarakat tentang sumber daya itu.

(bersambung)

Editor dan Catatan: Sumiman Udu

Dana Desa: Menginspirasi Dunia dalam Pementasan Kemiskinan

Membangun Desa: Enam Indikator yang dibutuhkan untuk Bisa Maju

Inovasi Desa Wisata: Menuju Power Society Wakatobi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *