Desa Haka: Catatan Tradisi Lisan (2) dan Inovasi Desa Wisata

Oleh: Saleh Hanan

Wakatobi dan Philipina sangat berjauhan. Tapi pemilik lompatan kuat, pukulan keras, disini disebut dalam pesona ayam-ayam Phlipina, dan dikagumi.

Jika Desa Haka boleh menerbitkan kartu penduduk luar biasa, saya ingin mengajak Ejia Laure, mendaftar ke Haka.
Pemain bola voli puteri Philipina itu secara harfiah memiliki lompatan kuat dan pukulan keras.

Di Haka, kuat dan keras melebur sebagai eksotisme. Persis seperti dirinya.
Lihat, perempuan-perempuan, pemilik tradisi menganyam tikar pandan di dalam Goa La Haka. Dibalik kekuatan menjalani kerasnya kehidupan di desa yang berada di atas pulau-pulau karang, sesungguhnya tersimpan eksotisme.

Tradisi menganyam tikar di Goa La Haka, dilakukan saat musim kemarau. Perempuan-perempuan Haka memanfaatkan suhu sejuk dalam goa untuk ramai-ramai datang menganyam tikar pandan di atas stalagmit-stalagmit. Mereka juga berbincang tentang perahu dan pelaut-pelaut desa yang akan berlayar, membawa tikar-tikar itu ke segala penjuru nusantara.

Kabarnya di Maluku tikar-tikar sejenis itu dibeli mahal oleh para tuan dusun kaya untuk tempat menjemur cengkeh. Perpaduan aroma pandan dan cengkeh menebarkan aroma khas.
Tetapi cerita itupun telah menjadi lampau.
Tempat menjemur cengkeh sudah berganti terpal plastik. Juga tradisi menganyam tikar di dalam goa, berangsur tamat.

Goa La Haka, memiliki tiga pintu atau mulut goa di permukaan tanah. Pintu bagian selatan merupakan jalan masuk menuju permandian perempuan. Pintu utara jalur turun ke pemandian laki-laki. Pada bagian tengah, pintu masuk ke sumber air minum. Ruang dalam goa saling terhubung, membentuk arena lapang. Di tempat itulah para penganyam tikar memberi sentuhan rasa pada selembar tikar. Nilai pembeda dengan tikar plastik produksi mesin.

Desa Haka yang berada di pulau-pulau karang, memiliki alam yang tandus. Rumah-rumah panggung dari kayu yang terawat berjejer dipinggir jalan. Halaman ditaburi kerikil-kerikil batu dan ditanami pohon-pohon tropis. Tak ada got sepanjang jalan. Itulah yang membuat desa selalu bersih dan indah. Sesekali hujan, air langsung menuju jutaan pori-pori bebatuan.

Di belakang rumah-rumah yang berdiri di tebing pantai, benteng batu disusun di laut untuk melindungi lusinan perahu, armada dagang milik warga. Disinilah sisa kebudayaan maritim terakhir Wakatobi masih siap berlayar. Melanjutkan tradisi mencari yang tidak dipunyai, di atas pulau karang.

Marilah ke Desa Haka. Menjadi warga luar biasa. Berharap seperti La Haka melihat burung walik kembang, kita berpencar. Meyakini dengan kuat dan keras, kita akan menemukan inovasi pasar tikar pandan; sampai suatu saat melihat eksotisme perempuan-perempuan penganyam tikar dan Ejia Laure, muncul dari Goa La Haka, melambai-lambaikan kipas pandan, seperti kepak-kepak sayap bidadari kedua.

Catatan atas Tradisi Lisan (2)

Dalam berbagai peradaban modern, tradisi lisan telah menjadi titik inspirasi untuk penciptaan berikutnya. Dalam kisah kisah yang tersimpan dalam tradisi lisan, selalu digunakan sebagai inspirasi dalam penciptaan karya karya berikutnya. Dalam sejarah panjang India, ada sejarah lisan yang tersebar begitu lama di dalam masyarakat India tentang Taj Mahal, yang menceritakan kisah cinta abadi. Di Tangan John Shors cerita itu menjadi kisah romantis yang penuh dengan intrik politik, peperangan, perjuangan dan cinta. Lalu ditangan sutradara hebat, lahirlah film Jodha Akbar. Dan saat ini sedang diputar di Antv film serial India yang berjudul Salim dan Arkalim. Kedua film itu terinspirasi dari cerita sejarah itu.

Mengapa cerita sejarah selalu sukses, karena berhubungan dengan kepercayaan dan kebudayaan tertentu, sehingga secara alamiah, karya karya inovasi itu sudah ada pembaca atau penontonnya.Di Korea Selatan juga seperti itu, kisah dalam cerita rakyat yang mengisahkan mengenai ikan duyung, diinovasi dalam film The Legend of the Blue Sea yang sukses di berbagai negara. Demikian juga dengan film film kungfu China, semua memiliki alur tentang kebudayaan mereka, yang tentunya direkam dalam sejarah lisan dan juga naskah dan artefak.Ini menunjukkan bahwa tradisi lisan, berpotensi untuk dikembangkan menjadi sebuah karya inovatif baru. Pada akhir tahun 1999, suatu waktu seorang teman yang bernama Rusman menceritakan kisah Wa Pimpi dari pulau Binongko, kemudian saya menulis novel berjudul Di Bawah Bayang-bayang Ode, dan telah dimodifikasi menjadi naskah drama. Saya hanya berdoa agar kelak di Binongko di bangun sebuah situs Wa Pimpi sebagaimana telah dibangun situs Laskar Pelangi di Bangka Belitung. Dan kelak ada sponsor yang mendanai pembuatan filmnya.

Melalui tangan kreatif, sudah ada juga gantungan kunci Novel Di Bawah Bayang-bayang Ode dan juga baju sebagai bentuk souvernir nya.

Satu cerita rakyat sebagaimana ditulis oleh Saleh Hanan, akan melahirkan banyak karya inovatif ditangan tangan kreatif. Semoga gagasan Saleh Hanan untuk menulis tentang Wakatobi, bisa mendorong industri ekonomi kreatif. Dan banyak menginspirasi generasi muda untuk melakukan banyak inovasi.

Ketika saya jalan jalan ke Makassar, di kompleks BTP saya menemukan Resto Nike Ardilla yang banyak dikunjungi oleh generasi 1990-an. Sama dengan ketika saya berada di Leiden, saya menemukan banyak mahasiswa yang minum kopi di kafe Einstein yang berada di depan kantor Walikota Leiden. Semua hadir ke tempat itu, karena adanya bentukan cerita tentang masing masing objek. Para pengagum Nike Ardilla akan datang ke kafe Nike Ardilla, sementara pengagum Einstein mereka akan ke Kafe Einstein.

Kita bisa berharap, inovasi dapat dibangun terutama yang berhubungan dengan cerita La Haka. Paling tidak pemerintah desa, kecamatan dan Kabupaten bisa membuat satu terobosan destinasi wisata berbasis cerita rakyat. Peran ini bisa juga dilakukan oleh generasi milenial yang mau berwirausaha di bidang pariwisata.

Editor dan Catatan: Sumiman Udu

                                   #CeritakanWakatobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *