Desa-Desa Wisata sebagai Rumah-rumah Peradaban Wakatobi

            Pada zaman kesultanan Buton, istilah desa tidak dikenal dalam peradaban Wakatobi.Dalam kebudayaan Buton istilah kadhia digunakan untuk menjelaskan pemerintah terkecil setingkat desa di dalam sistem pemerintah sekarang. Namun, pada konteks kebudayaan Wakatobi tidak semua wilayah adat masuk dalam kategori kadhia, tetapi ada juga yang masuk dalam kategori kawati, bhonto dan jou. Beberapa wilayah seperti wilayah-wilayah adat di Tomia menggunakan istilah kawati,sementara pada pulau Binongko menggunakan tiga konsep, yaitu kadhia Wali, JouPalahidu dan Bhoto Popolia.

Dalam sistem pemerintahan kesultanan Buton wilayah-wilayah pemerintah itu merupakan rumah-rumah peradabanyang diberikan kebebasan untuk mengembangkan kebudayaan mereka. Di situlah kita dapat melihat bagaimana konsep peradaban Buton memberikan kebebebasan kepada seluruh wilayahnya untuk mengembangkan kebudayaan mereka masing-masing. Perbedaan kebudayaan serta asal usul sejarah masyarakatnya, menyebabkan Buton merupakan salah satu miniatur Indonesia. Banyaknya etnik dan ragam bahasa menyebabkan masyarakat Buton mengembangkan kebudayaan mereka disetiap wilayah adat yang ada.

Di Wakatobi misalnya adatiga belas wilayah adat, ditambah satu dengan Bajo yang hidup dan tumbuh mengembangkan sistem adat mereka. Walaupun pengaruh penetrasi budaya Buton begitu terasa, terutama setelah datangnya Islam atau masuknya Buton sebagai kerajaan Islam dengan mengubah kerajaan Buton menjadi kesultanan Buton, telah berdampak pada adanya satu jejak peradaban yang hampir ditemukan pada setiap wilayah adat yang ada di 72 kadhia yang ada di Buton. ini menunjukan bahwa sejak zamankesultanan Buton sudah menjadikan wilayah-wilayah adatnya diberi kewenangan untuk mengembangkan kebudayaan mereka sendiri.

Dalam konteks sekarang,tiga belas wilayah adat ditambah satu dengan Bajo telah dimekarkan menjadi beberapa desa. Sebagai contoh wilayah adat kadhia Wanse, telah dimekarkan menjadi lebih dua puluh desa dan kelurahan. Tentunya secara budaya memiliki kemiripan, tetapi tentunya setiap wilayah desa yang ada saat ini tentunya akan dipengaruhi oleh dua aspek, yaitu (1) sumber daya manusia (pemahamannya), dan(2) faktor lingkungan yang mereka ditempati.

Dengan demikian, makauntuk mengembangkan berbagai bentuk peradaban Wakatobi harus tetap menjadi tanggung jawab setiap warga desa, karena desa-desa yang ada di Wakatobi merupakan rumah-rumah peradaban yang mesti dilestarikan terus menerus. Karena berbagai bentuk peradaban yang ada, akan tumbuh dan berkembang pada masyarakat desa. Sehubungan dengan itu, desa harus memberikan perhatian yang penuh sehingga desa dapat menjadi ruang-ruang belajar mengenai peradaban Wakatobi, baik peradaban dalam bentuk kesadaran maupun peradaban yang didapatkan pada kebudayaan dalam bentuk lisan, setengah lisan dan bukan lisan.

Keluarga, masyarakat yang ada di desa harus menjadi ruang pengembangan nilai-nilai peradaban sehinggapengembangan karakter dan nilai-nilai kebudayaan yang ada di dalam setiapperadaban harus dikembangkan melalui keluarga dan masyarakat. Sehingga desa sebagai salah satu organisasi pemerintahan ditingkat akar rumput, dapatmemberikan ruang kepada masyarakat Wakatobi agar mereka dapat mengenal berbagaibentuk kebudayaan, sehingga mereka dapat menemukan nilai-nilai keberadaban didalam berbagai unsur kebudayaan yang ada di dalam masyarakat. Kalau merujuk kepada pemikiran Pierre Boudieau, maka masyarakat desa adalah ruang dimana modal budaya, modal sosial dibangun. Sehingga ruang-ruang budaya seperti tiga belasdesa adat di Wakatobi harus secepatnya ditetapkan sebagai salah satu pusat-pusat peradaban Wakatobi. Ini akan memberikan kelembagaan adat yang akan bekerja terus menerus untuk menjaga nilai-nilai budaya sebagai puncak-puncak peradaban Wakatobi (su001).

Baca Juga https://suaradesa01.wordpress.com/2018/07/27/festival-benteng-tindoi-meleko-mendorong-pariwisata-desa-dalam-merawat-alam/

https://suaradesa01.wordpress.com/2018/11/24/budidaya-pegagan-membangun-apotik-hidup-berbasis-desa/

One thought on “Desa-Desa Wisata sebagai Rumah-rumah Peradaban Wakatobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *