Dedikasi Akademik Prof. Dr. Susanto Zuhdi (24 tahun Meneliti Buton)

Oleh: Abd. Rahman Hamid

Pertama kali saya mengenal Prof. Santo, begitu sapaan akrabnya, tahun 2006 ketika memberi Kuliah Umum di Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Hasanuddin Makassar di Aula Prof. Mattulada. Awalnya, saya mengira beliau adalah orang Buton, karena sangat menguasai sejarah Buton. Terlebih lagi ketika memperkenalkan judul disertasinya, dalam bahasa Buton, “Labu Rope Labu Wana”. Kalimat itu adalah bahasa Ciacia, bahasa pertama saya. Namun ternyata beliau adalah orang Jawa. Tampak bahwa Buton telah menjadi second identity (identitas kedua), setelah identitas pertamanya (sebagai orang Jawa) dalam kiprah akademiknya.

Kesan pertama itulah yang menginspirasi saya untuk lanjut studi nanti di Universitas Indonesia, dengan harapam dapat dibimbing oleh beliau. Alhamdulillah, niat itu terwujud pada tahun 2013-2019. Beliau adalah promotor saya. Seperti prinsip akademiknya, mengenai “second identity”, maka saya disarankankan menulis sejarah di luar identitas pertama saya (Buton). Walhasil, saya memutuskan untuk menulis Sejarah Mandar.

Kendati demikian, pada saat dibimbing, beliau selalu menyarankan membaca dan mengingatkan soal Buton. Kadang saya berpikir bahwa betapa Sang Professor ini sangat mencintai Buton, sehingga seolah-olah semuanya di-Buton-kan. Soal Buton tak pernah terlupakan untuk disebut saat beliau memberi kuliah atau ceramah ilmiah dalam seminar/konferensi/dialog.

24 tahun lalu

Tepatnya tahun 1995, Prof. Santo datang di Kendari, Buton, dan Wanci untuk penelitian lapangan, dalam rangkaian penulisan disertasinya, mengenai Sejarah Buton. Satu tahun kemudian (1996), terbit sebuah buku, dimana dia sebagai Ketua Tim bersama G.A. Ohorella dan M. Said D, berjudul “Kerajaan Tradisional Sulawesi Tenggara: Kesultanan Buton” (Depdikbud, Jakarta).

Pada tahun 1999, proses penelitian dan penulisan disertasinya sampai pada satu titik perhentian, atau disebut ujian. Judulnya “Labu Rope Labu Wana: Sejarah Butun abad XVII-XVIII”, yang dibimbing oleh Prof. Dr. A.B. Lapian (promotor) dan Prof. Dr. Taufik Abdullah (kopromotor) di Universitas Indonesia.

Selain sumber-sumber Belanda periode VOC, suatu masa yang tidak mudah dipelajari oleh para sejarawan yang tidak memiliki penguasaan bahasa Belanda lama yang baik, Zuhdi menggunakan sumber-sumber lokal terutama “kabanti” dan tradisi lisan yang berkembang di kalangan orang Buton. Dengan sumber yang terakhir, dia berupaya merekonstruksi sejarah Buton dengan pendekatan “dari dalam”. Menurutnya, sejauh ini, Buton Terabaikan dalam penulisan sejarah Indonesia.

Perlawanan La Karambau sendiri dibahas dalam satu sub bab V disertasinya dengan judul “Zamani Kaheruna Walanda tahun 1755”, sebutan yang terpatri dalam ingatan kolektif masyarakat Buton

Tahun 2010, atas dukungan berbagai pihak, antara lain alm. Drs. Said D, M.Hum (dosen sejarah Unhalu Kendari) dan Ali Mazi, S.H (ketua umum Yayasan Kebudayaan Masyarakat Buton), naskah disertasi tersebut diterbitkan.

Selanjutnya…

Pada tahun 2012, Prof. Santo menjadi Ketua Tim, bersama dengan Muslimin A.R. Effendy, La Ode Mane Oba, Saraha, Ali Arham, penyusunan naskah usulan calon pahlawan nasional, berjudul “Perlawanan Sultan Himayatuddin terhadap VOC/Belanda di Buton 1687-1776”. Naskah itu diterbitkan oleh Komunitas Bambu (2015) menjadi “Perang Buton vs Kompeni-Belanda 1752-1776: Mengenang Kepahlawanan La Karambau”.

Buku tersebut diluncurkan pada saat seminar internasional di kampus UI Depok. Saat itu hadir Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (mantan Presiden RI) sebagai keynote speaker seminar tersebut. Buku tersebut menjadi cindera hati bagi para pemakalah, termasuk saya sendiri dapat satu buku dari Prof. Santo.

Tahun 2018, bersaman ulang tahunnya yang ke-65 (lahir di Banyumas, 4 April 1953), terbit edisi revisi dari disertasinya, dengan judul “Sejarah Buton yang Terabaikan: Labu Rope Labu Wana”. Dilengkapi dengan Orasi Ilmiah berjudul “Buton dan Kesadaran pada Ruang Sejarah”.

Prof. Santo merupakan anggota Tim Pengarah pengajuan calon Pahlawan Nasional dari Buton, Sulawesi Tenggara, La Karambau Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi Oputa Yi Koo. Ketua tim peneliti/penyusun naskah akademik adalah Dr. Tasrifin Tahara. Saya diajak sebagai anggota tim tersebut, khusus menulis ringkasan Riwayat Perjuangan Sultan Himayatuddin. Dalam penulisan itu, saya menggunakan dua karya Prof. Santo (2010/2018 & 2015), dan buku yang lain, sebagai rujukan utama.

Tiga tahun terakhir, Prof. Santo memimpin proyek riset dari Kemristekdikti tentang Diaspora Orang Buton di Kawasan Timur Indonesia, mulai dari (lokasi) Sulawesi Tengah bagian Timur, Maluku Utara, dan Maluku Tenggara (Kep. Kei). Saya ikut dalam tim di lokasi yang disebut terakhir (Maret-April 2019). Rencananya, riset tersebut akan dilanjutkan ke wilayah Papua tahun 2020, dengan fokus yang sama.

Narasi tentang Buton selalu menjadi bagian kegiatan akademiknya. Beliau tidak hanya menulis sejarah Buton yang terabaikan, tetapi juga ingin membebaskan orang Buton dari beban masa lalu (baca: sejarah), bahwa Buton adalah sekutu “abadi” Belanda.

Memang, seperti beliau selalu katakan bahwa, sejarah yang ditulis obyektif (kaidah ilmiah) hendaknya memberikan kepercayaan diri (baca: membebaskan) suatu kelompok yang terabaikan dari kelompok lain dalam arus sejarah bangsa, dengan pendekatan “dari dalam”.

Setelah 24 tahun

Tanggal 8 November 2019 merupakan Hari Bersejarah bagi masyarakat Sulawesi Tenggara, karena untuk pertama kalinya memiliki Pahlawan Nasional.

Berdasarkan KEPRES No. 120/TK/Tahuan 2019, tanggal 7 November 2019, telah ditetapkan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi Oputa Yii Ko sebagai Pahlawan Nasional RI yang ke-181.

Penyerahan Piagam dan SK Pahlawan tersebut, dalam upacara kenegaraan di Istana Merdeka Jakarta, dari Presiden RI H. Joko Widodo kepada Gubernur Sulawesi Tenggara, Bpk. Ali Mazi, yang juga ahli warisnya, didampingi Walikota Baubau dan Ketua Tim Pengusul (Dr. Tasrifin Tahara).

Penetapan Pahlawan Nasional bagi Buton punya makna sangat penting. Betapa tidak, daerah itu selama ini dianggap sebagai “sekutu abadi” Belanda. Dengan demikian, adanya pahlawan itu menunjukkan bahwa Buton bukan “sekutu abadi”, karena Sultan Himayatuddin pernah berperang melawan Belanda.

Selama 24 tahun, Sultan Himayatudin berjuang untuk membebaskan negerinya atas “beban” sejarah dari Belanda. Dia tak mau terikat, apalagi patuh, kepada sejumlah perjanjian yang dibuat antara Belanda dan sultan-sultan Buton sebelumnya, yang tidak menguntungkan pihak Buton.

Bukan faktor kebetulan, ternyata selama 24 tahun (sejak pertama meneliti Buton tahun 1995) juga, Prof. Susanto Zuhdi memperjuangkan Buton dalam mimbar akademik agar orang Buton percaya diri akibat stigma bahwa Buton adalah “sekutu abadi” Belanda. Kini, orang Buton patut berbangga, karena sudah punya Pahlawan Nasional.

Sudah sepatutnya, tanpa mengabaikan peran banyak pihak yang lain dalam pencapaian tersebut, Prof. Susanto Zuhdi mendapat apresiasi yang tinggi dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sebagai murid dan orang Buton, tentu saya sangat bangga atas dedikasi akademik dari Prof. Dr. Susanto Zuhdi. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT, Amin.

Makassar 14 November 2019

Baca juga

One thought on “Dedikasi Akademik Prof. Dr. Susanto Zuhdi (24 tahun Meneliti Buton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *