Daun Pisang

(Bagian 3, fiksi wabah kolera 1970, adaptasi dari potongan-potongan fakta wabah korona 2020)

Oleh: Saleh Hanan

Rupanya La Kamba Mangaru yang menaruh daun pisang sandar di dinding. Dekat dua terap anak tangga batu, di langgar. Subuh ini, berpayung daun pisang. Memotong rinai, yang turun sejak petang kemarin.

Senang bertemu dengannya. Kami kawan. Di sekolah rakyat. Sama-sama murid Tuan Guru Bela. Seorang Katolik yang mengajari anak-anak muslim baca, tulis, dan yang tak dilakukan siapapun: mengajar kami ngaji. Dilakukan tanpa sedikitpun meninggalkan imannya, tak juga mencoba goda kami.

Lepas sekolah rakyat, kami, dua sekawan, sempat bersama kerja sebagai kepala shift di dapur umum para bekas romusha yang mengerjakan lapangan terbang Mandai, Makassar, tahun 1945.
Terakhir kami pisah jalan di pelabuhan Baubau, di Buton. Kawan itu pamit mau terus ke Ambon.
Setahun lalu, diakhir tahun 1969, kawan ini pulang ke pulau. Banyak cerita darinya. Diantaranya tentang jatuh cinta. Sampai-sampai mengatakan, Ambon kota paling romantis untuk jatuh cinta. Habis-habisan jatuh cinta sama Wa Tombinaloka. Gadis Buton yang menyembunyikan asal-usul. Alasannya, ayahnya dituduh terlibat organisasi terlarang beberapa tahun lalu, hingga mereka berdiaspora dan rantai silsilah harus putus. Tombinaloka berarti tunas daun pisang, dan di Ambon mengaku bernama Emola Halemuri. Artinya sunyi, ketenangan.
Satu lagi tentang hamente. Apabila kawan ini memperkenalkan tempat kerjanya, disebut dengan tekanan kuat: kerja di hamente. Semacam petugas kebersihan kota. Apalah. Apapun itu, tak pernah habis kisah jenakanya meskipun aslinya pendiam.
Temasuk subuh ini, hari pertama puasa Ramadhan. Berpayung daun pisang sekalipun, diam-diam, sudah dalam langgar. Padahal tak biasanya ikut sholat subuh.
Mantan pelaut yang kerap mampir menjadi imam, Pa Ijo yang mantan juru lampu pelabuhan, dan Tuan Guru Isa, sengit membahas wabah, tapi La Kamba Mangaru masih asyik berdoa. Tangannya terus ke atas, ketika Pak Ijo mengemukakan usulan agar mulai sekarang tak boleh lagi menyebut-nyebut nama wabah ini, supaya wabah pergi seperti jin yang dicueki, tak diajak bicara. Seperti cara para orang tua yang hanya menyebut waode, untuk hama yang menyerang tanaman di kebun. Pantang menyebut nama spesies.
Pengalamam mantan pelaut sama. Berbicara kepada ombak saat badai dengan memanggil nama waode, dan karae, “Ala woru karae, ala woru waode.” Maknanya meminta ombak tetap lewat di bawah, tidak di atas yang bisa menimbun perahu. Tak pernah bersorak kepada ombak.

Pagi-pagi, jalan mata ampat di barat langgar dan di depan rumah-rumah penduduk terdapat pemandangan seragam: daun pisang, bagian pucuk, sejengkal. Di atasnya terdapat beberapa daun tumbuhan. Daun sirih, potimpa dan melai.
Potimpa, adalah tumbuhan kecil, dengan buah sebesar kuku ibu jari tangan, berwarna orange saat matang. Daun berikutnya dun melai, atau ficus religiosa. Daun pohon ara. Tumbuhan tropis yang dekat dengan sejarah-sejarah besar manusia. Konon itu pohon kesukaan Raja Asoka, dan diyakini Sang Budha melakukan tapa di bawah pohon ara.
Pagi ini semua daun-daun itu diletakkan dengan pucuk menghadap timur. Arah matahari terbit.
Orang-orang yang keluar dari langgar, mencari-cari La Kamba Mangaru. Tadi keluar diam-diam. Tak ada yang tau.
Penjelasan darinya penting, manusia yang bermain rasa macamnya, perlu.

Pak Ijo, mantan pelaut, Tuan Guru Isa, saudagar Binongko, pelaut Kaledupa, berdiri di jalan, dekat pagar batu setinggi paha, di halaman rumah panggung kayu tinggi itu.
La Kamba Mangaru yang hanya terlihat separuh badan, dan duduk menyamping jendela, tersenyum. Sedikit. Senyum tipis.
Tanpa kata, selembar kertas berisi gambar padi dan kapas dikeluarkannya, digantung di bawah jendela itu.
La Kamba Mangaru sedang main rasa. Menunjukkan arti-arti lambang. Potimpa artinya saling tangkis. Dari kata dasar tangkis. Melai artinya jauh, menjauh. Mungkin maksudnya sebuah pesan yang berarti menangkis wabah agar pergi jauh dari kampung.
Jadi daun potimpa, melai, di atas daun pisang itu sebuah tanda. Pertama-tama mengabari sedang terjadi suatu bencana. Selanjutnya petunjuk pada tiap orang untuk berperilaku yang bisa menyebabkan wabah tertangkis, dan tidak menular. Rangkaian prolog dan pesan inti.
Daun-daun disimpang jalan dan di halaman itu ditujukan untuk kita, manusi. Bukan kepada jin. Jika kita tangkap, terjemahkan dan praktekan pola hidup menangkis wabah itu, para jin yang tugasnya membuat lalai akan pergi, tak punya tempat.
Itu simbol pengganti kata pada surat, pamplet, iklan. Pengganti suara pada radio. Simbol untuk meraba rasa.
Seperti gambar padi kapas di jendela rumah La Kamba Mangaru, yang berarti kita harus berusaha jika ingin makmur. Sebab, Tuhan suka kita berikhtiar.

Terang benderang sudah, dengan berpayung daun pisang, La Kamba Mangaru selalu terkenang Wa Tombinaloka.

CeritakanWakatobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *