Daun Kau Banjara: Obat Tradisional yang tidak Banyak Dikenal Orang

Dalam membangun desa, banyak potensi desa yang belum dikelola secara maksimal. Pada hal, kalau kita melihat perkembangan ekonomi masyarakat Indonesia, pertumbuhan ekonomi banyak terjadi di wilayah perdesaan. Di desa, kekayaan dan investasi masyarakat tidak hanya dinilai dari jumlah tabungan rupiah atau dollar, tetapi potensi masyarakat desa dapat dilihat pada kepemilikan properti dan harta (sungai, tanah, rumah, lahan, mineral) bahkan kekayaan hayati (hutan, peternakan, pertanian, perikanan, dan lain-lain). Tentu saja potensi ini, akan lebih eksis, berdaya saing, dan berpotensi untuk dikembangkan karena berkaitan erat dengan hidup dan kehidupan manusia serta lingkungan.

Salah satu harta yang ada di desa adalah adanya potensi obat tradisional yang melimpah. Salah satunya adalah kau bandara (Wakatobi), Sabandara (Muna), galingkan (Bugis) serta Indonesia kebanyakan disebut Ketepeng Kebo, Ketepeng Cina (Jawa), Tabankun (Tidore), Sajamara, Haya mara (halmahera), Ketepeng Badak, Kimanila (Sunda), Kupang-kupang (Ternate), Acon conan (Madura) dan Ura’kap (Busang), dalam bahasa Wawonii dikenal dengan nama Palansinga. Mereka juga menggunakan daun ini untuk obat sembelit (Musdin).

Secara tradisional, masyarakat Indonesia khususnya suku-suku bangsa di Sulawesi Tenggara, mengenal tanaman obat ini sebagai obat kurap atau panu. Namun sebagian masyarakat juga mengenalnya sebagai obat hepatitis B. Bagi masyarakat Tolaki, ada yang mengenal tanaman ini sebagai ramuan yang digunakan oleh ibu-ibu pasca melahirkan. Dan menurut informan, kegunaannya sangat baik, terutama bagi mereka yang habis melahirkan. Sementara informan yang lainnya, mengatakan bahwa daun ini dapat digunakan untuk mengobati Hepatitis B.

Untuk mengembangkan tanaman ini menjadi obat tradisional, tentunya dibutuhkan riset, yang dilakukan oleh perguruan tinggi, terutama dalam melihat kandungan obatnya, terutama antimikrobanya, dan kandungan lainnya. Dalam konsep pengembangan desa, hasil riset itu, akan didesiminasikan untuk menuju pengembangan obat kurap tradional atau obat hepatitis B tradisional yang tentunya dapat menjadi kekuatan desa.

Pinang: Tanaman yang Jangka Panjang yang Bernilai Ekonomis

Pengembangan obat-obat tradisional yang berbasis desa, merupakan langkah untuk menuju kemandirian desa, terutama dalam pengolahan tanaman obat yang banyak kita temukan di desa. Desa-desa ke depan, dapat memanfaatkan tanaman obat sebagai produk desa mereka, karena pengelolaan potensi desa, seperti obat tradisional, akan berdampak pada banyak aspek, yaitu aspek lingkungan, sosial budaya, hingga aspek kesejahteraan masyarakat desa.

Coba kita lihat, China bukan hanya mengeksport  teknologi ke Indonesia seperti huawey, tetapi juga mengekspor obat-obat China yang sangat kita butuhkan. Pertanyaannya, seberapa banyak peduli kita terhadap obat-obat tradisional ini? Pada hal, sumber daya alam kita sangat melimpah dibidang bahan baku obat, tetapi kita belum pernah memaksimalkan kajian kita, untuk dapat menghasilkan obat-obat tradisional. Oleh karena itu, kita dapat belajar dari negeri China dalam mengelola obat-obat tradisional mereka, sehingga produk mereka menjadi salah satu kekuatan ekspor mereka. Dan menjadi kebutuhan obat-obatan kita di dalam negeri. Ini mesti kita banyak merenungkannya, sehingga kita lebih peduli pada sumber daya kita (su001).

Keragaman Kuliner dan Inovasinya: Dapat Menjadi Produk Unggulan Wakatobi di Bidang Kuliner

Pentingnya Daun Kelor untuk Buka Puasa

Pentingnya Daun Kelor untuk Buka Puasa

5 thoughts on “Daun Kau Banjara: Obat Tradisional yang tidak Banyak Dikenal Orang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *