Dari Paris ke Palembang

Jembatan Ampera

30th session of the international co-ordinating council of the biosphere programme, UNESCO, ditutup sore hari waktu Palembang.
28 Juli, waktunya membuktikan Palembang. Kota,…ah sebetulnya Jembatan Ampera, yang terkenal dalam buku 30 tahun Indonesia Merdeka, terbit di masa kanak, usia sekolah dasar. Dan Sungai Musi, nama yang jadi alasan jembatan Ampera dibuat. Nama-nama yang juga tertulis dalam buku IPS dulu. Dengan Soekarno Hatta, Imam Bonjol, Diponegoro, Patimura, Borobudur, Dayak, ampar-ampar pisang, angklung, wayang kulit, sasando rote, serangan umum satu maret, aspal, tembaga pura, dan lain-lain, semacam penyusun rasa Indonesia. Telah berjejer dalam ingatan dari masa kanak, sebelum Raja Ampat, Komodo, Wakatobi, Cibodas, Tanjung Kelai, Darawan, Susi Pujiastuti, Ahok, Trio Macam, Ustaz Abdul Somad, menandai Indonesia dalam mesin-mesin pencari virtual, dalam tagar, masa kini.

Saya di sini, di kawasan Dermaga Point tepian Sungai Musi. Begitu tiba menghambur, meluapkan rasa Indonesia. Ke jembatan itu, di sungai sana. Akan tetapi tiba-tiba hati saya rubuh, lari ke bulan purnama, yang mengendap-endap meninggalkan kawat baja penggantung jembatan yang terbungkus cahaya hijau. Melewati lampu-lampu jalan yang memancarkan cahaya kuning. Menjauhi tiang utama jembatan yang dipertegas cahaya merah.

Baca Juga Hepatirangga: Ruang Jodoh dan Pengobatan Alternatif

Nyamuk sudah tiga ekor menggigit tangan kiri, kanan, dan saya duga menusuk sudut telapuk mata kiri saya dalam 15 menit ini. Di tepi Sungai Sein di bawah Menara Eiffel, Paris, yang berwarna tunggal keemasan malam hari, saya tak pernah bertemu nyamuk seekorpun seperti ini. Bahkan tak ada ketika saya mencari-carinya, diwaktu sore yang sama, hampir sebulan lalu.

Baru saja juga, pok-pok, kapal kecil dari kayu, dan speed boat, bergantian menebar bunyi. Musik dan lagu-lagu berbahasa Inggris terus mendominasi sejak tadi, keluar dari cafetaria GoAhead Music View Corner di sebelah kanan. Ditambah toko donat J.CO di tengah, restoran KFC di kiri anjungan ini, bahasa dan brand tabu di tepi Sungai Sein. Di tepi Sungai Musi ini, warna, suara, cahaya, irama, aroma, barang dan aksara, komoditi yang membuat rasa Indonesia, seperti ditandai dari buku 30 Tahun Indonesia Merdeka, menjauh.

Baca Juga Dua Pulau Tak Berpenghuni di Morowali Utara: Potensi Pengembangan Wisata

Frustasi. Dermaga-dermaga kecil, letak dan desainnya tak teratur, tempat calon penumpamg meniti turun ke pok-pok. Sampah-sampah tertahan pada tiang-tiang, semuanya bikin frustasi.
Saya akan pergi dari sini. Sekarang!
Sekali sebelum melangkah, menghardik kawat baja penggantung jembatan Ampera, “huh, lepaskan bulan itu, setiap lewat situ. Tinggal dia tetap terasa sama.”

Penulis: Saleh Hanan

Festival Benteng Tindoi Maleko: Mendorong Pariwisata Desa dalam Merawat Alam

Kepemimpinan Tradisional Vs Demokrasi Setengah Hati

Keunikan Pantai Moli’i Sahatu ( Pantai 100 mata air tawar)

Perpustakaan Desa Sombu: Kunci Menuju Peradaban Modern (Bagian 1)

3 thoughts on “Dari Paris ke Palembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *