Dana Desa: Menginspirasi Dunia dalam Pengentasan Kemiskinan

Sebagaimana diberitakan oleh beritasatu.com, program dana desa yang saat ini dilakukan di Indonesia menyita perhatian dunia. Dalam sebuah Konferensi internasional dengan tema “Rural Inequalities: Evaluating Approaches to Overcome Disparities” yang diselenggarakan International Fund for Agricultural Development (IFAD) di Roma, Italia, Selasa (2/5). ( Foto: Istimewa, menteri desa Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, sukses menyita perhatian dunia.

Dalam konferensi internasional tersebut, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Menteri Desa), Eko Putro Sandjojo, didapuk untuk menjadi pembicara dalam acara konferensi internasional dengan tema Rural Inequalities: Evaluating Approaches to Overcome Disparities yang diselenggarakan International Fund for Agricultural Development (IFAD) di Roma, Italia, Selasa (2/5).

Dalam seminar tersebut, ia mengatakan bahwa “Kami telah memasuki era baru pembangunan pedesaan di Indonesia. Hal itu kami lakukan dengan mengimplementasikan kebijakan dana desa. Dalam kurun waktu empat tahun ini, negara telah mengalokasikan hingga Rp 187 triliun untuk disalurkan ke desa,” ujar Eko dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (3/5).

Eko mengatakan, sebagai negara terbesar di Asia Tenggara dengan populasi mencapai 260 juta penduduk serta negara kepulauan terbesar, sektor pertanian merupakan potensi utama Indonesia yang dapat dimaksimalkan. Di hadapan para peserta IFAD yang hadir dari berbagai negara ini, Eko menceritakan bagaimana kehidupan pertanian di Indonesia yang berada di kawasan pedesaan.

“Percepatan pembangunan pedesaan adalah langkah strategis. Pembangunan pedesaan memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Lebih dari 82 persen penduduk desa bekerja di sektor pertanian. Dana Desa disalurkan untuk menjadi daya ungkit dan memaksimalkan potensi pertanian tersebut,” sambungnya.

Baca Juga Pelatihan Ekonomi Kreatif: Menciptakan Lapangan Kerja

Eko mengungkapkan, hingga tahun 2017 lalu, dana desa yang disalurkan ke lebih dari 74.000 desa, telah berhasil membangun 123.145 kilometer (Km) jalan desa, 5.220 unit pasar desa, 26.070 unit kegiatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), 1.927 unit embung, dan 28.091 unit irigasi. Selain itu, dana desa telah digunakan diantaranya untuk membangun sarana air bersih sebanyak 37.496 unit, 5.314 unit Polindes, 18.072 unit PAUD, 11.424 unit Posyandu, 108.484 unit MCK, 38.217 kilometer drainase, dan 65.918 unit penahan tanah.

“Dana desa menjadi pendorong untuk menunjang aktivitas ekonomi serta peningkatan kualitas hidup masyarakat desa. Kami terus bergerak untuk memberantas kemiskinan di pedesaan dengan kebijakan tersebut,” paparnya.

Eko menambahkan, saat ini Kementerian Desa memiliki empat program prioritas dalam mendorong pembangunan di Desa, yakni Budan Usaha Milik Desa (BUMDes), Program Unggulan Kawasan Pedesaan (Prukades), pembangunan embung, dan yang terakhir adalah sarana olahraga.

“Kebijakan dana desa, telah berhasil mengurangi kesenjangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada April 2018 lalu, gini ratio di desa yakni 0,32, di kota 0,4 dan gini ratio nasional 0,39. Hal tersebut menunjukkan pembangunan di desa menjadi pendobrak penurunan gini ratio di Indonesia,” pungkasnya.

Baca Juga Resto Nike Ardilla: Legenda dan Inovasi Kreatif

Apa yang perlu dilakukan sehubungan dengan kebijakan tersebut, desa harus semakin serius dalam memanfaatkan dana desa, sehingga anggaran yang sudah menjadi inspirasi dunia itu dapat menjadi kesusksesan bersama. Dana desa harus dimanfaatkan sedemikian efektif dan efisien, sehingga dapat mendorong peningkatan ekonomi, sosial budaya, serta pembangunan lingkungan desa yang berkelanjutan.

Apa yang disampaikan oleh kementerian di dalam konferensi internasional tersebut, membutuhkan komitmen kita bersama untuk pemanfaatan dana desa, di samping pembangunan infrastruktur, juga sudah harus fokus pada pembangunan sumber daya manusia, termasuk untuk mendorong kaum milenial untuk terlibat dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis desa. Tentunya masih banyak yang perlu dilakukan di desa yang bisa dilakukan berbasis generasi muda.

Ini juga sudah saatnya untuk melibatkan universitas untuk bersama sama mendesain pembangunan desa terutama dalam melakukan observasi potensi dan permasalahan yang ada di desa. Peta potensi ini akan mengarahkan perencanaan pembangunan SDM yang ada di desa.

Baca juga Membangun Desa: Enam Indikator yang dibutuhkan untuk Bisa Maju

Sambangi SMA Negeri 3 Binongko: UMU Buton Tawarkan Beasiswa

Kreativitas Pemuda Karang Taruna Desa Waara Olah Limbah Gelas Plastik Menjadi Lampu Hiasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *