Catatan Ringan: *MENYONGSONG KURIKULUM BARU*

Oleh: Prof Dr Barlian
(FKIP Universitas Haluoleo)

Ribetnya dunia pendidikan (dan persekolahan) di negeri ini, yg selalu diidentikan dengan ungkapan “ganti menteri ganti kurikulum”. Hrsnya yg jadi prioritas dibangun adalah kapabilitas guru, krn kurikulum yg tdk dibarengi dgn kualitas SDM Guru yg handal (kapasitas yg memadai) maka untuk menjalankan/melaksanakan kurikulum apa pun, akan tetap saja hasil akhirnya “jauh panggang dari api!”

Patut diingat, bahwa K13 (yang efektif berlaku mulai thn 2015) menghabiskan biaya sebanyak Rp 2,4 T. Cukup mahal! Namun kemahalan tsb dpt dirasionalkan, karena K13 dianggap dpt mengatasi keluhan guru saat itu dlm penyediaan Buku Ajar dan RPP yg diproduksi langsung oleh Pemerintah Pusat (Depdiknas). Ini merupakan perbaikan (berdasarkan hasil evaluasi) terhadap KTSP 2006, dimana para guru mengeluhkan tdk adanya Buku Ajar dan RPP yg menyertainya, shgg para guru mengeluhkan “beban administrasi” (di luar tugas mengajar) yg hrs dibuatnya, dan ini menyita banyak waktu mereka, lagi2, ini dianggap sebagai jebakan tugas administratif, bukan tugas pokok guru sebagai pembelajar.

Baca Juga Harga sesuatu Tergantung yang Mengenalnya (Bagian 3)

Hal lain yg “disisoalisasikan” sbg kelebihan K13 adalah bahwa isinya (jika dirujukkan pada Taxonomy Bloom) lebih mengutamakan prioritasnya pada urutan: (1) Ranah Afektif (Sikap/Karakter), menyusul (2) Ranah Psikomotorik), dan terakhir (3) Ranah Kognitif (Pemahaman/Pengetahuan).

Penetapan urutan Ranah/Domain Belajar dlm K13 seperti di atas, cukup mengagetkan para Ahli Pendidikan (dan juga para Ahli Kurikulum) ketika itu. Betapa tidak, karena dlm Taxonomy Bloom, urutan² aslinya (yg dianut selama ini) adalah: (1) Kognitif, (2) Afektif, dan (3) Psikomotorik. Dan diskusi/polemik yg panjang lewat berbagai media dan surat-menyurat ke Depdiknas saat itu, ttg hal ini, sangat alot. Namun akhirnya dpt ditebak, bahwa otoritas kebijakan Mendiknas Muhammad Nuh saat itulah yg diikuti; yg secara ringkas intinya adalah adanya Keprihatinan beliau tentang Buruknya Karakter para peserta didik yg melanda hampir semua jenjang pendidikan formal yg ada, sehingga Ranah Afektif perlu dinomorsatukan, sedangkan ranah Psikomotorik dan Kognitif menyusul di urutan berikutnya!

Baca Juga Kreativitas Pemuda Karang Taruna Desa Waara Olah Limbah Gelas Plastik Menjadi Lampu Hiasan

Kini, oleh Mendiknas yg baru Nadiem Makarim, menyatakan akan mengganti K13 dgn Kurikulum Baru (entah akan diberi dengan nama apa?); sementara menurut mantan Wamendikbud periode lalu, Musliar Kasim (10/12/2019), menginginkan agar Mendikbud Nadiem Makarim mempertahankan K13. Menurut hemat penulis, stlh menyimak bbrp pandangan Mendikbud Nadiem Makarim lewat berbagai media, pandangan² beliau secara substantif, sesungguhnya telah terakomodir dlm K13, yakni pentingnya Pengutamaan Karakter dlm Kurikulum Sekolah. Lagi pula obsesi Mendikbud dalam hal pentingnya Muatan Karakter dalam Ujian Nasional ke depan nanti, sdh ada dlm K13.

Seiring dgn itu pulalah, maka Peningkatan/Pemantapan Kemampuan Guru dalam mengimplementasikan K13 hrsnya mendapatkan perhatian utama. Dalam berbagai diskusi terbatas/kecil²an penulis dgn bbrp orang guru, terungkap bahwa pemahaman mereka tentang Scientific Approach yg harus diimplementasikan di kelas saat mengajar misalnya, masih dirasakan agak sulit oleh mereka yg disebabkan kurangnya pemahaman mereka secara memadai akan hal ini.

Keluhan lain yg terungkap dari para guru adalah “Sosialisasi K13” lewat Pelatihan Guru utk hal tsb, tidak (belum) menjangkau semua guru utk diikutkan di dalam Pelatihan² dimaksud. Oleh karena itu, menurut penulis, hal Peningkatan Kapabilitas, Kapasitas, Kualitas gurulah yg perlu diutamakan dalam menyertai Kurikulum apa pun di sekolah. Analoginya sederhana, bahwa “Murid yang pintar tidak mungkin dilahirkan dari Guru yang tidak pintar”. Dan semakin Pemerintah berusaha dgn sungguh² untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini, maka semakin urgen pula perhatian Pemerintah terhadap pembangunan kualitas SDM Guru dan juga perbaikan nasib para guru dalam promosi dan kesejahteraan mereka. Last but not least, bahwa “good job good salary” (pekerjaan yg baik ditentukan oleh gaji yg baik.”**

Baca Juga Rahasia Al Qur’an tentang Konsep Kabupaten Maritim (1)

Ara Nobhae na Gendi: Nokoru Nawokirano (Kalau beringin itu masih berbuah, merpati mutiara akan banyak yang datang)

Dana Desa 2020 dan Inovasi Literasi Desa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *