Catatan dari 30th Session of the MBA-UNESCO (bagian 2)

Cagar Biosfer Ini Uang?

Tahun pertama program bersama The Nature Conservancy (TNC) dan Word Wide Fund (WWF) untuk konservasi taman nasional Wakatobi, buka kantor di Kelurahan Mandati II (dua) Wakatobi, ditandai dengan musim kemarau yang dingin. Lebih dingin dari bulan-bulan lain pada belahan bumi dua musim ini.

Waktu itu Agustus 2004. Orang-orang yang menonton lomba tari dan lagu pada malam-malam perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia di lapangan Merdeka Wangi-Wangi, Wakatobi, terpaksa menghangatkan tubuh dengan membakar sedikit rumput-rumput lapangan.

Tradisi menyalakan api dari potongan kayu, sabuk kelapa, dan dedaunan, seperti itu dalam bahasa lokal disebut henderu. Masyarakat yang tinggal di puncak Tindoi, Pulau Wangi-Wangi, memulainya jauh sebelum fajar terbit. Masyarakat desa Numana membuat perapian itu di depan rumah-rumah, sepanjang desa di sisi jalan poros Sala Walanda atau jalan raya buatan Belanda yang mengelilingi pulau. Orang-orang duduk melingkar titik api.

Baca Juga Catatan dari 30th session of the ICC – MAB UNESCO (bagian 1)

Henderu merupakan ivent sosial. Dari situ mengalir percakapan tentang kejadian terbaru kemarin, sebelum mereka terlelap tadi malam, dan agenda mereka hari ini.

Selain itu, warga yang tinggal di pantai pagi-pagi terjun ke laut. Suhu air laut sangat hangat pagi-pagi.

Malam dingin, berarti musim kemarau sudah datang. Minyak kelapa dalam botol kaca yang diletakkan Ibu, dulu, di atas lojo (rak piring dari gaba-gaba atau pelepah sagu) membeku seperti mentega sampai matahari siang membawa panas.

Musim kemarau selalu mulai pertengahan tahun. Para penduduk pulau akan melihat citra bintang to’o, bintang sore dan subuh. Jika sinar to’o berpijar keperakan, pertanda akan banyak hujan akhir tahun sampai awal tahun di muka. Pilihan mata pencaharian adalah berkebun. Curah hujan cocok untuk bertani. Bila pijar to’o memerah tembaga, pertanda kemarau panjang. Tempat rejeki di laut. Pilihan pekejaan adalah mencari hasil laut atau berlayar dan berdagang.

Baca Juga Janji Pantai Oro Binongko & La Promesse de Plage Chatelaillon

Saat seperti itu, Perempuan-perempuan yang tidak ke laut, memanen daun pandan, mengeringkannya, dan menganyam tikar. Mereka manfaatkan cahaya bulan malam hari untuk menyelesaikan anyaman, di halaman, sekaligus mengajari para remaja putri menganyam. Para pemuda berkunjung, duduk di atas bebatuan pagar rumah. Gelora muda mereka membara di malam dingin. Sebenarnya pria-pria itu sedang berencana memilih kekasih untuk awal kehidupan baru. Menganyam tikar dan cahaya bulan hanyalah wahana menuju satu hakekat. Suatu kereta di taman mimpi-mimpi pria dan wanita muda tentang bulan madu.

8 Tahun Kemudian

8 tahun dari malam-malam dingin di lapangan, UNESCO memberi Wakatobi status cagar biosfer; 11 Juli 2012. Buah kerja bersama masyarakat, pemerintah daerah dan Balai Taman Nasional Wakatobi, dalam mengkonservasi budaya manusia dan alam sekitarnya. Pada kota-kota di Eropa dan beberapa daerah di Indonesia, label itu merupakan alat perekonomian.

Bagaimana di Wakatobi? Bagaimana label cagar biosfer sebenarnya bisa bekerja untuk menghasilkan uang?

6 Tahun Setelah Cagar Biosfer

Deklarasi Palembang, saat 30th Session of the ICC-MAB UNESCO, membarukan visi lama pada harmoni manusia dan alam. Tentang kesadaran negara-negara peserta konferensi terhadap kebudayaan, indigenousme, jalan antrologis, sebagai metode pertama menjaga biosfer.

Mengalir juga kekhawatiran tentang komoditi invasif, sampah.

Ledakan volume sampah mengguncang biosfer. Dunia sedang diteror. Putaran arus yang mengumpul sampah plastik di Samudera Pasifik akan melebihi luas daratan Indonesia dalam waktu singkat. Wakatobi hanya seluas 1,3 juta hektar. Laporan yang belum terverifikadi menyebut angka 20 ton perbulan sampah plastik mengisi pantai, dasar laut, dan pulau-pulau. Hasil dari sisa konsumsi lokal dan sampah yang diangkut arus. Dengan wilayah daratan hanya 3 %, tak butuh satu periode pilkada, ukuran pulau-pulau Wakatobi akan disalip luas tumpukan sampah plastik.

Sejauh ini, label cagar biosfer bekerja dengan baik secara lokal untuk harmoni manusia dan alam. Akan tetapi tekanan datang dari luar. Invasi plastik, kaleng, dan sejenisnya, sisa kemasan produk, masuk tak tertahan.

Seperti invasi spesies asing ke kawasan konservasi. Kehadiran kucing pada savana di taman nasional yang memuliakan kupu-kupu, misalnya, dianggap hama. Padahal itu sama-sama kehidupan alami. Karena itu benda-benda plastik di kawasan cagar biosfer Wakatobi telah setara spesies invasif yang merusak rantai kehidupan.

Tikar-tikar pandan menyerah pada penetrasi pasar tikar plastik. Para ibu membeli minyak sawit dalam botol atau bungkus plastik di toko. Meninggalkan kebiasaan membuat minyak kelapa, dari pohon kelapa yg tumbuh di pulau. Sementara itu, modul, buku pintar kawasan konservatif sangat domestik.

Deklarasi Palembang 2018 merupakan mata baru pengelolaan cagar biosfer untuk melihat keluar, melihat jalan ketiga yakni sektor privat.

Barang-barang industri produk sektor privat adalah komoditi invasif yang sampahnya berpotensi menekan kawasan lebih dari bencana alam dan perilaku destruktif penduduk lokal. Terbukti produk makanan, minuman, perkakas kemasan plastik atau kaleng, sampahnya tak kenal tempat.

Label cagar biosfer sudah dimulai untuk produk dalam kawasan seperti coklat dari Lore Lindu, atau mie rumput laut Wakatobi. Jalan ketiga memungkinkan produk luar yang masuk kawasan berlabel cagar biosfer. Coca cola, susu bendera, aqua, rinso, indomie, bimoli, pampers mimi koko, ale-ale, oli castrol, dan lainnya berlabel cagar biosfer.

Uang? Komitmen! Rencana kerja, prinsip, untuk harmoni manusia-alam di cagar biosfer. Sederhana, produsen menyediakan mekanisme beli ulang (buy back) sekian rupiah tiap kaleng, botol, atau bungkus produk. Dananya diserahkan kepada pemerintah daerah untuk menggaji, menyediakan fasilitas kerja yang rapi, aman, sehat, untuk petugas pengumpul benda-benda bekas pakai itu (cleaning service alias petugas kebersihan). Jumlahnya melebihi pagu dinas kebersihan. Anak muda, ratusan orang, bisa menikmati pekerjaan profesional dengan fasilitas moderen dan penuh gengsi sebagai staf cagar biosfer.

Baca Juga Cara Hebat Konservasi: Pantai Sousu di Sulap Menjadi Ruang Publik Wisata Desa

Pagi ini, musim kemarau yang sama dengan bahan berbeda untuk menyalakan api henderu di salah satu rumah di pinggir ibu kota Wakatobi. Mula-mula potongan plastik botol air dibakar, lalu disimpan di atas tumpukan sampah.

Kini kita baru memiliki roda kayuh. Jalan ketiga sangat berliku. Akan tetapi bukankah La Mane, Wandage, Niel Amstrong, Edwin Aldrian, mengajukan muhibah ke bulan itu memungkinkan? (sh007).

Penulis: Saleh Hanan

Editor: Sumiman Udu

Baca Juga Hutan (Motika) Bungi Longa: Terancam Hilang (Bagian 1)

Air Jatuh La Wele: Potensi Pengembangan Pariwisata Desa

20 Tahun Tak Pernah di Aspal, Warga La Wele Tanam Pisang Demi Paru-Paru Anak-anak

Janji Pantai Oro Binongko & La Promesse de Plage Chatelaillon

One thought on “Catatan dari 30th Session of the MBA-UNESCO (bagian 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *