Buya Syafii Ma’arif: Sosok yang Diakui sebagai Guru Bangsa

Malam ini, sebuah diskusi yang diikuti oleh ratusan peserta, dimulai dengan upaya untuk mengenang Buya Syafi’i Ma’arif yang bukan hanya sebagai tokoh intelektual muslim, tetapi beliau dapat diterima sebagai salah satu guru bangsa.

Dalam melihat sosok Buya Syafi’i Ma’arif, Irfan dari Republika menilai bahwa tulisan-tulisan Buya, telah memberian kontribusi dalam memberikan nilai kemanusiaan. Buya juga sangat paham tentang sejarah, sehingga ketika ia menulis, memiliki latar sejarah yang luas, sehingga memberikan nilai-nilai kemanusiaan yang penting.

Sementara Anderas Hugo Pareira, mengatakan bahwa saya lebih senang kalau menyebut Buya sebagai guru bangsa yang selalu mempedulikan kepada mereka yang termarjinalkan. Ia mampu melihat sebuah kebenaran di tengah publik melihat sisi lain dari Ahok. Andreas melihat ini sebagai sebuah keberanian Buya dalam mengungkapkan kebenaran. Termasuk ia mampu menjaga jarak dari kekuasaan. Sebagai seorang politisi, Buya memberikan ruang sebagai seorang guru yang mampu bertahan untuk tetap menjaga jarak dengan kekuasaan.

“Sebagai seorang politisi, mencari negarawan saat ini, sangat sulit. Saat ini kita dapat kembali dengan definisi negarawan. Negarawan akan selalu muncul dengan semangat zamannya. Akan ada orang yang selalu hadir dalam berbagai konteks, maka di situlah figur-figur yang bisa tampil sebagai sosok yang bisa memberikan yang terbaik kepada bangsanya. Katakanlah kita bisa melihat sosok Bung Karno yang mampu memerdekakan bangsa Indonesia. Saat ini, apakah masih ada negarawan dalam konteks politik modern, maka sesungguhnya seorang negarawan adalah mereka yang memikirkan tentang generasi yang akan datang. Bukan semata-mata hanya memikirkan sebuah kontekstasi politik dalam merebut kekuasaan. Negarawan akan melihat visi untuk masa depan dari sebuah bangsa. Oleh karena itu, pemikiran dan tindakan untuk menemukan seorang negarawan di tengah pandemi populisme sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan.

Oleh karena itu, Andreas mengatakan bahwa mencari negawaran adalah mencari seorang sosok yang benar-benar holistik dan bisa berpikir untuk sebuah masa depan dari generasi yang akan datang. Kita membutuhkan sosok yang memiliki pemikiran sebagai seorang negarawan.

Sementara, Mas Toni ketua DPP Partai Solidritas Indonesia, mengatakan bahwa walaupun sangat subjektif, tetapi saya bisa melihat bahwa Buya Syafi’i Ma’arif merupakan salah satu tokoh yang dapat dilihat dari dua hal, yaitu 1) aspek pemikiran keislaman, dimana beliau menganjurkan agar anak-anak muda, dapat mengimplementasikan islam, keindonesiaan dan kemanusiaan itu dapat menjadi bekal anak-anak muda dalam berjuang, 2) aspek keanggunan atau kepribadian Buya, yang dapat menjadi teladan, yang dapat dijadikan sebagai orang yang mampu menjaga integritasnya. Integritass menjadi salah satu aspek yang paling penting dalam mewujudkan generasi yang memupuk jiwa-jiwa negarawan. Integritas menjadi salah satu yang harus dimiliki oleh semua generasi muda di masa yang akan datang.

Toni kemudian berharap bahwa seluruh partai politik agar bisa menghasilkan para negarawan yang berkualitas dan memiliki kapasitas, untuk memimpin daerah-daerah. Integritas harus dijadikan sebagai sebuah nilai yang perlu diinternalisasi kepada semua para calon pemimpin yang mumpuni. Oleh karena itu, maka diharapkan, akan lahir kader-kader generasi yang baik dan memiliki integritas yang cukup kuat untuk melahirkan kader-kader baik dan berkualitas, dengan membuat relaksasi pada sistem politi kita, sehingga ada ruang untuk masuknya orang-orang berkualitas dalam pembangunan bangsa dan daerah.

Saleh Daulay melihat bahwa Sosok Buya Syafi’i Ma’arif sebagai cermin untuk bangsa. Beliau adalah sosok yang dapat menjadi ruang untuk tempat bercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan dalam kehidupan sosial budaya. “Kata dan laku harus konsiten” harus menjadi salah satu aspek yang perlu kita jadikan sebagai model dalam kehidupan keseharian.

“Buya juga mengajarkan agar kita melakukan moderasi diri kita dalam kehidupan berbangsa dan beragama. Kita harus mampu menjadikan diri kita untuk menghargai agama lain, ataupun bangsa-bangsa lainnya. Dalam konteks inilah, perlu adanya kita dapat bercermin dalam sebuah sikap untuk tetap mampu bersikap untuk menghargai semua agama dan bangsa. Toleransi harus menjadi salah satu pemikiran yang perlu kita lakukan”, tuturnya dalam diskusi tersebut. Konsistensi Buya membuat kita sulit untuk menemukan sosoknya sebagai guru bangsa.

Sementara Irma Sandiago yang mewakili partai Nasdem, mengatakan bahwa ada beberapa ciri seorang negarawan, yaitu 1) negarawan sejati harus memiliki pengalaman politik yang ketat dengan nilai-nilai Islami dan kebangsaan yang ketat, 2) negarawan sejati berorientasi pada pelayanan kepada masyarakat.

“Saat ini, jiwa negarawan masih susah kita temukan, karena rata-rata masih berpikir untuk melayani diri dan kelompoknya. Belum ada yang mampu memperjuangkan pelayanan yang baik kepada masyarakatnya. Nilai-nilai Islam adalah Islam yang rahmatan lil alamin. Kita harus memiliki orang yang beragama tetapi juga harus memiliki ilmu kebangsaan yang baik”.

Hilman Latief, melihat sosok Buya sebagai salah satu sosok yang memiliki sejarah dan filsafat, yang seharusnya didesiminasikan kepada generasi muda dalam penyelesaian persoalan-persoalan bangsa. Bangsa kita membutuhkan kesadaran sejarah dan kesadaran filsafat yang sangat penting untuk pembangunan bangsa. Ini menjadi penting, karena bangsa ini tidak boleh lengah pada kesadaran sejarah dan kesadaran filsafat, karena persoalan kebangsaan ini tidak bisa dilepaskan dari kedua kesadaran ini.

Dalam menyikapi dinamika politik dan persoalan bangsa ini, harus dipahami dalam konteks kesadaran sejarah dan filsafat, sehingga mereka dapat memahami semua fenomena dalam konteks kesadaran sejarah dan kesadaran filsafat, sehingga generasi muda memiliki landasan yang kuat dalam hal membangun diskusi kebangsaan. Kader-kader bangsa hendaknya, dapat memiliki kesadaran sejarah dan filsafat sehingga mereka tidak terlepas dari sejarah kebangsaan serta nilai-nilai kebangsaan.

Sementara dari tokoh muda NU, Savic Ali mengatakan bahwa “Buya adalah sosok yang dapat dijadikan sebagai sosok yang menjadi salah satu sosok yang selalu memperlihatkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebangsaan sehingga tetap menjadi salah satu rujukan anak-anak muda bangsa”. Sementara Prmono U. Tanthowi mengatakan bahwa Buya adalah sosok yang sangat luar biasa konsiten untuk tetap menjaga diri dari kekuasaan. Buya hanya memilih untuk memimpin Muhamadiyah, saat semua orang memilih masuk ke dalam ruang politik. Untuk itu, Buya merupakan sosok yang konsisten di luar dunia poitik yang berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan dan ditunjang oleh integritas yang kuat. Di samping itu, kesederhanaan, kejujuran, menjadi sebuah nilai yang selama ini diperjuangkan oleh Buya Syafi’i Ma’arif.

Selain itu, Yunianti Chuzaifah mengatakan bahwa Buya adalah sosok yang memberikan suprot pada isu-isu perempuan. Buya merupakan sosok yang tetap konsisten dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, termasuk dalam melindungi kehidupan kaum perempuan. Sehingga sebagai negarawan, sebuah nilai-nilai kemanusiaan dan kembangsaan harus dapat menjadi teladan dalam memperjuangkan dalam berbagai isu, termasuk isu perempuan dan anak. Tentunya itu perempuan dan anak adalah isu dimana korban akan selalu dekat dengan kelompok ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *