Bunga yang Hilang

Oleh: Irsad Syamsul Ainun⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Lahir sebagai anak kampung bukanlah salah kedua orang tua, karena memang mereka telah di takdirkan untuk tinggal dan menetap disana. Jika semua orang mengganggap kampung halaman adalah hal yang paling dirindukan berbeda denganku. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Aku mulai blak-blakan menolak untuk pulang ke desa asal, ini bukan tentang kerinduan yang tak terobati. Ini masalah buatku, sejak memasuki bangku perkuliahan aku tak lagi memiliki pikiran yang waras, ya lagi-lagi masalah anak muda.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Rasanya ingin memberontak tapi tak punya nyali, “Sudahlah pendidikanmu tak akan mengubah kodrat dan gelar yang akan kau dapatkan hanyalah pelengkap saja,”⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Tidak perlu studi jauh-jauh, toh pada akhirnya semua juga akan kembali ke dapur. Siapa yang ingin kau lengserkan kedudukannya di desa ini, kepala desa sudah ada, presiden, menteri, dokter, guru, dan semua profesi sudah ada. Jadi buanglah jauh-jauh anganmu untuk menggantikan posisi mereka dengan pendidikan dan gelar yang akan kau dapatkan.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Jika bukan orang tua yang mengatakan hal seperti itu ya kadang juga anak-anak yang belum sadar akan pentingnya pendidikan. Aku hanya terdiam ketika beberpa kali berpapasan dengan para kawula tua di desa dengan bahasa seperti itu, bahkan ada juga anak yang bicara di depanku dengan bahasa yang sama.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Aku membatin, dasar orang-orang hanya berpikir tentang pengalaman, tapi lupa bahwa pendidikan bukan hanya sekedar gelar. Ah, sudahlah untuk apa aku mendebatnya yang pada akhirnya mereka akan mencapku sebagai anak durhaka. Bahasanya pun akan kian menyakitkanku ketika aku akan mengeluarkan teori tentang peradaban apalagi hanya sekedar evolusi. Aku tak ingin menggunakan bahasa formalku dan sekedar mengeluarkan terosi tapi tidak dengan prakteknya.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
****⁣⁣⁣
𝟐𝟎𝟏𝟕-𝟐𝟎𝟏𝟖⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
“Nak, bisakah kau membantu kami? Kami melihat kamu bisa menasehati mereka”⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
“Akan aku coba, tapi satu pintaku, yakinkan pada anaknya bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang gelar”⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Diskusi terus berlanjut, dan aku mengambil kesimpulan alangkah ruginya masyarakat di desaku, ya semua hanya berpikir membangun rumah, memiliki kendaraan mewah, uang banyak tapi lupa membangun pondasi perubahan dengan melibatkan generasi muda dalam bidang pendidikan.⁣⁣⁣
Memang tak ada jaminan orang berpendidikan akan sukses secara materi, tapi setidaknya jika ada ilmu maka ada jalan untuk menebus bahkan memecahkan batu keangkuhan di desa ini.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Lagi-lagi aku mulai merasakan sesak, ketika berbicara masalah desa yang tak kunjung membaik, ekonomi masyarakat merosot, pendidikan terabaikan, anak-anak banyak yang memilih merantau ke negeri Timur meskipun statusnya masih di bangku sekolah menengah pertama, nikah muda, pergaulan bebas, dan masih banyak fakta yang kutemukan. Namun, aku hanya bisa melihat dan menutup mata. Berbicara pun itu hanya sekedar teori.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Tak banyak dedikasi yang bisa kusumbangkan disana, paling-paling mereka hanya mengganggap bahwa pendidikan hanya untuk mendapatkan gaji dari PNS, namun mereka lupa bahwa semua itu tak ada gunanya jika seorang lulusan terbaik pun jika tak hanya membangun di desa orang lain, apa gunanya semboyan putra daerah membangun wilayah sendiri.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Ini memang sepenuhnya bukan salah orang tua kita, tapi aku berpendapat ini bisa saja kukatakan salah pemerintah daerah yang hanya berlomba mecari suara ketika kampanye, namun jika sudah terpilih mereka menutup mata untuk mendodorong kawula muda tentang pentingnya berpendidikan.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Dasar otak, gumamku. Sudahlah, lagian aku tak lagi hidup disana, aku ingin bermasa bodoh, tapi lagi-lagi semua cerita orang-orang tua dari sana membuatku ingin memutar arah kemudiku yang saat ini mulai kukuasai, terus bertanya ada apa dengan desaku? Mengapa pergaulan bebas semakin ramai disana, nikah muda meningkat setiap tahunnya, anak-anak banyak terbawa arus komunikasi yang salah, semua itu memenuhi pikiranku.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Aku ini putra daerah, tapi mengapa tidak bisa berkontribusi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat? Aku kurang interaksi atau memang salah memilih jurusan. Semua keluh-kesahku masih saja membuatku ingin segera bertemu dengan mereka para penjabat.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Bukan untuk mendemo dan protes tentang janji-janji politik mereka, aku hanya ingin mengatakan untuk merangkul dan mengarahkan generasi di bidang pendidikan, tidak hanya berbicara tentang pembangunan jalan, dan bantuan-bantuan lainnya.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Dasar aku, permintaanku mungkin terlalu mendarah daging karena keinginanku dan kepedulianku untuk mengubah pola pikir generasi muda disana. Baiklah kita akan segera memulai gerak perubahan catatanku dalam sebuah buku yang kudapatkan dari Papi dulu.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
𝟐𝟎𝟏𝟗⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Nikah muda??? PNS?? Gaji banyak? Memang tidak salah jika Anda menikah muda, tapi mengapa nikah muda masih saja membuatku tertampar dan merasa terluka. Ini bukan larangan, aku hanya terenyuh dan merasa marah pada diriku sendiri mengapa nikah muda harus diawali dengan pertemuan dua insan tanpa rasa malu lagi? Mengawali hubungan dengan sebuah pertemuan yang dianggap tabuh. Padahal orang-orang tua kita terdahulu yang tak kenal dengan wajah pendidikan merasa malu ketika kedapatan jalan berduan, namun anak muda hari ini merasa biasa-biasa saja ketika kedapatan berduan dalam rumah sendiri? Bahkan bermesraan di depan orang tuanya pun sudah dianggap hal biasa. ⁣
⁣⁣⁣
Hilangnya adab, rasa malu dan berbagai hal lainnya membuatku merasa malu sebagai seorang sarjana yang tak dapat berbuat banyak. Bukankah itu tugas orang tua untuk mendidik anaknya? ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Tidak, jawabku. Ini bukan hanya tugas orang tua semata. Bagaimana mungkin mengharapkan jawaban tugas yang benar jika mereka tak mengajarkan dan menanamkan lagi ada dan rasa malu pada generasinya sejak dini? Hmmm…. Makanya jangan hanya berbicara tentang partai, itu bahasaku sendiri. Kejujuranku sendiri membuatku terpukul sebab kaum-kaumku ternyata banyak dikorbankan atas dasar cinta. Hingga aku tak lagi berguna untuk mengatakan bahwa ini salah, ini bom bunuh diri namanya, jangan mendekati, tapi faktanya mereka sudah memiliki keturunan. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Ini bukan hanya keturunan dan kepandaian mencetaknya tapi harga diri, rasa malu dan adab yang telah menghilang dari generasi muda khususnya wanita. Pada akhirnya mereka hanya bisa terkepung dalam dunia dapur, kasur dan sumur tapi tak bisa mencetak generasi emas seperti di zaman sebelumnya.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
𝟐𝟎𝟐𝟎⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Masih dengan kondisi yang sama. Orang-orang masih saja bertanya mengapa masih sendiri. Kujawab dengan kepala dingin, ini bukan hanya sekedar sendiri, tapi jiwaku memberontak ingin pulang, ingin membangun, namun abainya diriku terhadap remaja membuatku tak pandai lagi berujar. Mereka sibuk dengan dunianya saat ini tapi lupa dengan kehidupan selanjutnya. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Siapa kamu? Aku, akulah wanita yang tak ingin hidup dibawa kekuasaan hawa nafsu semata. Menjalani kehidupan yang tak lagi berlandaskan dengan aturan-Nya dan itu membuatku bungkam. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Kembalikan masa depan anak muda, kembalikan harga diri wanita, hadirkan rasa malu, raih impian dan bangunlah peradaban di tengah-tengah kehancuran ini. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Jika dalam negerimu wanita tak lagi dihargai, maka yakinlah kehancuran akan semakin menggerogoti, sebab wanita adalah tonggak pencetak generasi yang darinya bisa melahirkan kaum-kamu terdidik, bukan hanya berbicara cinta dan ketebalan make up, tapi mendidik generasinya bagaimana menjadi insan bermartabat.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Catatan anak desa.. Kuingin kembali.⁣

#𝐆𝐞𝐫𝐟𝐢𝐤𝐅𝐢𝐥⁣
#𝐊𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢𝐤𝐚𝐧𝐀𝐝𝐚𝐛𝐝𝐚𝐧𝐌𝐚𝐥𝐮⁣
#𝗪𝐢𝐧𝐢𝐭𝐚𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡𝐓𝐨𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤𝐏𝐞𝐫𝐚𝐝𝐚𝐛𝐚𝐧⁣

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *