Bulan Sejengkal di Pucuk Pohon di Halaman Langgar

(Fiksi wabah kolera 1970, adaptasi dari potongan-potongan fakta wabah korona 2020).

Oleh: Saleh Hanan

Ramadhan akan tiba dua – tiga hari ini. Bulan tinggal secuil Jika digambar terbalik, bulan itu kini kira-kira terlihat setipis alis Marilyn Monroe, atau alis ibu pada jamuan minum teh dalam lukisan di kaleng biskuit, yang suka dibawa pulang para pelaut saat dari Geresik.
Kata mantan pelaut yang kerap singgah menjadi imam seperti subuh ini, orang tua-tua dulu menandai bulan serendah itu tinggal berumur dua hari.
Bersama pak Ijo, mantan juru lampu di pelabuhan, penjaga kapal-kapal agar tak menabrak karang jika lewat malam hari, senin subuh ini kami tinggal bertiga di langgar.
Para pengurus langgar, yakni modim, khotib, imam, serta jamaah tetap lainnya, yakni beberapa tuan guru sekolah negeri, mantiri, sudah sebulan mengamankan diri. Guru ngaji kami dari Gowa dan Flores malah telah pulang.
Memang biasanya saat wabah terjadi, penduduk banyak yang mengungsi di pulau kecil – sepi di sekitar kampung atau di rumah kebun. Ada juga yang ke huma, rumah-rumah kecil tempat nelayan menjemur ikan, nun jauh di atas karang-karang atol. Mungkin termasuk tuan haji, juragan kantor lelang ikan, sudah berada di situ.
Sudah sebulan lebih, wabah kolera membuat kami semua perlahan akan menjadi mantan jamaah langgar ini. Demi keselamatan umum, semua tempat berkumpul dihimbau pemerintah untuk dihindari, termasuk masjid, langgar, musalah. Kabarnya sepanjang bulan puasa, akan diperiksa.

Sebenarnya tiap siang sampai petang, lima anak muda yang sedang menunggu waktu berlayar ke Ambon, Samarinda atau Makassar untuk tes masuk tentara, selalu datang membersihkan langgar, lalu sholat dan berdoa. Akan tetapi saat subuh hari, mungkin mereka sudah kelelahan akibat berlatih karate selepas sholat Isya, untuk kebugaran tubuh mereka.
Adapun jamaah tetap lainnya, Pa’ci, seorang pensiunan kantor asuransi, dan Bapak Tua, seorang pedagang makanan di pelabuhan, mulai akhir minggu ini sudah tak datang. Pa’ci adalah panggilan untuk orang yang dituakan dalam logat Melayu. Sama dengan bapak tua dalam dialek Maluku.
Beberapa kali, waktu magrib tiba, setelah salah seorang dari lima anak muda memukul bedug dan mengumandangkan azan, sholat bisa molor beberapa menit untuk menunggu Pak Ijo menjadi imam, atau berharap mantan pelaut itu tiba-tiba datang.

Kecuali jika tuan guru sekolah madrasah di kampung yang jauh diujung utara pulau ini datang berkunjung, atau saudagar dari Binongko singgah berhari-hari dengan perahunya di pelabuhan untuk menjual gula cair dari Rote, maka imam dengan bacaan bagus-bagus melimpah.
Namun jika saya akhirnya menjadi imam, sholat sering lama prosesnya. Bacaannya panjang. Bukan karena mengambil surah-surah panjang, tetapi musti mengeja. Takut salah membaca.

Langgar kami berada di ujung jalan. Dikelilingi pohon dan semak belukar, jauh dari pemukiman. Jamaahnya itu-itu saja. Dari dulu begitu. Tempatnya sunyi.
Mungkin suatu waktu di bulan Ramadhan jika petugas patroli datang saat sholat taraweh, tinggal kami sampaikan begini, “Kami sedang isolasi diri dari keramaian.” Sebab, dengan Pak Ijo, mantan pelaut, dan lima anak muda, langgar kami sesepi tempat menjaga jarak, menghindar dari keramaian, dan tempat isolasi sebetulnya. Setara protokol tinggal di rumah, tapi mengubah sedikit kata, yakni: di masjid saja.

Ramadhan akan tiba, jika pada akhirnya tak bisa ke langgar lagi; kami yakni saya, ketiga anak, dan istri, setelah kopra kami kering dan ditimbang, mungkin akan memilih naik sope-sope, sebuah perahu kecil yang memiliki layar tunggal dan dilengkapi atap daun rumbia.
Mengapung-apung di laguna, antara pantai dan pulau-pulau kecil Wakatobi.

CeritakanWakatobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *