Bhangka atau perahu sebagai filosofi Hidup Orang Wakatobi

Beberapa minggu yang lalu, saya mendapatkan SMS dari Abang saya bahwa, ada tulisan di salah satu majalah, yang mengatakan bahwa suku pertama yang mendiami Wakatobi adalah suku Bajo atau biasa juga disebut sebagai manusia perahu. Waktu itu saya terdiam, memikirkan apa benar suku pertama yang mendiami Wakatobi adalah suku bajo? Imaji saya langsung tertuju pada naskah Hikayat Negeri Buton yang membicarakan tentang Si Panjonga yang bertanya pada masyarakat Bajo, mengenai daerah dimana sekarang berada. Di dalam naskah itu, pertama kali mendarat di daerah Lia yang tentunya kita juga tidak tahu, apa Lia yang ada di Wakatobi atau Lia yang ada di Sulawesi Selatan. Tetapi dalam naskah itu, orang bajo itulah yang pertama kali menunjukkan bahwa Si Panjongan sekarang berada di daerah Lia. Merekalah yang menunjukan perahu Si Panjongan setelah mendapatkan badai selama empat hari empat malam.

Memang, kalau manusia perahu itu dilekatkan dengan data empiris, manusia yang hidup di atas perahu, maka jelas bahwa manusia perahu itu adalah orang Bajo. Tetapi kalau kita memasuki lebih dalam ke dunia batin masyarakat Wakatobi, maka kita akan menemukan manusia Wakatobi yang dibangun di atas simbol-simbol perahu. Di sini, ‘perahu’ bukan lagi sebagai alat transportasi atau tempat tinggal, tetapi perahu menjadi simbol bagi masyarakat Wakatobi. Perahu menjadi falsafah hidup mereka, dan menjadi pandangan hidup mereka.

Baca Juga Peran SMK di Era Industri 4.0

Di kedalaman batin mereka, hidup itu bagaikan sebuah pelayaran. Manusia disimbolkan dengan parahu. Bagi masyarakat Wakatobi perahu adalah simbol mengenai kehidupan mereka. Bahkan dalam nasihat perkawinan anak-anak Wakatobi, seorang khatib sering kali menasihatkan nasih perkawinan mereka dengan menggunakan kata-kata perahu, “Bahwa sebuah keluarga itu seperti sebuah perahu. Pelayaran dimulai, dan tujuan harus ditentukan bersama. Antara sawi dan juragan atau nakhoda memiliki ikatan-ikatan hubungan yang saling membutuhkan dalam mencapai tujuan dari perjalanan kehidupan masyarakat Wakatobi.” Tentunya nasihat yag hadir dalam sebuah perkawinan tersebut, bukanlah hadir begitu saja, tetapi itu merupakan symbol yang mendiami kedalam batin manusia Wakatobi.

Baca Juga Watu Towengka atau Sombu Dive Icon Desa Wisata Sombu

Bahkan dalam salah satu naskahnya, orang Buton –Wakatobi, juga menggunakan symbol perahu dalam menjalani kematian, mereka mengenal bahwa kematian adalah pelayaran yang tidak akan pernah kembali. Untuk itu, kita harus mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh. Demikian juga dengan kehidupan, masyarakat Wakatobi mengenal istilah manajemen perahu. Di kedalaman manajemen sederhana mereka, manusia Wakatobi mengenal keteraturan yang sangat luar biasa, mereka mengenal enam buah buku, untuk mencatat kehidupan mereka selama berbulan-bulan di atas perahu kecil atau mereke menyebutnya bangka. Antara juragan, sawi, dan koki terdapat tugas-tugas yang tidak dapat dipertukarkan, dan masing-masing bekerja untuk mencapai pulau tujuan pelayaran mereka.

Dengan demikian, manusia Wakatobi dan perahu harus dipertautkan bukan dalam frasa ‘manusia perahu’ sebagai deskripsi hanya untuk orang bajo, tetapi juga harus lihat dalam batin mereka bahwa kata ‘perahu’ bukan menunjuk pada suatu etnis, melainkan kata ‘perahu’ merupakan symbol yang hadir dalam batin masyarakat Wakatobi. Dan ini menunjukkan bahwa, masyarakat Wakatobi adalah masyarakat maritim yang memiliki ikatan emosional yang tinggi dengan perahu. Karena berbagai aktivitas kebudayaan mereka tidak dapat dilepaskan dari perahu dan laut.

Baca Juga Perahu di Tengah Badai Bhanti-Bhanti

Lain halnya, kalau pembicaraan yang ada dalam SMS saudara saya tadi, bahwa manusia Wakatobi yang pertama adalah masyarakat Bajo, tentunya ini adalah butuh data sejarah yang valid untuk menyatakan bahwa itu benar atau tidak, tetapi sebagai daerah maritim, kemungkinan untuk hadirnya berbagai etnis di Wakatobi sangat terbuka. Bahwa orang pertama adalah orang Bajo atau orang Kai, atau orang Melayu, orang Ternate atau orang Bugis, semuanya terbuka untuk melakukan penelitian selanjutnya.

Banyak data-data sejarah yang perlu dikonfirmasikan dan itu dalam masyarakat Wakatobi, mulai dari bentuk kuburan tua di Koncu – Binongko yang mirip dengan desain batu di Brobudur dan Prambanan, kuburan Ince Sulaiman di Hutan Moori di Tomia, serta kuburan La Samburaka di Tindoi yang menggunakan nisan batu cadas dan berbentuk bulat. Semua itu membutuhkan interpestasi dan tentunya paradigma dalam memahami semua itu. Atau kita menerabas dunia batin dalam mitos-mitos asal usul masyarakat Wakatobi.

Mulai dari pulau Binongko yang menceritakan tentang mitos gadis china yang cantik yang dinikahi oleh seorang putra sakti Binongko, mitos Moori di Tomia, serta mitos Surubaende di bagian timur pulau Wangi-Wangi yang merujuk pada persaudaraan orang Wakatobi dengan masyarakat Kei di Maluku. Atau kita menyebrang ke Kapota dalam hubungannya dengan manusia alor di Nusa Tenggara. Semua itu, dan lebih jauh lagi kita mencoba menelusuri jejak jangkar nabi nuh di dalam laut Wakatobi, semuanya itu, akan menunjuk pada manusia maritim yang tentunya akan berhubungan dengan dunia pelayaran.

Jadi, jika ingin mengenal manusia Wakatobi, satu yang paling penting harus dimulai dari analisis symbol untuk menyelami dunia batin mereka, dan manusia perahu bagi mereka bukan hanya merujuk pada masyarakat bajo atau orang perahu dalam tataran linguistic hari ini, tetapi harus memasuki kedalaman batin masyarakat Wakatobi dimana perahu sebagai symbol dalam perjalanan kehidupan mereka.

Baca Juga Kacang Jodoh dan Pengembangan Ekonomi Kreatif

Bahkan kalau kita memasuki dunia batin Buton-Wakatobi, tatanan politik mereka pun dibangun dengan menggunakan istilah labu wana labu rope. Dengan menggunakan perahu wasila mata sebagai symbol, dalam tatanan politik mereka. Dari sini, symbol perahu sangat kental dalam kehidupan masyarakat Wakatobi, bahkan dalam kepemimpinan Wakatobi dewasa ini, orang-orang tua sering kali mengatakan bahwa perahu besar Wakatobi harus dipimpin oleh seorang juragan yang mampu memahami tanggung jawabnya pada sawi dan perahunya. Bukan juragan yang hanya mementingkan diri sendiri. Seorang juragan, mestinya malu jika di dalam perahu itu, terdapat tidak transparansi dan menimbulkan kasak-kusuk di antara sawi. Dan juragan yang baik, adalah juragan yang seluruh hidupnya diabadikan untuk perahu dan keselamtan sawi dan penumpangnya. Di sini, Wakatobi juga harus menggunakan symbol ‘perahu’ dalam segenab kehidupan mereka.

Rupanya SMS, teman saya yang bernada keraguan atas kebenaran stegmen seorang anak Wakatobi yang mengatakan bahwa “manusia perahu” adalah orang pertama di Wakatobi harus di pahami, bahwa di balik stegmen itu, ada kesadaran budaya yang mengendap dalam symbol ‘perahu’, dan dengan symbol itu, akan membawa kita bahwa manusia perahu, bukan saja merujuk pada salah satu etnis yang ada di Wakatobi, misalnya etnis bajo, melainkan ‘perahu’ adalah symbol yang hadir di dalam dunia batin masyarakat Wakatobi dan Buton pada umumnya (su001).

Baca Juga Legenda Cinta Sedarah, Kampung yang Tenggelam

Tradisi Bhanti-bhanti sebagai Kekuatan Budaya dalam Pengembangan Desa Wisata Wakatobi

4 thoughts on “Bhangka atau perahu sebagai filosofi Hidup Orang Wakatobi

  1. Masyarakat Bajo wajar dikatakan sebagai manusia perahu,karna mereka memanfaatkan perahu itu bukan hanya sekedar alat tranportasi laut yang mengubungkan mereka dari pulau satu ke pulau lainnya seperti yang dilakukan oleh etnis lain atau hanya digunakan sebagai alat tangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tapi perahu bagi etnis Bajo adalah bagian dari diri dan hidup mereka kemanapun mereka pergi mereka selalu bersama perahu,jadi bukan hanya sekedar simbol belaka,dan wajar pula kalau etnis bajo dikatakan sebagai salah satu etnis penemu sebuah pulau pertama,karna hidup mereka berpindah2 dari satu tempat ketempat lain, pulau2 sering kali mereka jadikan sebagai tempat perlindungan dari musim barat(dari ombak dan angin kecang) bukan untuk dimiliki atau dikuasa,ada 2 faktor yang menyebabkn mereka pindah-pindah tempat: 1.Tempat yang mereka tinggalkan dianggapnya tdk layak lagi ditinggalin karna tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, 2. Tempat yang mereka tinggalkan dianggap tidak aman lagi (adanya konfik) mereka bukan berarti takut tapi mereka hanya ingin menghindari peperangan atau pertumpahan darah, tapi jika hidup mereka diganggu maka merekapun sering kali melawan hingga titik darah penghambisan, didarah buton/wakatobi banyak bangkai kapal-kapal asing yang tenggelam di laut/karang dan sampai sekarang masi ada sebagai bukti sejarah: diDalam kitab Bajo yang berjudul “KITAB TODDO PULI” kita itu telah menceritakan tentang pertempuran orang Bajo dilaut Wakatobi/Buton dgn kapal asing yang dianggap akan mengganggu hidup orang Bajo dan kerajaan/penguasa buton dikala itu,salah satu nama perahu Orang Bajo yang dianggap Sakti adalah “SAPU JAGA” jika perahu itu yang turun kelaut maka kapal asing yang akan masuk mengganggu masyarakat Buton/wakatobi dipastikan tidak bisa lolos dari mereka, KITAB itu juga telah mencatat setiap kejadian,

  2. Dalam Hikayat Negeri Buton, Bajo sudah disebutkan sebagai penunjuk arah kapal Si Panjonga yang telah terombang ambing di lautan, artinya Bajo sudah lebih dulu menguasai lautan di Kawasan, dan dalam Sejarah Buton Bajo sangat penting keberadaannya.

    Namun, dalam konteks Wakatobi filosofis hidup sebagai orang laut atau maritim, menjadi filosofis hidup bersama, baik etnis Bajo, Mbedha mbheda maupun Cia Cia. Filosofis itu adalah milik bersama kita, sebagai orang orang lautan atau pelaut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *