Bertahan di Tengah Badai: Kesiapan Mental dan Fisik

Dalam pelayaran tradisional, seorang yang mampu bertahan, bukan hanya soal strategi, tetapi ada dua aspek yang harus tetap kita harus stabil, fisik dan mental. Seorang pelayar akan selalu memperhatikan dua aspek itu, kesiapan fisik dan juga kesiapan mental. Fisik harus terpenuhi segala kebutuhannya, nutrisi, olah raga, istirahat, harus berada pada sebuah irama yang seimbang. Tanpa keseimbangan jiwa semua itu tidak akan berarti apa apa.

Dalam buku buku China kuno, dijelaskan bagaimana seseorang bisa bertahan pada musim badai, mereka mengajarkan tentang karakter pohon pinus, yang memiliki kelenturan batang, dan kemampuan adaptasi sehingga pohon ini bisa melewati musim salju yang dingin. Pohon pinus punya kelenturan. Selanjutnya, China juga mengajarkan tentang kelenturan hidup dengan boneka yang di bawahnya ada alat pemberat. Tidak akan pernah terjatuh, ia akan menyesuaikan diri dengan berbagai dorongan, dan kembali akan tetap berdiri, rahasianya ada pada keseimbangan, pikiran, rasa dan fisik.

Kelenturan harus ada pada fisik, pikiran dan rasa. Ini rahasianya, buatlah kelenturan itu dengan baik. Dalam tradisi pelayaran Wakatobi Buton, ilmu ini sangat penting. Perahu kecil bisa melewati semua badai di tengah samudera, hanya dengan pemahaman mengenai situasi yang dihadapi. Jika angin sepoi sepoi, mereka mendayung, sambil bersantai membersihkan perahu, jika angin dari depan mereka berlayar zik zak atau opa opala. Saat angin dari belakang, layar akan melaju dengan santai, walau bahaya sebenarnya tetap mengancam kalau salah kemudi, layar bisa saja berbalik atau topa dengan resiko yang besar. Kalau paletanga, artinya angin dari samping, layar harus maksimal muka belakang. Namun, jika musim badai tiba, layar harus diturunkan, setengah atau gulung semuanya untuk menunggu badai usai.

Begitulah kelenturan itu penting dalam menghadapi semua badai. Badai adalah gejala alam yang harus diikuti irama permainannya. Tidak bisa dilawan, karena bisa jadi badai akan melumat dirimu, jika kau tak menyesuaikan.

Lalu bagaimana dengan badai Corona? Tentunya, kita harus menyesuaikan dengan situasi saat ini, mulai dari penyesuaian ekonomi, sosial, budaya, politik, pertanian, perikanan, semua harus melakukan penyesuaian untuk mendapatkan keseimbangan. Tanpa kita menyesuaikan, kita akan terlumat oleh badai ini.

Semua ruang kehidupan perlu menyesuaikan diri dengan badai saat ini, namun seorang petarung sejati, seekor elang akan mampu menemukan sebuah ruang baru di setiap badai. Ia dapat melihat sebuah peluang, dengan menggunakan kemampuan yang dimilikinya. Memanfaatkan situasi badai untuk merefresh hidup. Saat badai mengamuk, akan akan ke sarangnya, melindungi anak anaknya, dan saat ia bisa terbang, maka ia akan mendapatkan peluang itu, saat yang lainnya masih goyang. Burung burung, tikus, ular semuanya tak berdaya saat itulah ia memanfaatkan peluang.

Di sini ada kelenturan, kelihaian berfikir, kecekatan bertindak, dan kecepatan mengambil keputusan. Bagi sebagian orang, badai adalah penghancuran, tetapi bagi para petualang, badai adalah peluang. Mereka yang memiliki mental fleksibel akan menemukan semua peluang di tengah badai, dan bagi mereka yang bermental rapuh, akan terlumat oleh badai tersebut.

Dalam konteks Corona, badai ini mengungkap banyak kelemahan kita. Sistem pangan bangsa kita, sistem manufaktur bangsa kita, yang selama ini kita impor, semuanya terbuka, ibarat ikan kecil yang selama ini bersembunyi dibalik kayu besar di tengah lautan, kini semuanya bisa dengan jelas terlihat. Maka jadilah elang, lihatlah semua peluang, manfaatkan agar Anda bisa menjadi orang yang mampu memanfaatkan setiap badai.

Desa yang akan mampu melewati badai ini dengan sempurna, harus merespon dengan perencanaan dan strategi yang bisa membaca peluang. Sektor pertanian yang paling jelas terlihat, betapa lemahnya bangsa kita, maka saatnya desa harus membangun sistem pertanian kita dengan baik

Negara sudah harus investasi di infrastruktur pertanian, di teknologi pertanian, baik pada pengolahan lahan, benih, perawatan sampai pasca panen. Ini semua peluang untuk mendapatkan ruang baru saat badai atau pasca badai corona. Kita sudah harus mempersiapkan diri, fisik dan mental, serta modal kita, modal budaya, sosial, dan juga finansial kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *