Benarkah Hutan di Wakaokili jadi Hunian Bunian?

Oleh: La Yusri

APA yang ada di benak Anda ketika mendengar nama Wakaokili?

Bagi umumnya orang Buton yang akan membayang pastilah adanya manusia yang katanya “hilang-hilang” dan “tidak kelihatan”

Umumnya mereka itu berkelamin perempuan, begitu kata Bonto Wakaokili.

Saya terperanjat: “hah, banyak perempuan?” Tanyaku mengulang pernyataannya.

Melanjutkan: “mereka baik-baik, diberi salawat saja langsung pergi mereka”

“Manusiakah mereka itu?” Selidik saya.

“Manusia, seperti kita juga ini” Bonto menjawab gesit.

“Lalu mengapa menghilangkan diri begitu?”

Ssstttt…, jangan besar-besar bicara, kita tidak melihat mereka, tapi mereka melihat kita, mendengar kita.

Saya meriut serupa keong masuk ke cangkangnya, menutup rapat-rapat mulut.

***

JUMAT malam nanti ada ritual pergantian musim di Wakaokili, dan oleh Bontonya saya diundang khusus untuk mengikuti sekaligus meneliti mereka yang “hilang-hilang” itu.

Sebagian terkait mereka yang “hilang-hilang” itu sudah saya tanyakan ketika kami ziarahi makam Ina Wa Komba di Tombuku dan wawancaranya saya rekam dalam video

Saya akan memosting videonya itu setelah ritual Jumat malam nanti selesai.

Menjadi Sarjana Invovatif: Membutuhkan Keberanian dan Semangat

***

Terkait Bunian Buton ini, sudah saya lakukan pelacakan alur migrasi mereka sebenarnya.

Daerah-daerah terlarang–disebut Kaombo dalam hutan adat sebenarnyalah menjadi alam hunian para Bunian.

Mereka teridentifikasi dalam banyak nama. Di Kalangana dan Wakaokili disebut Wali-Wali, di Rongi dinamai Mancu, di Barangka dikenal sebagai Miana Wambuu mbuu.

***

Di Belantara Labusa, dalam jalan menuju Kalangana saya singgah menemui orang tua ini di rumah gubuk tinggalnya.

Namanya La Hariimu, bekerja harian sebagai pekebun, menyambi berburu rusa dan sesekali menyadap nira.

Perpustakaan Desa Sombu: Kunci Menuju Peradaban Modern (Bagian 1)

Darinya saya mendengar banyak kisah terutama rute jalan yang selalu dilalui para Bunian yang menghuni rimba pulau Buton, dan pengalaman beberapa kali bertemu mereka.

Ia berkisah mengenai Wa Asa, perempuan belia asal Lipu yang tinggal berkebun di hutan Lawela, ia diambil sebagai istri oleh seorang dari kelompok Bunian.

Wa Asa tak lagi pernah pulang setelah kepergiannya secara misterius delapan belas tahun lalu. Seorang lelaki berjubah hitam telah mendatangi rumah gubuk di kebunnya dan membawanya pergi ke Kalangana.

Terakhir ia pulang empat tahun lalu tetapi hanya betah tinggal empat hari saja di kampungnya lalu begitu saja menghilang lagi.

Wa Asa berpostur jangkung, badannya semampai dengan kulit yang langsat, menurut banyak warga di Lawela ia telah diambil Wali-Wali sebagai istri.

La Hariimu mengisahkan pengalamannya sendiri bertemu dengan bunian yang olehnya dinamai sebagai Wali-Wali.

Seorang perempuan dengan rambut panjang hingga ke panggul sering betul mendatanginya setiap jumat sore-sore selama ia tinggal di hutan konservasi Labusa, tempatnya ia selalu menyadap nira.

Perempuan bunian itu mengenalkan diri sebagai bernama Wa Hariisa dan asal tinggalnya di gunung Siontapina.

Ketika saya menanyainya soal jarak yang jauh sekali antara Kalangana dengan gunung Siontapina, ia malah terkekeh.

Berkata: โ€œDalam alam mereka jarak kedua tempat itu hanya sepelemparan batu belaka, dekat sekaliโ€.

Editor: Sumiman Udu

Baca jugaย Hutan Lambusango: Potensi Wisata Ilmiah yang Belum dikelola Maksimal di dalam Negeri

Ekowisata Mangrove di Desa Tampara Wakatobi Dilaunching

Tujuh Obat Tradisional Asam Urat: Potensi Pengembangan Apotik hidup di setiap desa wisata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *