BATOO, SITUS MARITIM YANG TERANCAM MODERNISASI

Begitulah Orang Kampung kami menyebutnya.Dermaga kecil terdiri dari bebatuan yang di susun sedemikian rupa, di atur menjurus ke arah laut membentuk huruf L,entah siapa yang menjadi arsiteknya.Di sebelah kirinya sepanjang Batoo tersebut tumbuh pohon mangrove mengikuti bentuk Dermaga kecil tersebut menambah eksotiknya pemandangan di pagi atau sore hari.
Dulu, saat masih kecil, saya masih menyaksikan Dermaga kecil ini menjadi tempat aktifitas bongkar muat perahu perahu kecil jenis Soppe dan Lepa lepa.
Soppe adalah perahu layar yang ukurannya lebih kecil dari wangka atau bangka biasanya di pakai berdagang antar pulau yang tidak begitu jauh seperti wangka yang bisa sampai ke Papua, Maluku bahkan Malaysia. Umumnya Soppe melayari rute Kolensusu Buton Utara, Wawonii, Banggai dan yang terjauh adalah Pamana di Flores, Madu, Bonearate di Selayar.
Sedangkan Lepa lepa adalah jenis perahu yang lebih kecil dari Soppe,tidak memiliki tempat berteduh dan layarnya berbentuk segi tiga seperti sampan. Umumnya Lepa lepa di pakai untuk mancing tonda, memuat bubu ke karang dan di jadikan sebagai rumah bagi nelayan selama satu atau dua bulan saat mencari ikan di karang sekaligus sebagai tempat menjemur ikan garam hasil tangkapan para nelayan,Sesekali pula Lepa Lepa di pakai untuk berniaga dengan sistim barter ke Pulau Kaledupa, Wanci, Kapota dan Binongko.

Menurut cerita Batoo di kampung ini di buat saat masa pemerintahan Yaro Langge, Perwakilan Sultan Buton di Pulau Tomia dan bekerjasama dengan Pemerintah saat itu dengan Sebutan Ketua, setingkat Kepala Desa di masa sekarang, yang di jabat oleh La Ode Hidi dan di lanjutkan Oleh La Ode Muslihi. Siapa ke tiga tokoh ini akan saya kisahkan pada tulisan berikutnya.
Dalam sejarah di riwayatkan bahwa Wakatobi menjadi Pusat Pertahanan Angkatan Laut Kesultanan Buton oleh sebab itulah hampir di setiap Kampung pesisir ada Batoo yang di buat tidak terkecuali di Kampung Tiroau, Desa Timu.
Batoo adalah Situs Sejarah, Situs kejayaan budaya maritim eks Kesultanan Buton bukan hanya di kampung ini tapi di semua wilayah Eks Kesultanan Buton.
Batoo perlahan dan pasti akan hilang bahkan banyak yang telah hilang tak berbekas baik di ambil batunya ataupun di ganti namanya menjadi Talud ataupun Reklamasi dan ceritanyapun perlahan pudar, hilang di telan keangkuhan modernisasi.
Lalu apalagi yang akan kita wariskan ataukah kita lebih tertarik dengan kisah Candi Borobudur, Candi Prambanan dan kebudayaan masyarakat Jawa, Sumatra dan daerah lainnya di Indonesia.

Tiroau, 29 Feb 2020
Di sadur dari berbagai sumber, di ceritakan dan di tulis Oleh Abas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *