BAKAR UANG: Buruknya Pelayanan Publik.

Oleh : Sarjono Amsan

Satu hari dikukuhkan sebagai pelaksana dari sebuah organisasi ekonomi yang berdiri sejak 1947, saya menerima tamu asing yang mengajak kerjasama. Sang tamu menawarkan sebuah platform baru dengan keunggulan, bukan sekadar lapak bagi produk pelanggannya, tapi sekaligus menyiapkan gudang dan produk untuk pusat distribusi barang yg akan dipasarkan melalui jaringan itu.

Walau termasuk gatek (gagap teknologi), saya sebenarnya sedikit paham tentang filosofi bisnis ini. Bahwa pemilik lapak atau market place sebenarnya yang paling diuntungkan dalam setiap usaha seperti ini. Sehingga, ketika diskusi dibuka saya meminta porsi kepemilikan dalam usaha lapaknya. Bukan sekadar menawarkan produk atau menjadi pelanggan dari produk yang dipasarkan di lapak itu.

Baca Juga Tiga Literasi: Kesiapan untuk Memasuki era Industri 4.0 (bagian 1)

Dengan keterbelakangan saya diteknologi digital, permintaan saya tentu saja mengagetkan, karena saya langsung masuk kejantung operasional usaha-usaha kapitalisme seperti ini. Karena itu, penawaran saya dialihkan untuk saya dapat menikmati proses atau tahapan usaha ini melakukan “bakar uang”. Karena di sana uangnya banyak yg bisa masuk ke kantong saya pribadi.

Saya mulai diminta KTP dan paspor untuk mengundang saya ke kantor pusatnya di luar negara. Serta tawaran fasilitas yang semua dibiayi oleh perusahaan tersebut. Dengan data yang ada dalam benak mereka ttg anggota perorangan organisasi yang mencapai 32 juta orang, tentu saja menggiurkan untuk mengikat saya.

Saya bergeming untuk meminta porsi kepemilikan termasuk anggota saya yang ingin berpartisipasi. Lagi-lagi tawaran untuk kenyamanan pribadi diulang dengan menyebut angka menggiurkan yg akan diberikan perusahaan itu dalam tahap “bakar uang” ini.

Aku kemudian teringat tabiat perusahaan digital, seperti Gojek, Grab, Tokopedia, Bukalapak yang disebut-sebut sebenarnya keropos, namun sangat gencar menawarkan keunggulan pada tahapan bakar uang ini. Kalau istilah jaman dulu adalah jor-joran dalam public relation.

Saat ini, dalam operasional riil usaha seperti itu menunjukan taringnya. Gojek dan Grab sudah menunjukan tabiat sebenarnya, pekerjanya yang merupakan tukang ojek yang dulu hanya dikenakan potongan tarif 2 atau 3 persen, hari ini sudah mencapai 20%. Tarif kepada pelanggan pun mulai naik, bahkan pada jam-jam premium tarifnya naik di atas tarif taksi biasa.

EKSTARNALISASI BIAYA

Itulah tabiat kapitalisme. Biaya yang dikeluarkan dalam tahapan “bakar uang” pasti dieksternalisasi sebagai biaya publik. Atau menurut Jhon Balkan, bahwa setiap perusahaan mengeluarkan biaya maka akan diganti atau harus kembali dengan “menghisap” nilai ekonomi dari pelanggan atau pekerjanya sepanjang waktu.

Baca Juga Tinjauan Kritis ATAS VISI MARITIM Wakatobi: Belajar dari Norwegia

Belajar dari fakta bakar uang dan eksternalisasi biaya pemodal sebagai biaya yang ditanggung oleh publik, sebenarnya harus gencar disosialisasikan kepada publik, khususnya untuk menyiasati fakta “bakar uang” oleh pemodal dalam pilkada.

Bahwa prinsip pemodal, pasti akan meng-eksternalisasikan biaya itu sebagai operasional usahanya, dan akan menutup biayai itu dengan mengurangi kenyamanan publik dalam fasilitas yg seharusnya dilakukan sempurna dan paripurna.

Karena itu, semakin tinggi uang yang dikeluarkan utk dibakar dalam Pilkada, maka dipastikan kenyamanan publik seperti menurunnya kualitas proyek dan pelayanan pasti akan terjadi. Jadi, kalau dalam tahapan “bakar uang” itu semakin besar maka semakin rusak pelayanan pemerintahan daerah selama lima tahun.

Baca Juga Tiga Ekonom Menang Nobel: Salah Satu Riset Mereka tentang Impres SD di Indonesia

Dengan demikian, indikator suatu pemerintahan bisa dilihat sejak awal, yaitu kuantitas “bakar uang” semakin tinggi, maka semakin rendah atau semakin buruk kualitas pelayanan pemerintahan ke depan. Jadi kalau pemeintahan ini mempunyai niat baik, pasti menghindari jor-joran “bakar uang”. Karena disitulah sejatinya kualitas kebaikkan kepemimpinan diuji dalam lima tahun ke depannya.

Editor: Sumiman Udu

Baca Juga KEUTAMAAN WARGA NEGARA: MENOLAK BUPATI

Pesona Cinta di balik Kejeniusan Albert Einstein (bagian 1)

Universitas Muslim Buton: Tebar Beasiswa untuk Temukan Mahasiswa Berkualitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *