Amarah yang Terbakar dan Abu Sisa Kemanusiaan Kita

Oleh: Irianto Ibrahim

Pagi-pagi sekali seorang teman mengirim pesan kepada saya. Bang, ada kaco di Buteng, katanya. Astagfirullah, spontan saya jawab begitu. Kenapa, lanjut saya. Warga menyerang dan membakar rumah-rumah di kampung sebelah. Masyaallah. Saya hanya bisa jawab begitu. Tidak ada kata yang tepat untuk saya nyatakan situasi seperti sekarang. Hati saya terbakar. Terasa benar ada sesuatu yang hilang dalam kebersamaan kita. Dalam tatanan hidup bersama. Dalam cara berbagi ruang dan mendefinisikan kekeluargaan.

Sumber Foto: zonasultra

Kemudian saya menghubungi Arwin, seorang teman yang berprofesi sebagai wartawan di Buteng. Saya konfirmasi perihal kebenaran pesan yang dikirimkan kepada saya. Iya benar Bang, katanya. Arwin menjelaskan perihal kejadian. Tentang pemuda yang ditikam mati dan amarah keluarga korban yang tersulut.

Baca JugaKota Naga Tempat Mujur di Wakatobi?

Aduh. Ada apa ini. Mengapa tiba-tiba jadi parah begini. Kemarau memang panjang, tapi tidak seharusnya mengeringkan nilai kemanusiaan kita. Tidak seharusnya membakar habis nilai persaudaraan kita.

Sepertinya kasus bentrok antarkampung belum lama juga terjadi di Buton. Orang-orang disekap rasa takut dan saling mencurigai. Yang kehilangan tempat tinggal dan surat-surat penting ikut terbakar di laci lemari. Lalu sekarang harus terjadi lagi? Di kampung sendiri yang kental kekeluargaannya? Yang masih menghargai rumpun keluarga dan terus menjaga petuah para leluhur?

Apa sebetulnya yang sedang terjadi. Apa yang membuat kita berani memutus rantai persaudaraan hanya untuk memuaskan dahaga amarah yang terbakar dan ego?

Baca jugaย Narasi Sejarah: Softstruktur Potensi Wisata Sejarah Benteng Buton (1)

Sekarang beberapa kawan mengirim gambar sisa rumah-rumah terbakar. Asap masih jelas terlihat mengepul dari bara di ujung kayu. Juga kesedihan dan penyesalan yang menyertainya.

Saya berharap kepada pihak keamanan dan pemerintah, kepada pihak pemangku adat dan orang tua-tua, kepada semua pihak untuk bersama-sama mengambil air dan memadamkan api dalam diri kita masing-masing. Untuk tidak bertindak sebagai pemicu tersulutnya kemarahan lagi sesama kita. Untuk meredam emosi dan saling menjaga.

Tetaplah berpegang pada petuah leluhur: bholimo karo sumanamo lipu.

Akhirnya, semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar.

Kendari, 28 November 2019
Irianto Ibrahim
Founder The La Malonda Institute

Baca jugaย Bungkulawa Ingkar Janji?

Icon Perahu Pinisi: Simbol Maritim di Pantai Losari

Perpustakaan Desa: Titik Awal Membangun Peradaban

_________________________________

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *