Algoritma La Morumoru (Bagian 1)

Oleh: Saleh Hanan

La Moru, pria dari Tindoi, Pulau Wangi-Wangi. Dalam matematika mungkin dirinya konstanta di depan sebuah variabel. Bisa apa saja (nilai) variabelnya. Itulah sebabnya La Morumoru asyik sebagai teman.

Disini, pembangunan berkelanjutan bagi La Moru artinya keranjang produksi ibu-ibu pengrajin dari desa-desa di kawasan Tindoi Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi, laku-lancar di pasar. La Moru ialah distributor yang menjual kerajinan itu sesuai tujuan pasar atau kelas sosial konsumen. Jika dijualnya kepada pengurus PKK, kerajinan dengan harga produsen 50 ribu, bisa menjadi 100 ribu. Beda lagi jika bertemu kepala kantor, barang yang sama akan dijual 150 ribu. Ketika menawarkan barang itu ke Pak Camat, dan beberapa pejabat eselon 3 temannya, atau saya, harga bermain antara 70 dan 80 ribu, plus bahasa, “pikirkan sajalah berapa.”
Kenapa begitu? Salah satu sebabnya kami telah berteman bukan hanya dengan dirinya sebagai konstanta tetap. Kami telah menghafal seluruh variabel belum berwujud dalam relasi La Moru.

Baca Jugaย Wa Saridi: Yang Selalu Tau Cara Pamit Dengan Indah, Senja
Maka pembangunan pro cagar biosfer dalam algoritma La Morumoru adalah pohon bambu yang harus tetap tumbuh subur sebab itulah jaminan bahan baku keranjang jualannya tetap terproduksi.
Variabel simpel, tapi itu bisa dibikin rumit dalam lusinan diskusi kami: para pegiat NGO, dan aparatur negara, tentang pembangunan berkelanjutan, prosedur pro biosfer.

(Pelabuhan Makassar, 31 Desember 2019)

Baca jugaย Metode La Uge: Konsep Survival dalam Era Industri 4.0 (1)

Dana Desa 2020 dan Inovasi Literasi Desa

Novel โ€œBAJAK LAUTโ€: Sebuah Catatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *