Air dan Ekosistem Tindoinya

Seri 4 : Dunia Desa Wakatobi

Oleh: Saleh Hanan

Pada Aliran Air ke Dusun Tai Bete Itu, Gagak dan Penyu Berbagi Tempat Minum

Air meluncur dari hutan-hutan di bukit, seperti pada cerita fiksi Mengejar Angin. Air itu lalu mengejar lembah, membuat jalan sendiri, membagi tanah menjadi dua daerah aliran kali kecil. Kiri dan kanan.
Mengikuti topografi, air itu terus mengalir, berkelok-kelok, meliuk bak menari, di bawah pepohonan besar.
Sesampainya ia di pinggir dusun, ia bertemu manusia, yang memberinya beberapa nama. Dulu.
Malahan dengan beberapa kata dasar juga, yang berarti air. Uwe. Te’e. Tai.

Dimulai dari hulu, di timur laut dusun, namanya Tai Gusi. Air menuju kelokan sebelum jalan raya sekarang, dan dinamai Uwe Gili-Gili. Sesudahnya, persis di pinggir jalan raya disebut Uwe Posalu.
Air ini dikenang tak pernah kering meski kemarau. Selalu jernih, sejuk, enak diminum mentah-mentah. Sumber utama bagi penduduk mengambil air bersih.
Saat disebut tak pernah kering, muncul pengecualian: apabila ditimba dengan ember dari kaleng logam, dan apabila orang lewat di situ menggunakan payung, air dipercaya akan kering. Dan pernah terjadi.

Ke tenggara dari situ, terbentuk satu kelokan lagi, membuat air mengalir sejajar jalan raya hanya sebentar. Dekat saja jaraknya, tempat itu disebut Uwe Kaokao.
Nama yang terjemahan bebasnya air burung gagak. Mungkin di percikan air yang tersimpan dalam mangkuk-mangkuk batu alami, burung gagak selalu singgah minum.

Kemudian air memotong jalan raya di kolong jembatan kecil. Menyeberang ke tepi jalan bagian barat daya jembatan untuk pergi makin ke lembah yang kelak mengakhirinya meliuk di kontur bukit.
Namun, sebelum terjun dari tebing ke jurang, air itu namanya masih beberapa, diantaranya Tai Ponu, Uwe Kau Meha, Uwe Longkai.
Tempat persis setelah jembatan, setelah Uwe Kaokao, namanya Tai Ponu.
Sebenarnya yang dimaksud ponu disini adalah sejenis kura-kura kecil. Kurang lebih sebesar kuku jari jempol. Suka berenang vertikal dari dasar ke permukaan air Tai Ponu, kata penduduk. Nama ponu sendiri umumnya digunakan untuk penyu laut.
Batas Uwe Kaokao dan Tai Ponu hanya jembatan kecil itu. Suatu tanda pembagi
yang zaman dulu saat nama-nama diberikan, tentu belum ada.
Sebab, untuk melewati air, pejalan kaki dulu menyeberangi Uwe Longkai. Di bagian ini, dua tepi kali sangat rendah, landai. Cocok untuk tempat melangkah, menyeberang air.

Lebih dari tanda tempat, beberapa nama air disebut penduduk sebagai mata air.

Ditambah Uwe Pancora, mata air yang memancar dari tanah, di tenggara dusun dan terpisah dari aliran air, di bawah pohon-pohon cengkeh; Dusun Tai Bete, Desa Posalu, yang terletal dalam ekosistem Puncak Tindoi, Wakatobi, signal alamiah bahwa itu nama diberikan oleh air. Disebabkan oleh air.
Sebuah tempat dari kumpulan mata air yang muncul memecah tanah dan batu, lalu bertemu aliran air dari hulu untuk mengalir bersama.
Bahkan sebuah tempat di mana air memberi signal sosial tentang burung gagak dan kura-kura kecil, dalam imajinasi berbagi tempat sumberdaya, untuk diambil bersama.
Wow!

#CeritakanWakatobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *