“Ahli Biofisika Peraih Nobel: Pandemi Korona Segera Berakhir” jika Kita Semua Komitmen untuk Tetap Di Rumah

Warga desa, pandemi global sedang panik, tetapi kita bisa harus menyikapi pandemi ini dengan rasional. Angka angka statistik dan berbagai perkiraan para ahli tentang perkembangan penyebaran virus ini. Banyak yang meramal, bahwa virus akan aman menginveksi populasi sampai 50 persen populasi, contoh kasus populasi Jakarta, jika lambat ditangani atau masyarakat tidak ikut pemerintah. Pembatasan sosial yang diarahkan pemerintah, harus diikuti, sehingga kita bisa mengarah kepada berhentinya wabah ini.

Persebaran wabah coronavirus atau Covid-19 telah membuat seluruh dunia terhenti ketika pemerintah dan organisasi kesehatan bersiap untuk kondisi terburuk, apalagi kita tidak mengindahkan pemerintah. Bisa jadi banyak yang terpapar.

Namun perhitungan biofisikawan pemenang Nobel, memberikan harapan baru bahwa akhir pandemi Korona sudah dekat. Michael Levitt, yang memenangkan Hadiah Nobel Kimia tahun 2013, menganalisis 78 negara yang telah melaporkan lebih dari 50 kasus Covid -19 baru setiap hari dan mengatakan bahwa ia telah melihat “tanda-tanda pemulihan”, demikian dilaporkan harian Israel Calcalist. “Ketika membahas penyakit, itu sangat menakutkan orang karena mereka terus mendengar tentang kasus baru setiap hari. Tetapi fakta bahwa tingkat infeksi melambat berarti akhir pandemi sudah dekat,” katanya. Pada bulan Februari, Levitt telah menulis kepada teman-temannya di Tiongkok bahwa negara itu akan keluar dari fase terburuknya jauh lebih awal daripada yang diklaim oleh para pakar kesehatan global. Pesannya telah menyebar seperti api di Tiongkok dan orang-orang melihat perhitungannya terbukti benar dalam beberapa minggu ke depan. Sekarang, Levitt memiliki dugaan yang sama untuk kasus coronavirus di seluruh dunia. Berbicara kepada Calcalist, profesor Stanford mengatakan bahwa dia mulai mempelajari angka-angka pada 1 Februari. Dia menganalisis dan menghitung jumlah kematian yang dilaporkan setiap hari di Tiongkok, mempelajari pola itu dan membuat dugaan berdasarkan informasi. Levitt memperhatikan bahwa Provinsi Hubei Tiongkok memiliki 1.800 kasus baru setiap hari. Pertumbuhan eksponensial terlihat sampai 6 Februari, tetapi hari berikutnya, “jumlah infeksi baru mulai turun secara linear dan tidak berhenti”. Setelah seminggu, hal yang sama terjadi dengan jumlah kematian. Berdasarkan statistik ini, Levitt memperkirakan pandemi akan kehilangan kekuatannya dalam waktu dua minggu. Sekarang ilmuwan Israel percaya virus itu akan hilang dari Tiongkok pada akhir Maret. Dia menambahkan bahwa jika negara memastikan social distancing atau jarak sosial dan perjalanan minimal, maka sebagian besar akan dapat menyingkirkan wabah virus segera. “Situasi nyata tidak mengerikan seperti yang mereka bayangkan”, tandas Levitt.

Banyaknya, analisis mengenai potensi penyebaran virus ini, Indonesia diuntungkan oleh kondisinya geografis yang terdiri dari pulau pulau. Asal masyarakat dan pemerintah daerah konsisten untuk pembatasan sosial, dimana untuk sementara melarang jangan ada yang keluar masuk ke suatu daerah atau pulau, maka akan mempercepat ramalan Ahli Kimia di atas. Pulau pulau yang sistem kesehatannya relatif minim, sebaiknya pembatasan sosial untuk tidak keluar masuk pulau akan lebih aman. Jika ada yang datang sebaiknya di karantina dua Minggu, sehingga dipastikan bukan membawa virus ke suatu pulau.

Demikian juga dengan pergerakan manusia antar kota, antardesa, sebaiknya dibatasi atau diawasi. Biar virus ini cepat melambat.

Baca Juga Telur dan Virus Corona: Kajian atas Psikologi Massa

Biji Kelor: Apotik Hidup Bagi Warga Desa

 

Pohon Kelor: Makanan Tradisonal Masyarakat Wakatobi

Sumber : firstpost.com

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul “Ahli Biofisika Peraih Nobel: Pandemi Korona Segera Berakhir” 
Penulis: Gora Kunjana
Read more at: https://investor.id/international/ahli-biofisika-peraih-nobel-pandemi-korona-segera-berakhir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *