20 Tahun Tak Pernah di Aspal, Warga La Wele Tanam Pisang Demi Paru-Paru Anak-anak

La Wele, Buton – Sebuah ironi dalam kehidupan, bagaimana tidak? La Wele salah satu desa yang memiliki tambang aspal alam yang ada di dunia, sampai hari ini jalannya belum teraspal. Ada sekitar tiga kilo meter jalan poros Kamaru Bau-bau di titik ini tidak pernah teraspal. Kades La Wele mangatakan bahwa “Seingat saya, jalan ini belum tersentuh aspal sejak dua puluh tahun silam”, ujarnya tadi malam.

Desa yang memiliki tambang aspal alam yang ada di Kabupaten Buton ini, hanya membutuhkan aspal, agar anak-anak kami juga dapat hidup layak, mereka juga butuh udara segar, bukan debu yang menyelimuti hari-hari kami. “Kami ini memiliki aspal alam yang ditambang bertahun-tahun dieksplorasi, kami hanya menuntut agar jalan ini dapat diaspal”, turur salah seorang warga yang ada semalam.

Baca Juga Transformasi Mitos ke Konsep Konservasi Modern: Bank Ikan pada Desa Wisata Kulati (bagian 1)

Setelah sekian tahun menunggu jalan mereka di aspal, akhirnya untuk mengurangi polusi udara yang akan berdampak pada kesehatan anak-anak mereka, warga La Wele menanam pisang dan kelapa di tengah jalan ini. Sementara kades, tidak dapat berbuat apa-apa, karena ini adalah tuntutan atas kerugian yang diakibatkan oleh debu yang telah terjadi selama bertahun-tahun.

Melihat fenomena ini, ada anomali yang terjadi, pertama daerah ini adalah penghasil aspal alam terbesar di dunia, tetapi di jantung desa ini belum pernah teraspal. Setiap harinya, trek yang mengangkut aspal juga lalu lalang, memberi penduduk debu jalanan, sehingga mereka hanya menikmati badai debu setiap hari. Ini adalah dunia yang malang, dunia yang membutuhkan kebijakan pemerintah, baik kabupaten, provinsi maupun pusat. “Kami hanya butuh jalan kami di aspal, artinya, anak-anak kami sudah bisa menghirup udara segar, mereka dapat bermain seperti anak-anak pejabat yang sehat paru-parunya, anak-anak kami juga memiliki harapan, masa depan yang baik, bukan anak-anak yang menderita karena paru-paru yang sakit. Kami berharap dunia dapat mendengarkan derita kami, termasuk pihak Kementrian Kesehatan, Perlindungan Anak dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa kami punya Lambusango, pabrik oksigen, dan anak-anak kami mau menghirupnya, dan bukan debu jalanan.

34667602_319254038609810_3278799018976608256_n
Warga desa La Wele Buton yang mengarapkan anak-anak mereka bisa hidup dengan paru-paru sehat

“Kami memiliki haWapan agar desa La Wele menjadi desa wisata, karena terletak di jalur Wisata alam Lambusango dan taman nasional Wakatobi”. Andaikan jalur kami baik, kami dapat memberikan kontrubisi dalam pengembangan Pariwisata alam dan budaya yang punya potensi yang hebat. “Kami punya wisata air terjun yang banyak dikunjungi oleh peneliti yang ada di Lambusango, kami juga punya hutan sebagai daerah riset. Kami punya pertanian, kami juga punya teluk La Wele yang melegenda, perang La Karambau melawan Belanda di teluk La Wele. Oleh karena itu, infrakstuktur dasar seperti jalan poros ini, perlu di aspal sehingga bisa membantu pengembagan ekonomi rakyat.

Baca Juga Komala Tergenang Air, Butuh Kebijakan Alternatif

Diskusi tengah malam, di desa La Wele ini, tentunya adalah sebuah refleksi dan harapan masa depan, sebuah pengharapan agar anak-anak La Wele bisa tubuh sehat, sesehat anak-anak yang lainnya di dunia. “Ini kan bukan jalan ke kebun kami, ini jalan poros yang penting untuk masyarakat banyak”, tutur kades dengan nada serius, sementara beberapa warga mengiyakan (su001).

Baca Juga Membangun Pemuda Berjiwa Pahlawan, di Hari Bumi

Desa Wisata Kulati Memiliki Fasilitas Home Stay yang Layak Huni

Pentingnya Daun Kelor untuk Buka Puasa